Showing posts with label Islam Sejagat. Show all posts
Showing posts with label Islam Sejagat. Show all posts

Tuesday, July 20, 2010

MeMenteri Imigrasi: Larangan Cadar Bertentangan dengan Karakter Negara Inggris

Setelah larangan jilbab, larangan mengenakan cadar kini sedang menjadi isu Islam yang melanda benua Eropa. Perancis sudah menyatakan larangan mengenakan cadar, setelah sebelumnya memberlakukan larangan berjilbab bagi para muslimah di tempat-tempat umum dan institusi pendidikan.

Di negara tetangga Perancis, Inggris, boleh tidaknya mengenakan cadar masih menjadi kontroversi bahkan di kalangan pejabat pemerintahan negeri itu. Menteri Imigrasi Inggris, Damian Green, termasuk pejabat Inggris yang tidak setuju jika Inggris juga memberlakukan larangan perempuan, khususnya para muslimah, mengenakan cadar. Ia menyatakan, larangan semacam itu sama sekali tidak mencerminkan karakter negara Inggris yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

"Mengatur orang soal apa yang boleh dan tidak boleh mereka kenakan saat mereka berjalan-jalan di luar rumah, adalah tindakan yang tidak sesuai karakter negara Inggris," kata Green pada Sunday Telegraph. "Kita sangat tidak menginginkan parlemen Inggris membuat aturan hukum yang mendikte apa yang harus dikenakan seseorang. Berbeda dengan Perancis, dimana cadar dinyatakan terlarang dikenakan di tempat-tempat umum, Inggris bukan negara sekuler yang agresif," tandas Green. Ia menambahkan, ada situasi-situasi khusus dimana seseorang yang mengenakan cadar boleh diminta untuk melepas cadarnya.

Di Inggris, wacana agar pemerintah Inggris juga mengeluarkan undang-undang yang melarang seseorang mengenakan cadar di tempat-tempat publik, digulirkan oleh anggota parlemen Philip Hollobone. Sebuah survei yang dilakukan di Inggris baru-baru ini menunjukkan dukungan yang luas dari respondennya atas usulan pelarangan cadar. Tapi Green menegaskan, kecil kemungkinan pemerintah Inggris akan menyetujui larangan cadar seperti yang diberlakukan negara Perancis

Menteri Lingkungan Hidup Inggris: Cadar adalah Kemuliaan Kaum Perempuan

Menteri Lingkungan Hidup Inggris, Caroline Spelman menambah jajaran pejabat pemerintah Inggris yang tidak setuju dengan larangan mengenakan cadar bagi kaum perempuan, khususnya para muslimah.

Sebelumnya, Menteri Imigrasi Inggris Damian Green berkomentar bahwa larangan mengenakan cadar tidak selaras dengan karakter negara Inggris yang menjunjung sikap toleransi dan saling menghormati di kalangan masyarakatnya. Ia juga yakin dan tidak mengharapkan parlemen Inggris akan memberlakukan larangan mengenakan cadar seperti yang diberlakukan negara Perancis.

Sejalan dengan pernyataan Green, Menteri Lingkungan Hidup Inggris mengatakan bahwa perempuan yang mengenakan cadar adalah perempuan yang berdaya dan bermartabat. "Mengenakan cadar merupakan pilihan hidup mereka sendiri," kata Caroline di tengah pro kontra larangan cadar yang mulai mencuat di Inggris.

Dalam acara "Sunday Live" di stasiun televisi Sky News, Spelman mengatakan bahwa kaum perempuan berhak memutuskan apa yang ingin dikenakannya dan larangan mengenakan cadar "bukanlah ciri dari negeri ini." Ia juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Afghanistan, yang membuatnya memahami bahwa mengenakan cadar merupakan kemuliaan bagi kaum perempuan.

