Pertarungan antar partai-partai politik dalam kancah skandal Bank Century akhirnya mengerucut pada dua kubu. Kubu partai pendukung bailout yang dipimpin Demokrat di satu sisi, dan kubu partai penentang bailout di sisi yang lain. Dalam menit-menit terakhir menjelang keputusan akhir, adu strategi dua kubu ini kian sengit dan mulai masuk ke ranah publik.
Adu strategi tersebut bisa dibaca publik melalui langkah-langkah kedua kubu yang kian kentara.
Pertama, kubu Demokrat sepertinya mendisain hasil keputusan Pansus menjadi tiga opsi: A yang menilai bahwa keputusan bailout tidak bermasalah, B yang menilai bailout bermasalah tapi bukan pada tingkat kebijakan tapi hanya pada implementasi di tingkat teknis pelaksanaan, dan C yang menilai bailout bermasalah mulai dari tingkat kebijakan hingga pada teknis pelaksaan.
Tiga opsi ini setidaknya akan memecah hasil voting anggota paripurna menjadi tiga bagian. Satu opsi yaitu A, diyakini Demokrat akan solid, sementara opsi B dan C akan memecah kubu penolak bailout menjadi dua bagian. Secara matematis, A bisa sama dengan B tambah C.
Ternyata, strategi ini dimentahkan rapat Pansus melalui lobi-lobi di akhir pembuatan laporan. Ketika sidang Pansus diskor pada jam 19.30 hari Senin, saat itu seluruh fraksi Demokrat sedang mengikuti konsolidasi di kediaman SBY di Cikeas. Dan rapat baru dimulai lagi ketika jam 22 atau 10 malam. Pada jeda itulah, lobi Pansus minus Demokrat menghasilkan kesepakatan. Yaitu, opsi tidak tiga. Tapi, hanya dua: A atau C. Antara yang mendukung bailout dan yang menolak. Rapat pun berakhir pada pukul 00.30, yang sulit dimungkinkan terjadinya lobi antar anggota Pansus. Dan opsi itulah yang akhirnya secara resmi disampaikan ketua pansus di sidang paripurna.
Laporan akhir ini tentu akan menghambat langkah Demokrat dalam memecah suara kubu penolak bailout. Selain itu, dan inilah yang sangat penting, dua opsi ini menjadi pemandangan yang kongkrit kepada publik tentang dua hal yang tidak abu-abu. Yaitu, siapa yang mendukung bailout yang merugikan uang negara, dan siapa yang menentang bailout yang membela kepentingan rakyat.
Pada saat sidang paripurna keputusan akhir Century Selasa pagi, di luar dugaan, Demokrat merujuk keputusan Bamus yang hanya mengagendakan dua acara, pelantikan anggota dari fraksi PAN menjadi wakil ketua DPR, dan pembacaan laporan hasil Pansus. Sidang pun ditutup secara mendadak, tanpa mengikuti prosedur yang lazim.
Langkah ini dilakukan kemungkinan besar untuk memperluas ruang lobi-lobi kubu Demokrat dan pihak pemerintah dengan anggota DPR lintas fraksi yang jarang-jarang bisa berkumpul secara utuh di Jakarta bersamaan dengan agenda sidang paripurna Selasa kemarin. Tidak tertutup kemungkinan, jika voting dilangsungkan, akan ada perbedaan hasil antara pilihan pimpinan fraksi dengan para anggotanya.
Inilah yang sempat terlontar dari anggota fraksi Demokrat, Roy Suryo, dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun televisi. Menurut Roy, skor antar fraksi bisa jadi berbeda dengan hasil voting di anggota fraksi.
Selain itu, penutupan sidang secara mendadak, bisa jadi, merupakan strategi Demokrat untuk memberikan ruang yang luas kepada fraksi-fraksi untuk menyampaikan pemandangan akhir fraksi di paripurna.
Langkah ini kemungkinan besar bisa efektif untuk mengubah hasil laporan pansus tentang dua opsi yang ditawarkan kepada paripurna. Dengan kata lain, kalau tidak bisa mempengaruhi laporan akhir di Pansus, bongkar saja di paripurna melalui pemandangan baru fraksi soal skandal Bank Century. Penundaan keputusan akhir bisa memberikan ruang Demokrat untuk melakukan lobi kepada pimpinan fraksi. Terutama, fraksi partai koalisi yang sejak awal memperlihatkan ketidaktegasan.
Satu hal yang mungkin luput dari perhatian publik soal pelantikan salah seorang wakil ketua DPR yang berasal dari fraksi PAN. Publik paham bahwa ketua umum PAN adalah orang kepercayaan SBY, yaitu Hatta Rajasa. Tidak tertutup kemungkinan, keberadaan wakil ketua baru ini akan memperkuat posisi tawar Demokrat dalam rapat pimpinan DPR. Dan itu terbukti ketika wakil pimpinan mengadakan rapat mendadak usai ricuh sidang paripurna kemarin. Saat itu, Marzuki dan wakil pimpinan baru dari PAN tidak ikut hadir.
Entah disain apa lagi yang akan dilakukan kubu Demokrat dalam paripurna pagi ini. Namun, satu hal yang mungkin dilupakan kubu Demokrat soal penundaan keputusan akhir skandal Century. Yaitu, semakin kuatnya opini publik tentang adanya penutupan skandal di balik bailout Bank Century yang melibatkan mantan gubernur BI yang saat ini menjabat wakil presiden.
Dua stasiun televisi berita di tanah air dan berbagai media massa lain justru memiliki peluang lebih banyak untuk memperlihatkan arogansi kubu Demokrat yang tidak akan dipisahkan dari sosok kepemimpinan SBY. Mungkin saja voting bisa dimenangkan kubu Demokrat, tapi opini publik justru kian membesar untuk menggilas kepemimpinan SBY.
Sebagai sebuah catatan, beberapa rezim di tanah air, bisa tumbang bukan karena kontraksi politik di lembaga resmi seperti DPR dan MPR. Tapi justru di opini publik yang secara efektif memobilisasi ketidakpuasan dan ketidakpercayaan massif terhadap pemerintahan yang ada.
Tuesday, March 2, 2010
Islamofobia Adalah Kejahatan Terhadap Kemanusiaan!
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dengan tegas bahwa, "Seperti anti-Semitisme dan rasisme, Islamofobia adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Hal ini sama sekali salah untuk melibatkan semua orang Islam marjinal untuk bertindak."
Berbicara pada acara makan malam dengan wakil-wakil dari organisasi non-pemerintah yang dibentuk oleh kelompok kerabat, Perdana Menteri Turki ini mengutuk serangan rasis terhadap warga negara Turki dan kerabat di negara-negara Eropa.
"Ini tidak adil dan bahkan ilegal untuk bertindak dengan prasangka dan mengucilkan sebagian orang karena pakaian mereka, cara mereka hidup dan keyakinan agama mereka. Kita tidak bisa mentolerir itu dengan cara apapun. Setiap menyinggung sikap, pernyataan dan kebijakan terhadap umat Islam tidak dapat disembunyikan di balik alasan kebebasan berekspresi," katanya."Turki telah membuat kemajuan yang signifikan dalam proses Uni Eropa. Kami telah mempertahankan perundingan aksesi dengan tekad besar. Di sisi lain, ada hampir 5,5 juta orang Turki yang tinggal di negara-negara anggota Uni Eropa. Angka ini lebih tinggi daripada penduduk negara-negara anggota yang lainnya. Orang Tukri memberikan kontribusi yang berharga untuk pembangunan negara-negara yang mereka tinggali," katanya.
Berbicara pada acara makan malam dengan wakil-wakil dari organisasi non-pemerintah yang dibentuk oleh kelompok kerabat, Perdana Menteri Turki ini mengutuk serangan rasis terhadap warga negara Turki dan kerabat di negara-negara Eropa.
"Ini tidak adil dan bahkan ilegal untuk bertindak dengan prasangka dan mengucilkan sebagian orang karena pakaian mereka, cara mereka hidup dan keyakinan agama mereka. Kita tidak bisa mentolerir itu dengan cara apapun. Setiap menyinggung sikap, pernyataan dan kebijakan terhadap umat Islam tidak dapat disembunyikan di balik alasan kebebasan berekspresi," katanya."Turki telah membuat kemajuan yang signifikan dalam proses Uni Eropa. Kami telah mempertahankan perundingan aksesi dengan tekad besar. Di sisi lain, ada hampir 5,5 juta orang Turki yang tinggal di negara-negara anggota Uni Eropa. Angka ini lebih tinggi daripada penduduk negara-negara anggota yang lainnya. Orang Tukri memberikan kontribusi yang berharga untuk pembangunan negara-negara yang mereka tinggali," katanya.
Dua Waktu Tidur Yang Dilarang Rasul
Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.
Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.
1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh
Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).
2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).
Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”
Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.
1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh
Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).
2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).
Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”
Monday, March 1, 2010
Malam Pertama Kita
Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa
Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu... mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu
Setelah dimandikan.. ,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena sangat terkenal bernama Kafan
Wangian ditaburkan kebaju Kita...
Bahagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. .itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai diarak keliling kampung yang dihadiri tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah longlai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin....
Berwalikan liang lahat..
Saksi-saksinya nisan-nisan. . . yang telah tiba duluan
Siraman air mawar.. pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya.... . tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian,
Tuk mem pertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama yang indah atau meresahkan.. .
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Sang Malaikat lalu bertanya.
Kita tak tahu apakah akan mem peroleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan mem peroleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Saya hampir mem buang email ini namun saya telah diberi kesabaran untuk
mem bacanya terus hingga ke akhir.
Mengapa mudah sekali mem buang email agama tetapi bangga mem "forward"
kan email yang tak senonoh? Astaghfirullah. ..
Marilah mem buat keseimbangan dalam kehidupan kita, sebelum kita menuju
ke "MALAM PERTAMA KITA"
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa
Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu... mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu
Setelah dimandikan.. ,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena sangat terkenal bernama Kafan
Wangian ditaburkan kebaju Kita...
Bahagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. .itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai diarak keliling kampung yang dihadiri tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah longlai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin....
Berwalikan liang lahat..
Saksi-saksinya nisan-nisan. . . yang telah tiba duluan
Siraman air mawar.. pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya.... . tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian,
Tuk mem pertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama yang indah atau meresahkan.. .
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Sang Malaikat lalu bertanya.
Kita tak tahu apakah akan mem peroleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan mem peroleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Saya hampir mem buang email ini namun saya telah diberi kesabaran untuk
mem bacanya terus hingga ke akhir.
Mengapa mudah sekali mem buang email agama tetapi bangga mem "forward"
kan email yang tak senonoh? Astaghfirullah. ..
Marilah mem buat keseimbangan dalam kehidupan kita, sebelum kita menuju
ke "MALAM PERTAMA KITA"
Tuesday, February 23, 2010
Rengekan Yang Membosankan
“Mas, hari ini pulang jam berapa? Dinda minta dijemput ya, dan setelah itu kita ke Giant beli semua keperluan mingguan, ya Mas?” demikian rajuk Dinda pada suaminya yang hanya mengangguk-angguk dibalik handphone. “ Mas, jawab dong, kok diam saja sich”.
“Mas, tahu gak siapa yang ambil minyak wangi Dinda, aduh, kan ada 3 set kecil, kok hilang 2 sich, Mas lihat gak? Apa Mas pindah pindahin, aduh, Mas, kalau mindahin apa-apa bilang dong, Dinda kan jadi repot nih. Mas! bentak Dinda sengit, Mas dengar gak sich, Dinda ngomong apa? Mas kok gitu sich, orang ngomong dicuekin ukhg” rungut Dinda kesal.
Mas, Mas, Mas tahu tidak kawan lamaku yang namanya Irma, dia sekarang hebat banget lho Mas, sudah punya anak lima tapi badannya masih langsing, katanya sich perawatan macam-macam, tapi heran juga ya Mas, kok punya istri secantik Irma, suaminya masih selingkuh juga. Menurut Mas apa suami yang selingkuh itu karena mereka gak tahu bahwa istrinya sudah berjuang sekuat tenaga mengurus anak, mengurus tubuh dan semua itu kan dilakukan untuk suaminya. Menurut Mas, bila suaminya Irma, bla bla bla, tanpa memperdulikan bahwa Mas Ari masih lelah dan baru saja duduk di kursi tamu sepulang dari kantor. Dinda terus saja nyerocos walau tangannya yang lincah tetap mengaduk teh hangat untuk suaminya. Ketika tersadar, Dinda melihat suaminya sudah setengah tertidur dengan kepala mendongak dan dasi yang terlepas dari kemejanya.
“Subhanalloh Mas, Mas Ari kok gitu sich, baru pulang kantor langsung tertidur, mandi dulu Mas, ganti bajunya, capek kan dan berkeringat, demikian jerit kecil Dinda yang sontak membangunkan Mas Ary. Tanpa berkata apa-apa, Mas Ari segera ngeloyor ke kamar mandi dan menikmati guyuran demi guyuran air yang terasa begitu nikmat pada sore itu, yang mana suara istrinya sudah tak terdengar lagi dan yang ada hanyalah kesegaran sesaat. Kemudian digantikan dengan pekikan baru dari Dinda, yang mendapati suaminya keluar dari kamar mandi dengan kaki becek dan membasahi karpet ruang tengah dan itupun tak cukup dengan omelan kecil Dinda yang mendapati teh hangatnya tidak disentuh sedikitpun, serta kue bolu coklat yang Dinda siapkan dari siang hari tergelatak begitu saja dirubung semut. Sementara Mas Ari hanya duduk diam di kursi ruang tengah sambil menonton berita mengenai “Pembebasan Bibit Chandra yang dinyatakan belum terbukti bersalah,” dan lagi-lagi pekikan melenting dari Dinda yang mengajak Mas Ari makan malam, membuat Ari semakin menyadari betapa pulang ke rumah malah membuat dirinya menjadi tidak dapat beristirahat karena tidak adanya ketenangan dan kebebasan dalam beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai, walau menonton berita sore sekalipun.
Kali lain Dinda terus membuat rengekan-rengekan yang pada awalnya disukai Mas Ari, tapi hal itu tak lama, karena rengekan-rengekan manja yang terdengar seperti ketidakberdayaan dari seorang wanita bernama Dinda. Sewaktu pacaran dulu terdengar menyenangkan, ditambah lagi dengan suara yang nampaknya mendayu dayu, menggemaskan dan membuat mas Ari seperti sangat dibutuhkan. Rengekan itu tidak begitu mengganggu, namun ketika kesibukan Mas Ari semakin banyak dan waktu seakan sangat kurang buat mencukupi seluruh keinginan sang istri, Maka rengekan manja itu malah membuat suaminya menjadi lelah dan kesal. Apalagi terkadang rengekan itu disampaikan dengan wajah cemberut, berbau tuduhan dan penuh bumbu yang berlebihan, sehingga hal ini lambat laun menimbulkan kebosanan dan kejenuhan pada Mas Ari, yang bila dibiarkan akan membuat Mas Ari merasa malas berada di dekat Dinda.
Bila rengekan dan semua keluh kesah Dinda disampaikan pada saat yang tidak tepat, seperti suami baru pulang kerja, atau suami sedang menghadapi masalah yang sangat pelik, atau mungkin juga dikala suami sedang sangat lelah, Maka sebagai seorang istri Dinda harus pandai untuk menjadikan rengekan itu sebagai sesuatu kekuatan bagi sang suami untuk melindungi bukan sebagai suatu beban, yang bila diteruskan, Maka rengekan yang mebosankan itu akan membuat para suami merasa tidak nyaman di rumah, dan naudzubillahimin dzalika, akan membuat para suami mencari kenyaman diluar, dan ketahuilah bahwa hal itu: sangat, berbahaya, saudara-saudar
“Mas, tahu gak siapa yang ambil minyak wangi Dinda, aduh, kan ada 3 set kecil, kok hilang 2 sich, Mas lihat gak? Apa Mas pindah pindahin, aduh, Mas, kalau mindahin apa-apa bilang dong, Dinda kan jadi repot nih. Mas! bentak Dinda sengit, Mas dengar gak sich, Dinda ngomong apa? Mas kok gitu sich, orang ngomong dicuekin ukhg” rungut Dinda kesal.