"Buat mereka, mengenakan cadar memberikan mereka kemuliaan. Itu pilihan mereka sendiri, memilih untuk keluar rumah dengan mengenakan burka (busana muslimah longgar yang menutupi seluruh tubuh dan dilengkapi dengan cadar). Saya memahami ada perbedaan dengan budaya di negara saya, tapi faktanya di Afghanistan kaum perempuan bebas untuk memilih ... apakah akan mengenakan burka atau tidak," tutur Spelman, salah satu menteri senior di kabinet pemerintah Inggris.

"Saya tidak mau, sebagai perempuan tinggal di negeri yang mengatur busana apa yang boleh dan tidak boleh saya kenakan. Salah satu hal yang kita banggakan di negeri ini, adalah kebebasan, diantaranya kebebasan untuk memiih apa yang akan Anda kenakan," tandas Spelman seperti dikutip Daily Telegraph.

"Jadi, melarang cadar sangat bertolak belakang dengan apa yang berlaku di negara ini," sambungnya.

Adalah Philip Hollobone, anggota parlemen Inggris dari kelompok Konservatif yang mengajukan draft undang-undang untuk membatasi setiap orang yang mengenakan penutup wajah di tempat-tempat umum. Hollobone mengatakan, ia akan menolak bertemu dengan muslimah yang mengenakan cadar, kecuali muslimah itu membuka cadarnya.

Sunday, March 14, 2010

Pakar Psikoterapi Atheis Terkenal India Masuk Islam

Seorang ahli psikoterapi terkenal India menyatakan dirinya masuk Islam pada hari Kamis lalu.

Dr. Periyadarshan yang merupakan ahli psikoterapi dan seorang atheis, setelah memeluk agama Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdullah, seperti dilaporkan Arab News pada hari Jumat.

Dr. Abdullah mengatakan dalam salah satu pernyataannya bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang mengikuti kitab suci yang langsung diwahyukan dari Allah SWT.

Dia mengatakan bahwa sebagai orang yang mempelajari perbandingan agama, ia meyakini bahwa kitab-kitab suci dari agama lain tidak secara langsung di wahyukan Allah kepada manusia. Dia menambahkan bahwa hanya Al-Quran lah kitab suci yang masih dalam format yang sama seperti yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW dari Allah SWT.

Dr. Abdullah adalah seorang dosen tamu di Universitas California Los Angeles. Dia juga sempat bermain dalam film Tamil terkenal berjudul "Karuthamma", sebuah film yang berkisah tentang peristiwa pembunuhan bayi perempuan yang baru lahir yang banyak terjadi di beberapa desa-desa terpencil di India.

"Saya terkenal di India sebagai seseorang yang berteologi Atheis dan saya kemudian menjadi sadar bahwa hanya agamalah satu-satunya jalan keluar bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dr. Abdullah direncanakan Sabtu kemarin (13/3) akan melaksanakan ibadah umroh pertamanya ke kota-kota suci Makkah dan Madinah

Wednesday, March 3, 2010

Imam Muslim Pimpin Doa di Kongres AS

Pembimbing rohani di Universitas Duke, Imam Abdullah Antepli diberi kesempatan untuk membacakan doa pembuka di Kongres AS, Rabu (3/3) Tradisi membacakan doa pembuka sebelum para anggota Kongres bersidang dimulai sejak tahun 1789, tapi selama itu pula baru tiga kali pembacaan doa pembuka dipimpin oleh seorang imam Muslim, termasuk Antepli.

Antepli mengatakan, kesempatan yang diberikan pada pemuka agama Islam untuk memimpin doa pembuka di Kongres merupakan saat yang tepat karena Muslim dan Islam sekarang sedang menjadi pusat perhatian di AS.

"Berita bahwa seorang Imam Muslim membacakan doa pembuka di Kongres ibarat udara segar. Hal ini meringankan beban dalam hati dan pikiran banyak warga Muslim yang terluka dengan kenyataan yang mereka alami pasca serangan 11 September 2001," ujar Imam Antepli.

Pasca serangan itu, banyak warga Muslim di AS yang jumlahnya dipekirakan mencapai 7 sampai 8 juta jiwa, mengalami diskriminasi atau dicurigai yang melanggar hak-hak sipil mereka.