Mas, Mas, Mas tahu tidak kawan lamaku yang namanya Irma, dia sekarang hebat banget lho Mas, sudah punya anak lima tapi badannya masih langsing, katanya sich perawatan macam-macam, tapi heran juga ya Mas, kok punya istri secantik Irma, suaminya masih selingkuh juga. Menurut Mas apa suami yang selingkuh itu karena mereka gak tahu bahwa istrinya sudah berjuang sekuat tenaga mengurus anak, mengurus tubuh dan semua itu kan dilakukan untuk suaminya. Menurut Mas, bila suaminya Irma, bla bla bla, tanpa memperdulikan bahwa Mas Ari masih lelah dan baru saja duduk di kursi tamu sepulang dari kantor. Dinda terus saja nyerocos walau tangannya yang lincah tetap mengaduk teh hangat untuk suaminya. Ketika tersadar, Dinda melihat suaminya sudah setengah tertidur dengan kepala mendongak dan dasi yang terlepas dari kemejanya.
“Subhanalloh Mas, Mas Ari kok gitu sich, baru pulang kantor langsung tertidur, mandi dulu Mas, ganti bajunya, capek kan dan berkeringat, demikian jerit kecil Dinda yang sontak membangunkan Mas Ary. Tanpa berkata apa-apa, Mas Ari segera ngeloyor ke kamar mandi dan menikmati guyuran demi guyuran air yang terasa begitu nikmat pada sore itu, yang mana suara istrinya sudah tak terdengar lagi dan yang ada hanyalah kesegaran sesaat. Kemudian digantikan dengan pekikan baru dari Dinda, yang mendapati suaminya keluar dari kamar mandi dengan kaki becek dan membasahi karpet ruang tengah dan itupun tak cukup dengan omelan kecil Dinda yang mendapati teh hangatnya tidak disentuh sedikitpun, serta kue bolu coklat yang Dinda siapkan dari siang hari tergelatak begitu saja dirubung semut. Sementara Mas Ari hanya duduk diam di kursi ruang tengah sambil menonton berita mengenai “Pembebasan Bibit Chandra yang dinyatakan belum terbukti bersalah,” dan lagi-lagi pekikan melenting dari Dinda yang mengajak Mas Ari makan malam, membuat Ari semakin menyadari betapa pulang ke rumah malah membuat dirinya menjadi tidak dapat beristirahat karena tidak adanya ketenangan dan kebebasan dalam beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai, walau menonton berita sore sekalipun.
Kali lain Dinda terus membuat rengekan-rengekan yang pada awalnya disukai Mas Ari, tapi hal itu tak lama, karena rengekan-rengekan manja yang terdengar seperti ketidakberdayaan dari seorang wanita bernama Dinda. Sewaktu pacaran dulu terdengar menyenangkan, ditambah lagi dengan suara yang nampaknya mendayu dayu, menggemaskan dan membuat mas Ari seperti sangat dibutuhkan. Rengekan itu tidak begitu mengganggu, namun ketika kesibukan Mas Ari semakin banyak dan waktu seakan sangat kurang buat mencukupi seluruh keinginan sang istri, Maka rengekan manja itu malah membuat suaminya menjadi lelah dan kesal. Apalagi terkadang rengekan itu disampaikan dengan wajah cemberut, berbau tuduhan dan penuh bumbu yang berlebihan, sehingga hal ini lambat laun menimbulkan kebosanan dan kejenuhan pada Mas Ari, yang bila dibiarkan akan membuat Mas Ari merasa malas berada di dekat Dinda.
Bila rengekan dan semua keluh kesah Dinda disampaikan pada saat yang tidak tepat, seperti suami baru pulang kerja, atau suami sedang menghadapi masalah yang sangat pelik, atau mungkin juga dikala suami sedang sangat lelah, Maka sebagai seorang istri Dinda harus pandai untuk menjadikan rengekan itu sebagai sesuatu kekuatan bagi sang suami untuk melindungi bukan sebagai suatu beban, yang bila diteruskan, Maka rengekan yang mebosankan itu akan membuat para suami merasa tidak nyaman di rumah, dan naudzubillahimin dzalika, akan membuat para suami mencari kenyaman diluar, dan ketahuilah bahwa hal itu: sangat, berbahaya, saudara-saudar
Buku Penyebab Indonesia Dijajah Belanda 3,5 Abad
Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595. Inilah kisahnya:
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.
Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.
Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.
Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.
Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.
Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.
Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.
Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.
Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.
Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.
Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.
Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.
Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.
Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.
Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.
Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.
Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.
Thursday, February 4, 2010
Cinta...siramilah ia biar subur!
Ah, cinta itu boleh tumbuh, subur dan berbuah. Cinta juga boleh lumpuh, terkubur dan musnah. Ramai pasangan yang berkahwin, tetapi tidak sampai setahun, cintanya patah. Ada juga yang berkahwin, berpura-pura bahagia. Akhirnya kecundang, berpisah di usia senja. Namun lebih ramai yang terus berkahwin, namun rumah tangganya bagai pusara… tidak ada cinta, jauh sekali bahagia. Jika terdetik sahaja di dalam hati, “Aku tidak berpisah dengannya (pasangan kita) hanya kerana anak-anak…” itu petanda bahaya. Selalu kita diingatkan “hadiah” termahal untuk anak-anak ialah mencintai ayah atau ibunya (isteri atau suami kita). Jadi, jangan sekali-kali kematian cinta. Bina dan binalah lagi walaupun bagaimana perit dan deritanya. Satu kebaikan perlu dimulakan berkali-kali. Jangan terperangkap dalam ilusi kesempurnaan. Jadi, binalah cinta berkali-kali. Walaupun sukar sungguh mencari ”kerana-kerana”nya lagi, tapi jangan putus asa. Cari dan binalah kerana yang baru. Jangan jemu. Berilah dan teruslah memberi. Insya-Allah, akan terpinggir juga akhirnya rasa benci, jemu dan letih oleh karenah, kekurangan atau “keburukan” pasangan kita. Ingat selalu, terlalu banyak “sebab” untuk menyintai, berbanding sebab untuk membenci! Jangan cepat berubah hati. Bila “kerana-kerana” yang lain sudah hilang dan terasa tiada sebab untuknya mencintai lagi, ketahuilah itulah permulaan CINTA sejati. Itulah cinta tanpa syarat yang terlalu mahal harganya. Kata hukama, “di kala manusia hilang segala-galanya, maka ketika itulah dia menemui siapa dirinya yang sebenar.”
Cintailah pasangan kita kerana Allah. Ikhlaslah dalam bercinta. Inilah yang akan mengekalkan rasa cinta selepas perkahwinan. Jangan terikat dengan cinta yang murah – yakni cinta berbentuk “maddiah” (fizikal dan material). Jangan diteladani syaitan yang terlalu materailistik, yang merasakan dirinya yang tercipta daripada api lebih baik dari Adam yang tercipta dari tanah. Syaitan terlalu material. Sebaliknya, mulianya Adam kerana ilmu dan ketaatannya kepada Allah. Cinta kita jangan berpusatkan materail dan fizikal! Saya pernah terdengar kata yang pesimis, perkahwinan itu adalah pusara cinta. Semakin bertambah usia perkahwinan, kata mereka, semakin tipis rasa cinta. Tidak ada lagi kemanisan, kehangatan dan keharmonian seperti yang pernah dirasakan sebelum bernikah dahulu. Segala-galanya menjadi semakin suram dan bungkam… seakan-akan pusara. Hakikatnya, dakwaan di atas adalah satu bentuk tipuan syaitan untuk menghindarkan manusia daripada perkahwinan. Agar dengan itu, kebanyakan manusia tertipu untuk beranggapan bahawa kemanisan cinta hanya dapat dinikmati dalam lembah dosa pergaulan bebas dan perzinaan. Namun kita lebih tertarik dengan kata yang optimis – perkahwinan itu adalah kebun cinta. Semakin lama berkahwin, semakin menebal dan mendalam rasa cinta. Akan ada kemanisan, keharmonian dan ketenangan sepanjang kembara mengharungi kehidupan berumah tangga.
Dalam alam rumah tangga, pasti ada kesusahannya tetapi ada juga kesenangannya. Ada kepahitan, namun kemanisan yang seiringannya juga lebih banyak. Susah-susah pun dijanjikan pahala. Inilah janji Islam, yang menegaskan ada “syurga” di dunia. Di mana lagi? Kalau bukan di dalam rumah tangga kita – Baiti Jannati! Apa yang harus dilakukan untuk menjadikan perkahwinan itu sebagai kebun cinta bukan pusara? Salah satu caranya ialah dengan menjaga perasaan, sama ada perasaan kita sendiri dan perasan pasangan kita. Cinta itu berkait rapat dengan perasaan. Sering disebut “perasaan” cinta bukan “fikiran” cinta. Maka menjaga perasaan samalah dengan menjaga cinta. Perasaan adalah bayangan fikiran. Jika fikiran kita positif, perasaan kita akan gembira. Sebaliknya, apabila perasaan kita sedih, marah atau kecewa, fikiran kita juga negatif. Justeru, dengan menjaga perasaan, bererti kita juga menjaga fikiran kita. Perasaan dan fikiran itu saling berkaitan. Perasaan itu umpama nyala api manakala fikiran itu adalah unggunnya.
Dalam sebuah rumah tangga, perasaan suami isteri mesti selalu gembira dan fikiran mesti sentiasa positif. Mengapa ini penting? Jawabnya, fikiran yang positif akan melahirkan tindakan, tingkah laku dan respons yang positif juga. Rumah tangga adalah wadah berlakunya pelbagai keadaan, insiden dan kejadian. Yang pahit dan manis akan datang bersilih ganti. Rumah tangga akan sentiasa teruji. Bagaimana suami dan isteri bertindak (memberi respons) terhadap rangsangan-rangsangan ini? Ini semua bergantung pada fikiran dan perasaan mereka ketika berdepan dengan rangsangan-rangsangan itu. Satu perkara atau situasi yang sama tetapi dihadapi oleh dua orang yang berbeza akan memberi impak yang berbeza bergantung pada fikiran mereka. Bila dicaci misalnya, bagi mereka yang berfikiran negatif akan menganggap itu satu penghinaan. Sebaliknya, bagi yang berfikiran positif menganggap itu sebagai cabaran untuk bertindak dengan lebih baik. Kesannya, yang berfikiran negatif bertindak secara destruktif (meruntuh) – menghina balik, berdendam atau susah hati. Manakala yang berfikiran positif akan bertindak konstruktif (membina) – sabar, muhasabah diri dan melupakan. Tindakan-tindakan yang konstruktif akan menyuburkan cinta. Manakala tindakan destruktif akan “menguburkan” cinta.
Jika cinta itu umpama sebuah kebun… maka adalah lebih mudah untuk memiliki sebuah kebun berbanding menjaga kebun itu agar sentiasa subur dan tidak dimusnahkan oleh haiwan perosak. Justeru, amat penting pasangan suami isteri menjaga perasaan masing-masing. Jagalah perasaan sendiri agar ceria selalu. Insya-Allah keceriaan itu akan memudahkan kita menjaga perasaan pasangan kita. Orang yang gembira selalunya dapat menggembirakan orang lain. Hindarilah rasa benci, marah, kecewa, sayu dan putus asa. Tetapi jika kekadang rasa-rasa negatif itu timbul jua, bermujahadahlah untuk memeranginya. Jangan sekali-kali dibiarkan menetap lama-lama di hati kita. Ia umpama serangga perosak yang boleh memusnahkan kebun cinta kita. Inilah rahsia kesuburan “kebun cinta’. Bila kebun cinta kedua suami-isteri telah subur, insya-Allah seluruh isi rumah (anak-anak, pembantu rumah dan siapa sahaja yang tinggal sebumbung dengan mereka) akan turut merasa teduh oleh rimbun daun-daunnya dan akan dapat pula merasakan keenakan buah-buahnya.
Orang yang penuh dengan rasa cinta umpama bunga yang harum. Ia sentiasa menyebarkan “keharumannya”. Apakah yang harus dilakukan agar perasaan selalu ceria atau gembira? Mungkin untuk merasa gembira lebih mudah jika memang ada sesuatu, seseorang atau keadaan yang boleh menggembirakan. Kalau ada suatu insiden atau kejadian yang melucukan… kita tertawa, gembira. Jika ada orang memberikan hadiah, kita gembira. Namun bagaimana jika semua itu tidak ada? Maksudnya, tidak ada seseorang, keadaan, perkara atau benda pun yang boleh menggembirakan kita? Pendek kata, sumber kegembiraan langsung tidak ada. Bagaimana? Jawabnya, jadilah sumber kegembiraan itu sendiri! Maksudnya, jadikanlah diri kita sebab untuk orang lain gembira. Bagaimanakah caranya? Carilah orang lain dan gembirakan dia. Siapakah dia itu? Siapa lagi kalau bukan pasangan kita. Sentiasalah berfikir, berusaha dan melakukan apa sahaja yang boleh menggembirakan pasangan kita. Insya-Allah, kegembiraan yang kita berikan kepadanya akan kembali kepada kita semula. Pepatah Cina ada mengungkapkan, tangan yang menghulur bunga mawar pasti akan berbau harum. Bijak pandai juga berkata“what goes around, comes around.” Ya, hulurkanlah “bunga mawar” kepada pasangan kita, setiap hari, setiap masa. Insya-Allah, sebelum pasangan kita mencium keharumannya, tangan kita yang menghulurkannya akan berbau harum terlebih dahulu. Bunga mawar itu simbolik kepada kebaikan. Maksud menghulurkan bunga mawar itu ialah buatlah kebaikan kepada pasangan kita – tidak kira sama ada kecil atau besar.
Kebaikan itu umpama baja kepada kebun cinta kita. Teringat apa yang dikatakan oleh A’id Al Qarni dalam bukunya “La Tahzan”, “orang yang pertama merasakan nikmat kebaikan ialah orang yang melakukannya!” Ertinya, sesiapa yang berusaha menjadi sumber kegembiraan (dengan terlebih dahulu berbuat baik), maka dialah yang akan menikmati kebaikan itu sebelum orang yang ditujukan akan kebaikan itu merasa gembira. Bukankah sering dipesankan, dengan menyalakan lilin orang lain, lilin kita tidak akan padam, malah kita akan mendapat lebih banyak cahaya? Suami yang menggembirakan isterinya akan gembira dan begitulah sebaliknya. Saya ulangi, langkah paling utama menjaga kesuburan kebun cinta berusahalah selalu menggembirakan pasangan kita. Berbagai-bagai cara, aktiviti, perkara dan usaha boleh dilakukan untuk itu. Jangan kebuntuan jalan. Jangan ketandusan idea. Percayalah, bila hati sudah “mahu” kreativiti dan inovasi akan timbul dengan sendirinya. Jadilah “tukang kebun” cinta yang rajin dan setia.
Kata bijak pandai, dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang mempunyai tujuan. Orang yang sudah mempunyai tujuan, umpama air yang sedang mengalir, tidak payah ditunjukkan ke arah mana hendak mengalir. Air itu tahu dengan sendirinya! Begitulah juga suami atau isteri, jika mereka memang tukang kebun cinta yang setia, tidak payah diajar untuk mengairi, membajai dan menjaga kebun cintanya. Kaedah pertama untuk menjaga perasaan ialah dengan memberi senyuman. Berilah senyuman kepada isteri atau suami kita. Senyuman itu ada dua jenis. Pertama, kerana gembira. Kedua, kerana ingin menggembirakan. Kalau senyum kerana gembira, itu biasa-biasa sahaja. Siapa pun akan tersenyum jika ada sesuatu yang lucu atau menyenangkan. Senyuman jenis ini, kurang nilainya. Senyuman yang luar biasa dan mahal harganya ialah senyuman untuk menggembirakan orang lain. Sungguh pun ada kalanya dalam hati sendiri bergelojak dengan masalah, badan sendiri sedang sakit, diri sedang letih, tetapi demi pasangan di depan mata kita senyumlah jua. Bukan kerana gembira tetapi ingin menggembirakan. Wah, itu payah. Namun kerana Allah, demi cintakan isteri atau untuk mentaati suami, kita tersenyum juga… Inilah jenis senyuman yang dikaitkan dengan iman, yang disamakan dengan satu sedekah. Rugikah kita dengan senyuman itu? Tidak. Insya-Allah, niat kita untuk menggembirakan pasangan kita akan dibalas oleh Allah dengan kegembiraan yang setara atau yang lebih lagi. Kedua, berilah salam. Jangan anggap salam itu hanya diberikan ketika hendak memasuki rumah atau ketika hendak bertemu dan berpisah sahaja. Pada hal salam boleh dihulurkan sebaik ingin tidur atau bangun dari tidur. Hulurkan salam dan senyuman waktu pertama kali bertentang mata selepas bangun dari tidur atau sebelum menutup mata untuk tidur. Atau jika bersua semula setelah sudah agak lama berada di tingkat atas (jika rumah dua tingkat) atau di bilik yang lain. Ketiga, berjabat tangan. Budayakan isteri berjabat dan mencium tangan suami ketika mula bertemu atau hendak berpisah. Begitu juga para suami, jangan sekali-kali kedekut untuk menghulurkan tangan buat bersalaman. Jika terasa bersalah, cepatlah meminta maaf dengan menghulurkan salam. Bila dihulurkan tangan, jangan pula ego untuk tidak menyambutnya. Maafkanlah pasangan kita, bukan dengan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan yakni dengan cara berjabat salam.