Anggota Kongres, David Price dari North Carolina memuji Antepli yang juga pendiri serta anggota eksekutif Muslim Chaplain Association dan anggota National Association of College and University Chaplains.

"Selama dua tahun pengabdiannya sebagai pembimbing rohani bagi Muslim di Universitas Duke, ia sudah melakukan banyak prestasi dalam menyebarkan perbedaan dan saling pemahaman. Suatu kehormatan besar, dia ada di sini untuk membawakan doa pembuka," puji Price pada Antepli.

Aula Kongres hari itu penuh dengan warga masyarakat Muslim dan para pimpinan organisasi Muslim yang sengaja datang untuk menyaksikan Antepli membacakan doa. Salah seorang muslimah, Aisha Yasin mengaku hatinya bergetar bahagia menyaksikan seorang Muslim membawakan doa di Kongres.

"Mengagumkan. Perasaan saya senang melihat seorang Muslim dilibatkan dalam sebuah tradisi yang sudah mengurat akar dalam sejarah Amerika," ungkap Aisha.

Pemuka Muslim dari Islamic Society of North America (ISNA), Dr. Mohamed El Sanusi juga sangat terkesan melihat moment yang jarang sekali terjadi di Kongres AS, kemarin. "Peristiwa ini sangat penting bagi komunitas Muslim, mereka akan merasa bangga karena merasa sudah diikutsertakan dalam masyarakat," kata El Sanusi.

"Ini menunjukkan bahwa masih ada harapan, meski apa yang semua telah terjadi, apa yang ditulis media tentang Muslim. Muslim merupakan bagian dari rakyat AS dan itu tak terbantahkan," sambungnya.

Antepli membuka doanya di hadapan Kongres AS dengan ucapan salam "Assalamu'alaikum." Dalam doanya ia meminta agar Allah memberikan sinar penerang bagi seluruh anggota Kongres.

"Ya ... Allah segala bangsa, berikanlah kebaikan pada Kongres yang terhormat ini. Lindungilah para pembuat keputusan penting ini dengan cahayaMu. Jadilah sumber kekuatan dan ketengangan yang membuat mereka mampu melayaniMu dan memuliakan namaMu, dengan cara melayani rakyat dari bangsa yang besar ini dan kepada seluruh umat manusia tanpa memandang jenis kelamin, etnis atau agamanya," demikian potongan doa Antepli.

Tuesday, March 2, 2010

Islamofobia Adalah Kejahatan Terhadap Kemanusiaan!

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dengan tegas bahwa, "Seperti anti-Semitisme dan rasisme, Islamofobia adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Hal ini sama sekali salah untuk melibatkan semua orang Islam marjinal untuk bertindak."

Berbicara pada acara makan malam dengan wakil-wakil dari organisasi non-pemerintah yang dibentuk oleh kelompok kerabat, Perdana Menteri Turki ini mengutuk serangan rasis terhadap warga negara Turki dan kerabat di negara-negara Eropa.

"Ini tidak adil dan bahkan ilegal untuk bertindak dengan prasangka dan mengucilkan sebagian orang karena pakaian mereka, cara mereka hidup dan keyakinan agama mereka. Kita tidak bisa mentolerir itu dengan cara apapun. Setiap menyinggung sikap, pernyataan dan kebijakan terhadap umat Islam tidak dapat disembunyikan di balik alasan kebebasan berekspresi," katanya."Turki telah membuat kemajuan yang signifikan dalam proses Uni Eropa. Kami telah mempertahankan perundingan aksesi dengan tekad besar. Di sisi lain, ada hampir 5,5 juta orang Turki yang tinggal di negara-negara anggota Uni Eropa. Angka ini lebih tinggi daripada penduduk negara-negara anggota yang lainnya. Orang Tukri memberikan kontribusi yang berharga untuk pembangunan negara-negara yang mereka tinggali," katanya.