Kesimpulannya, ingatlah tiga perkara yang akan menyuburkan kebun cinta kita – mengucapkan salam, memberi senyuman dan sering berjabat tangan. Salam itu umpama “baja”, senyuman itu umpama “air” dan berjabat tangan itu umpama cahaya di kebun cinta kita. Insya-Allah, jika kebun cinta kita selalu diairi, dibajai dan diberikan cahaya, maka perasaan kita akan selalu gembira, fikiran kita akan positif dan tindakan-tindakan kita akan sentiasa membuahkan kebaikan. Dan itulah antara resipi “baiti jannati”. Sekiranya, cintamu hampir menjadi pusara… tafakurlah sejenak di atasnya. Cari kembali dirimu dan dirinya. Bermulalah langkah “menghidupkan” semula cinta itu daripada dirimu sendiri. Dalam pencarian itu hendaklah selalu diingat… carilah di tempat dimana kita kehilangannya. Justeru, kita akan hanya menemuinya semula di tempat yang kita kehilangannya!
Cintailah pasangan kita kerana Allah. Ikhlaslah dalam bercinta. Inilah yang akan mengekalkan rasa cinta selepas perkahwinan. Jangan terikat dengan cinta yang murah – yakni cinta berbentuk “maddiah” (fizikal dan material). Jangan diteladani syaitan yang terlalu materailistik, yang merasakan dirinya yang tercipta daripada api lebih baik dari Adam yang tercipta dari tanah. Syaitan terlalu material. Sebaliknya, mulianya Adam kerana ilmu dan ketaatannya kepada Allah. Cinta kita jangan berpusatkan materail dan fizikal! Saya pernah terdengar kata yang pesimis, perkahwinan itu adalah pusara cinta. Semakin bertambah usia perkahwinan, kata mereka, semakin tipis rasa cinta. Tidak ada lagi kemanisan, kehangatan dan keharmonian seperti yang pernah dirasakan sebelum bernikah dahulu. Segala-galanya menjadi semakin suram dan bungkam… seakan-akan pusara. Hakikatnya, dakwaan di atas adalah satu bentuk tipuan syaitan untuk menghindarkan manusia daripada perkahwinan. Agar dengan itu, kebanyakan manusia tertipu untuk beranggapan bahawa kemanisan cinta hanya dapat dinikmati dalam lembah dosa pergaulan bebas dan perzinaan. Namun kita lebih tertarik dengan kata yang optimis – perkahwinan itu adalah kebun cinta. Semakin lama berkahwin, semakin menebal dan mendalam rasa cinta. Akan ada kemanisan, keharmonian dan ketenangan sepanjang kembara mengharungi kehidupan berumah tangga.
Dalam alam rumah tangga, pasti ada kesusahannya tetapi ada juga kesenangannya. Ada kepahitan, namun kemanisan yang seiringannya juga lebih banyak. Susah-susah pun dijanjikan pahala. Inilah janji Islam, yang menegaskan ada “syurga” di dunia. Di mana lagi? Kalau bukan di dalam rumah tangga kita – Baiti Jannati! Apa yang harus dilakukan untuk menjadikan perkahwinan itu sebagai kebun cinta bukan pusara? Salah satu caranya ialah dengan menjaga perasaan, sama ada perasaan kita sendiri dan perasan pasangan kita. Cinta itu berkait rapat dengan perasaan. Sering disebut “perasaan” cinta bukan “fikiran” cinta. Maka menjaga perasaan samalah dengan menjaga cinta. Perasaan adalah bayangan fikiran. Jika fikiran kita positif, perasaan kita akan gembira. Sebaliknya, apabila perasaan kita sedih, marah atau kecewa, fikiran kita juga negatif. Justeru, dengan menjaga perasaan, bererti kita juga menjaga fikiran kita. Perasaan dan fikiran itu saling berkaitan. Perasaan itu umpama nyala api manakala fikiran itu adalah unggunnya.
Dalam sebuah rumah tangga, perasaan suami isteri mesti selalu gembira dan fikiran mesti sentiasa positif. Mengapa ini penting? Jawabnya, fikiran yang positif akan melahirkan tindakan, tingkah laku dan respons yang positif juga. Rumah tangga adalah wadah berlakunya pelbagai keadaan, insiden dan kejadian. Yang pahit dan manis akan datang bersilih ganti. Rumah tangga akan sentiasa teruji. Bagaimana suami dan isteri bertindak (memberi respons) terhadap rangsangan-rangsangan ini? Ini semua bergantung pada fikiran dan perasaan mereka ketika berdepan dengan rangsangan-rangsangan itu. Satu perkara atau situasi yang sama tetapi dihadapi oleh dua orang yang berbeza akan memberi impak yang berbeza bergantung pada fikiran mereka. Bila dicaci misalnya, bagi mereka yang berfikiran negatif akan menganggap itu satu penghinaan. Sebaliknya, bagi yang berfikiran positif menganggap itu sebagai cabaran untuk bertindak dengan lebih baik. Kesannya, yang berfikiran negatif bertindak secara destruktif (meruntuh) – menghina balik, berdendam atau susah hati. Manakala yang berfikiran positif akan bertindak konstruktif (membina) – sabar, muhasabah diri dan melupakan. Tindakan-tindakan yang konstruktif akan menyuburkan cinta. Manakala tindakan destruktif akan “menguburkan” cinta.
Jika cinta itu umpama sebuah kebun… maka adalah lebih mudah untuk memiliki sebuah kebun berbanding menjaga kebun itu agar sentiasa subur dan tidak dimusnahkan oleh haiwan perosak. Justeru, amat penting pasangan suami isteri menjaga perasaan masing-masing. Jagalah perasaan sendiri agar ceria selalu. Insya-Allah keceriaan itu akan memudahkan kita menjaga perasaan pasangan kita. Orang yang gembira selalunya dapat menggembirakan orang lain. Hindarilah rasa benci, marah, kecewa, sayu dan putus asa. Tetapi jika kekadang rasa-rasa negatif itu timbul jua, bermujahadahlah untuk memeranginya. Jangan sekali-kali dibiarkan menetap lama-lama di hati kita. Ia umpama serangga perosak yang boleh memusnahkan kebun cinta kita. Inilah rahsia kesuburan “kebun cinta’. Bila kebun cinta kedua suami-isteri telah subur, insya-Allah seluruh isi rumah (anak-anak, pembantu rumah dan siapa sahaja yang tinggal sebumbung dengan mereka) akan turut merasa teduh oleh rimbun daun-daunnya dan akan dapat pula merasakan keenakan buah-buahnya.
Orang yang penuh dengan rasa cinta umpama bunga yang harum. Ia sentiasa menyebarkan “keharumannya”. Apakah yang harus dilakukan agar perasaan selalu ceria atau gembira? Mungkin untuk merasa gembira lebih mudah jika memang ada sesuatu, seseorang atau keadaan yang boleh menggembirakan. Kalau ada suatu insiden atau kejadian yang melucukan… kita tertawa, gembira. Jika ada orang memberikan hadiah, kita gembira. Namun bagaimana jika semua itu tidak ada? Maksudnya, tidak ada seseorang, keadaan, perkara atau benda pun yang boleh menggembirakan kita? Pendek kata, sumber kegembiraan langsung tidak ada. Bagaimana? Jawabnya, jadilah sumber kegembiraan itu sendiri! Maksudnya, jadikanlah diri kita sebab untuk orang lain gembira. Bagaimanakah caranya? Carilah orang lain dan gembirakan dia. Siapakah dia itu? Siapa lagi kalau bukan pasangan kita. Sentiasalah berfikir, berusaha dan melakukan apa sahaja yang boleh menggembirakan pasangan kita. Insya-Allah, kegembiraan yang kita berikan kepadanya akan kembali kepada kita semula. Pepatah Cina ada mengungkapkan, tangan yang menghulur bunga mawar pasti akan berbau harum. Bijak pandai juga berkata“what goes around, comes around.” Ya, hulurkanlah “bunga mawar” kepada pasangan kita, setiap hari, setiap masa. Insya-Allah, sebelum pasangan kita mencium keharumannya, tangan kita yang menghulurkannya akan berbau harum terlebih dahulu. Bunga mawar itu simbolik kepada kebaikan. Maksud menghulurkan bunga mawar itu ialah buatlah kebaikan kepada pasangan kita – tidak kira sama ada kecil atau besar.
Kebaikan itu umpama baja kepada kebun cinta kita. Teringat apa yang dikatakan oleh A’id Al Qarni dalam bukunya “La Tahzan”, “orang yang pertama merasakan nikmat kebaikan ialah orang yang melakukannya!” Ertinya, sesiapa yang berusaha menjadi sumber kegembiraan (dengan terlebih dahulu berbuat baik), maka dialah yang akan menikmati kebaikan itu sebelum orang yang ditujukan akan kebaikan itu merasa gembira. Bukankah sering dipesankan, dengan menyalakan lilin orang lain, lilin kita tidak akan padam, malah kita akan mendapat lebih banyak cahaya? Suami yang menggembirakan isterinya akan gembira dan begitulah sebaliknya. Saya ulangi, langkah paling utama menjaga kesuburan kebun cinta berusahalah selalu menggembirakan pasangan kita. Berbagai-bagai cara, aktiviti, perkara dan usaha boleh dilakukan untuk itu. Jangan kebuntuan jalan. Jangan ketandusan idea. Percayalah, bila hati sudah “mahu” kreativiti dan inovasi akan timbul dengan sendirinya. Jadilah “tukang kebun” cinta yang rajin dan setia.
Kata bijak pandai, dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang mempunyai tujuan. Orang yang sudah mempunyai tujuan, umpama air yang sedang mengalir, tidak payah ditunjukkan ke arah mana hendak mengalir. Air itu tahu dengan sendirinya! Begitulah juga suami atau isteri, jika mereka memang tukang kebun cinta yang setia, tidak payah diajar untuk mengairi, membajai dan menjaga kebun cintanya. Kaedah pertama untuk menjaga perasaan ialah dengan memberi senyuman. Berilah senyuman kepada isteri atau suami kita. Senyuman itu ada dua jenis. Pertama, kerana gembira. Kedua, kerana ingin menggembirakan. Kalau senyum kerana gembira, itu biasa-biasa sahaja. Siapa pun akan tersenyum jika ada sesuatu yang lucu atau menyenangkan. Senyuman jenis ini, kurang nilainya. Senyuman yang luar biasa dan mahal harganya ialah senyuman untuk menggembirakan orang lain. Sungguh pun ada kalanya dalam hati sendiri bergelojak dengan masalah, badan sendiri sedang sakit, diri sedang letih, tetapi demi pasangan di depan mata kita senyumlah jua. Bukan kerana gembira tetapi ingin menggembirakan. Wah, itu payah. Namun kerana Allah, demi cintakan isteri atau untuk mentaati suami, kita tersenyum juga… Inilah jenis senyuman yang dikaitkan dengan iman, yang disamakan dengan satu sedekah. Rugikah kita dengan senyuman itu? Tidak. Insya-Allah, niat kita untuk menggembirakan pasangan kita akan dibalas oleh Allah dengan kegembiraan yang setara atau yang lebih lagi. Kedua, berilah salam. Jangan anggap salam itu hanya diberikan ketika hendak memasuki rumah atau ketika hendak bertemu dan berpisah sahaja. Pada hal salam boleh dihulurkan sebaik ingin tidur atau bangun dari tidur. Hulurkan salam dan senyuman waktu pertama kali bertentang mata selepas bangun dari tidur atau sebelum menutup mata untuk tidur. Atau jika bersua semula setelah sudah agak lama berada di tingkat atas (jika rumah dua tingkat) atau di bilik yang lain. Ketiga, berjabat tangan. Budayakan isteri berjabat dan mencium tangan suami ketika mula bertemu atau hendak berpisah. Begitu juga para suami, jangan sekali-kali kedekut untuk menghulurkan tangan buat bersalaman. Jika terasa bersalah, cepatlah meminta maaf dengan menghulurkan salam. Bila dihulurkan tangan, jangan pula ego untuk tidak menyambutnya. Maafkanlah pasangan kita, bukan dengan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan yakni dengan cara berjabat salam.
Kesimpulannya, ingatlah tiga perkara yang akan menyuburkan kebun cinta kita – mengucapkan salam, memberi senyuman dan sering berjabat tangan. Salam itu umpama “baja”, senyuman itu umpama “air” dan berjabat tangan itu umpama cahaya di kebun cinta kita. Insya-Allah, jika kebun cinta kita selalu diairi, dibajai dan diberikan cahaya, maka perasaan kita akan selalu gembira, fikiran kita akan positif dan tindakan-tindakan kita akan sentiasa membuahkan kebaikan. Dan itulah antara resipi “baiti jannati”. Sekiranya, cintamu hampir menjadi pusara… tafakurlah sejenak di atasnya. Cari kembali dirimu dan dirinya. Bermulalah langkah “menghidupkan” semula cinta itu daripada dirimu sendiri. Dalam pencarian itu hendaklah selalu diingat… carilah di tempat dimana kita kehilangannya. Justeru, kita akan hanya menemuinya semula di tempat yang kita kehilangannya!
Wednesday, December 16, 2009
Peringatan Untuk Diri Yang Zhalim Ini
Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu bersepi-sepi dengan seorang wanita, kecuali beserta mahram" (HR Bukhari dan Muslim)
Saudaraku…
Hadits diatas sangat perlu kita resapi dalam-dalam bagi kita seorang muslim dan muslimah sejati, terutama kepada kader da’wah. Mungkin saja kita lupa atau khilaf dalam menjalankan kehidupan ini. Untuk itu mari kita saling nasehat menasehati…
Chating...
Hari ini sudah banyak pasilitas yang bisa menghubungkan seseorang dari jarak jauh dengan teman, adik, kakak, abang, paman, mantan teman dan bahkan mantan pacar yang sudah lama hilang dari peredaran kahidupan pribadi kita. Salah satu pasilitas itu adalah melalui chating di inbox yang ada di komunitas jejaring social yang ada di internet seperti facebook, dll.
Kita sangat sadar sekali, kalau kita berkomunikasi melalui chating, tidak ada satu orangpun yang tahu kecuali Allah. Awalnya mungkin chating hanya sekitar pertanyaan dan jawaban tentang aktifitas, kemudian tempat tinggal… intinya pembicaraan ringan… “Untuk perasaan pada saat itu sih biasa-biasa saja” jawab kita dalam hati… Namun setelah pembicaraan itu masuk pada wilayah perasaan, (mungkin saat itu kita lagi ada persoalan dg suami atau Istri atau persoalan lainnya) disinilah syetan mulai memainkan peran yang sebenarnya… Kalau waktu itu kita chating dengan mantan pacar, maka mantan pacar kita dengan santun akan mengatakan, “Kamu harus tegar, Tabah ya, Kamu harus yakin dg dirimu dll kata-kata simpati yang bisa menggugah. Atau kalimat lain seperti “Kamu masih seperti dulu, masih sangat baik, masih… dll yang menggugah perhatiannya seperti pada masa lalu, maka bisa jadi itulah awal terjalinnya kembali perasaan masa lalu yang indah… Atau bisa jadi dia adalah teman biasa yang pernah kenal dimasa SMA atau Kuliah misalnya, atau dia hanya teman yg kenal di facebook saja, kalau chatingnya dilakukan terus menerus setiap hari dari pagi sampai malam, atau ada jadwal rutin chating dengannya, atau setiap buka facebook ada dia, dan ketika chating dibumbui dengan canda, ketawa ketiwi dan bahkan memancing lawan chating untuk mengungkapkan perasaannya (naudzubillahi mindzaliq) maka lambat laun perasaan itu tumbuh menjadi cinta yang dibisikkan oleh syetan, dan akhirnya menjerumuskan kita ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala…
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. QS. An Nur : 31.
Saudaraku…
Munkin itulah salah satu yang dimaksud dari hadits diatas. Bisa jadi, karena hanya ada dua orang berlainan jenis melakukan chating (mungkin bercanda ria) yang tidak ada siapapun yang tahu, maka disitulah wilayah syetan merusak kehidupan manusia, karena kita telah berduaan dari sisi perasaan dan hati, walaupun tidak berduaan dari sisi jasad. Sebab kalau kita sudah terlena, maka kita tidak akan tahu lagi mana batasan nilai kebenaran dan keburukan. Bisa jadi kita sedang “berzina…”
Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi Saw telah bersabda "Perzinaan bagi mata adalah memandang, perzinaan bagi telinga adalah mendengar. perzinaan bagi mulut adalah pembicaraan. perzinaan bagi tangan adalah meraba, perzinaan bagi kaki adalah berjalan menuju kemaksiatan, dan perzinaan bagi hati adalah terangsang, berharap, dan membetulkan apa yang menjadi ajakan farji (alat kelamin) (HR Bukhari dan Muslim)
Bagi kita yang belum berumah tangga, jangan nodai identitas kita sebagai generasi muda Islam dg hal-hal yang picisan ini. Dan bagi saudaraku yang sudah berumah tangga, jagalah keluarga kita menjadi keluarga sakinah, warohmah dan da’wah. Jangan nodai bahkan dihancurkan dengan bisikan syetan hanya dengan fasilitas yang ada saat sekarang ini. Seharusnya fasilitas itu kita jadikan sarana untuk amal ma’ruf dan nahi mungkar…
Saudaraku...
Kita semua belum terlambat, masih ada kesempatan untuk menyadari bagi kita yang sudah terlanjur melakukannya... Dan bagi kita yang belum masuk dalam persoalan ini, mari kita bentengi diri kita dengan pemahaman yang benar tentang nilai-nilai Islam...
Saudaraku... maafkan kalau aku salah dalam menulis nasehat ini, karena aku hanya manusia biasa. Salam sayangku sebagai seorang yang mencinta Allah dan Rasul-Nya... Allahu Akbar...
Saturday, December 12, 2009
Wednesday, December 9, 2009
Monday, November 30, 2009
Ya Allah...mudahkan urusannya.
Beberapa waktu yang lalu seorang ukhti mengirim pesan Nanyain kabar dan minta diluangkan waktu
Katanya mau ngobrol hal penting
Kebetulan hari itu memang ana ada rencana
Mau pergi ke tempat penjual arnab
Dan arah jalannya berhampiran dengan ofis ukhti ini
Ya udah ana sanggupin untuk berjumpa dengannya
Tapi dengan syarat selepas arnab sampai ke tangan ana
Ana berjumpa dengak ukhti tersebut ketika magrib hampir menjelang
Ana solat magrib di surau berdekatan dengan ofisnya
Habis magrib sang ukhti mulai bercerita
Dengan air mata yang berlinangan
Terisak-isak menangis
Ana tanya ada apa
Awalnya sang ukhti mencoba berkelit
Kelihatan malu untuk bercerita
Tapi akhirnya keluar juga cerita tentang dirinya
Katanya bulan maret tahun depan
Orang tuanya mau ngajak pergi umrah
Saya ucapkan selamat
Tapi katanya dia takut sekali
Ana tanya kenapa Dia bilang takut kalau dosa-dosanya
Dibukakan Allah disana
Lalu orang tuanya mengetahui semuanya
Dia takut sebab mendengar banyak cerita
Dari kawan-kawannya juga beberapa majalah yang dibaca
Bahwa semua dosa akan terbongkar di Mekkah sana
Ana bilang emang siapa yang tidak berdosa
Justru kita pergi ke Mekkah sebab ingin bersihkan dosa
Tapi dia bilang dosanya terlalu besar
Dan dia sangat malu dengan Allah
Sebab begitu kotor untuk berjumpa denganNya
Ana tanya memang dosa besar apa yang sudah dia lakukan
Dia bilang dia sudah berzina dengan kekasihnya
Dia mengaku mengapa begitu bodoh sampai sanggup melakukannya
Lalu ana tanya mana kekasihnya itu sekarang
Dia bilang sudah putus Ya Allah...
Is that easy for you give your very special one?
Tapi apa hendak dikata Nasi sudah jadi bubur
Ana bilang kamu belum terlambat
Masih ada waktu untuk kamu bertaubat
Siapa manusia yang tidak pernah bermaksiat dan berdosa
Yang penting jangan ulangi lagi
Selalu bertaubat setiap saat
Dan satu lagi ana katakan padanya
Jika ada sesiapa yang siap menerima kamu apa adanya
Dengan masa lalumu dan segalanya tentang dirimu
Segerakan pernikahanmu
Biar tidak ada kesempatan bagi syaitan dan nafsu
Tempat untuk menjerumuskan kamu lagi
Tentang umrahmu
Banyak belajar dari sekarang
Jaga solatmu dan ibadah-ibadahmu yang lain
Persiapkan fisikmu untuk ibadah disana
Mudah-mudahan Allah ampunkan dosa-dosamu
Dan mudahkan segala urusanmu disana nanti
Serta bukakan pintu rahmat dan kasihnya untukmu
Ana sebagai sahabatmu akan mendoakan
Semoga engkau selamat pergi dan kembali
Batu Cave 2009
Friday, November 27, 2009
MEMBANGUN KEIKHLASAN DALAM BEKERJA
1. Senantisa bersyukur atas segala nikmat khususnya nikmat Masa dan Kesehatan.2. Kehidupan adalah ujian untuk menguji akan kualiti amal yang kita lakukan.
3. Amal adalah intipati daripada keberadaan manusia di muka bumi.
4. Amal bukan segala-galanya dalam pandangan Allah.
5. Niat sangat menetukan nilai sesuatu amal disisi Allah.
6. Ikhlas adalah puncak daripada kualiti amal.
7. Ikhlas adalah tolak ukur diterima atau tidaknya suatu amal, diantara ganjaran
yang Allah berikan adalah:
- jaminan surga
- dihindarkan daripada sebarang kejahatan
- syaitan tidak mampu menguasai
8. Makna Ikhlas :
-jernih, bersih, suci daripada pencampuran baik dari segi lahir mahupun batin.
9. Kekuatan Ikhlas:
- Kaya hatinya. Qonaah dan ridho denga ketetapan Allah
- Potensial dirinya akan dikumpulkan oleh Allah
- Dunia akan datang kepadanya tanpa berusaha mengejarnya
10. Akibat tidak ikhlas:
- Allah jadikan kemiskinan di depan matanya
- Melemahkan semua potensialnya
- Dunia akan datang sekadar apa yang telah ditetapkan Allah untuknya
11. Bagimana meraih keikhlasan?
- Ikhlas adalah anugerah daripada Allah SWT yang mesti dicari dan diusahakan.
- Pelajaran dari Surah Al-Muzammil:
1. Senantisa Qiyamullail
2. Senantisa membaca Quran dengan tartil
3. Senantisa zikrullah
- Selalu bergaul dengan dengan orang-orang yang ikhlas
- Selalu berdoa اللّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُهُ
12. Lawan daripada Ikhlas adalah Nifak dan Riya.
- Nifak adalah sifat daripada orang munafik
- Riya adalah syirik kecil yang paling ditakuti oleh Rasulullah keatas umatnya.
13. Ikhlas akan menjadikan amal yang sedikit bernilai besar
- Tanpa ikhlas amal yang besar dan banyak tidak akan bernilai
14. Bagaimana menjaga keikhlasan dalam beramal dan bekerja?
- Miliki profesionalism bukannya asal buat
- Hidupkan suasana kompetensi bukannya merasa cukup
- Itqan dalam menjalankan tugas bukan setengah hati
- Kesungguhan dalam setiap gerakan bukan malas-malas
Disediak untuk program usroh bersama guru-guru IISKD 2009.
Arnab-arnab Koe
Baru-baru ini ana dapat hadiah seeokor arnab dari teacher Zainab rekan satu sekolah.Yang memberi beliau adalah salah seorang muridnya di kelas.
Beliau sebetulnya sudah diberi tiga ekor Jadi ana coba minta satu...hehehee. Ketika diberikan ke ana,Ana ngak tahu jenis kelaminnya apa. Bingung juga mau cariin pasangannya. Ya udah gampang..ntar paling tanya penjual arnabnya. Apa jenis kelamin arnab ana dan tinggal beli pasangannya.
Malam itu sebelum pergi ceramah Ana singgah di kedai penjual arnab kenalan ana. Ana tanya harga sepasang arnab yang ada di kedainya. Selepas harga disepakati ana tunjukin arnab ana dan tanya jenis kelaminnya. Ternyata arnab itu betina. So sekarang ana ada dua arnab betina dan satu jantan.
Semenjak itu awal pagi akan disibukkan dengan arnab. Selepas balik dari surau Hal pertama yang ana lakukan adalah mengurus arnab. Buang najis, ngepel lantai, ganti air minum, dan kasih makan. Sebelah malam pula melakukan hal yang sama. Begitulah rutinitas hari-hari semenjak ada arnab.
Yang lucunya si saif. Dia pegang arnab antara takut dan berani. Pegang sekali terus tarik tangan sambail bertepuk. Uiiii...keliatan seperti kegelian. Mungkin karena arnabnya agak besar jadi ngak berani pegang lama-lama.
Kemudian terpikir untuk membeli arnab yang ukurannya agak kecil biar saif bisa main. Mulailah ana surfing di internet cari informasi tentang arnab. Ada banyak pilihan dengan harga yang bervariasi. Akhirnya jatuh pilihan pada harga yang terendah. Ana coba hubungi telepon penjual dan berbincang tentang pembelian. Ternyata penjualnya mahasiswa S2 juga tapi orang Malaysia. Kami buat temu janji beberapa hari kemudian. Ana sepakat untuk membeli empat ekor lagi.
Dan ternyata arnabnya masih kecil-kecil. Tapi tak pernah terpikir pula akan sekecil itu. Umurnya baru lima belas hari, lucu dan menggemaskan. Nah ketika mau bawa pulang ada masalah timbul. Si penjual ngak nyediain tempat untuk membawa arnabnya. Tahu ngak dia bawa pakai apa? Dia bawa pakai beg kain saiz kecil saja. O'o'o...ana berpikir gmana bawa baliknya tu arnab?
Akhirnya ana dapat idea untuk bawa arnab kecilku pulang. Ana masukkan aja di mobil dan letakkan di lantai. Ana tutup semua jendela dan terus balik. Oya lupa sebelum arnab naik ana sudah alasin tu lantai mobil dengan kertas koran biar kalau dia mau beol atau pipis jangan sampai jatuh ke lantai mobil. Mobil orang boo...ntar bau pesing susah bersihinnya.
Singkat cerita arnab sampai di rumah dengan selamat. Kemudian dapat kandang yang baru dan luas. Makanan yang rutin pagi dan petang. Dan yang penting sekarang saif berani pegang dan angkat sambil berteriak kesenangan.....
Wednesday, November 25, 2009
Wanita dan Falsafah Pakaian
Allah SWT berfirman dalam Quran yang maksudnya” “Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu pula adalah pakaian bagi mereka”. (Al-Baqarah: 187) Allah SWT menyifatkan suami istri dengan pakaian yang biasa dipakai oleh manusia. Ada tiga fungsi utama bagi manusia tanpa mengira jenis kelaminnya.
1. Untuk menutupi kekurangan dan aib diri yang terdapat pada badan atau tubuh seseorang.
Dengang pakaian orang lain tidak akan tahu kalau kita ternyata punya kudis, kurap, panu dan parut bekas luka. Semakin baik seseorang itu berpakaian dan menutup keaiban yang ada pada dirinya, maka semakin nampak sempurna seseorang itu dimata orang lain. Sebaliknya kalau pakaian yang dikenakan tidak senonoh, terbuka sana-sini, tersingkap sana-sini, tipis, jarang, tidak menutupi yang seharusnya ditutupi, maka aib yang ada akan mudah nampak oleh orang lain, bobrok yang ada akan mudah dilihat pihak lain, kekurangan yang ada akan mudah diketahui oleh orang lain, rahasia yang sepatuntnya dijaga akan mudah tersebar dan diketahui oleh umum. Jadi suami istri tugasnya adalah menutupi, membungkus, menyembunyikan, merapikan, menyorokkan segala aib yang ada dalam hubungan suami istri. Bagi istri tugasnya adalah menjaga aib suami, maruah suami, rahasia suami, kekurangan suami, harta suami, amanah suami, nama baik suami, menjaga imej suami dan segala apa tindakan suami dalam rumah tangga suami. Itu semua adalah private and confidential. Ia adalah top secret rumah tangga. Adalah tindakan biadab dan kurang ajar serta pendurhakaan kepada suami jika seorang istri mulai menceritakan urusan rumah tangganya kepada orang lain. Walaupun orang lain itu adalah teman baiknya sendiri. Allah memurkai istri-istri seperti ini yang suka mengghibah orang yang telah membanting tulang memeras keringat untuk memenuhi keprluan dirinya, menjaganya, mendidiknya, mengingatkannya, membimbingnya, mengenalkannya pada Allah, mengajarnya serta mendahulukannya berbanding ahli keluarganya yang lain. Rasulullah bersabda” Riba yang paling riba adalah mengghibah orang mukmin” apatahlagi orang yang di ghibah adalah suami sendiri.
2. Fungsi pakaian yang kedua adalah untuk keindahan orang yang memakainya.
Allah menjadikan bagi kita pasangan hidup agar kesempurnaan kemanusiaan kita menjadi terserlah. Keindahan kita akan menjadi nyata kalau kita berpakaian. Bayangkan kalau ada orang yang cantik atau hansem berjalan di lebuh raya tapi tiada berpakaiana alias bogel, maka kesan pertama yang timbul dalam pikiran orang yang melihatnya adalah ORANG GILA. Memang benar pakaian memainkan peranan untuk menaikkan imej seseorang. Orang yang biasa-biasa aja boleh menjadi lebih menarik apabila pakaian yang dikenakannya lebih kemas, rapi, bersih dan sesuai. Tapi sebaliknya pakaian juga boleh menurunkan imej seseorang apabila ianya dipakai tidak senonoh, tidak digosok, tidak diganti, tidak dibasuh, tidak dirapikan dan dielokkan. Begitulah fungsi suami istri yang sepatutnya berusaha menampilkan imej terbaik pasangannya pada pandangan orang lain. Seburuk apapun suaminya, namun untuk ditampilkan kepada orang lain, SUAMIKU ADALAH YANG TERBAIK. Adalah satu dosa bagi seorang istri untuk bercerita pada orang lain dan menimbulkan kesan seolah-olah suaminya adalah seorang yang tidak baik, tidak bertanggung jawab, tidak adil, tidak menunaikan tanggung jawab, tidak menghormati istri, suka hal-hal yang tidak disukai sitri dan lain-lain hal yang merupakan topik utama pembicaraan para istri jika mereka berkumpul. Benarlah Rasulullah yang bersabda “diperlihatkan kepadaku neraka dan penduduknya. Ternyata majoriti penduduknya adalah wanita. Ditanyakan kepada beliau ”apakah sebabnya ya Rasulullah?” Jawab baginda ”Disebabkan kufur”. Ditanya lagi oleh sahabat “Apakah karena kufur kepada Allah?” Jawab baginda “Tidak, tapi mereka kufur kepada suami-suami mereka. Suami mereka telah berbuat begitu banyak kebaikan terhadap mereka, namun ketika satu kesalahan dilakukan oleh suami mereka, mereka mengatakan dan bersikap seolah-olah suami mereka tidak pernah melakukan satu kebaikan pun terhadap mereka”. Tidakkah para istri sedar bahwa dengan membuka keburukan suami pada orang lain itu sama artinya dengan membuka pekung di dada sendiri? Apakah para istri yakin cerita dalam kain mereka tidak akan dihebahkan kepada orang lain? Jika cerita itu dihebahkan dan semua orang tahu. Siapa yang akan malu? Kadangkala cerita yang disampaikan istri adalah opini dan asumsi mereka sendiri yang belum tentu terbukti kebenarannya. Bukankah dengan demikian para istri telah memfitnah saudara mereka seiman bahkan suami mereka sendiri, nauzubillah min zalik.
3. Fungsi ketiga adalah bagaimana sepatutnya para istri dilayan atau ingin dilayan oleh suami.
Berangkat dari falasafah pakaian tadi, ada bermacam-macam jenis kain yang digunakana untuk membuat pakaian. Ada jenis katun, wool, linen, sutera dan lain-lain. Setiap kain ada cara membasuhnya sendiri. Kalau kain yang murah dan kasar mungkin dengan dibanting-banting ke lantai kamar mandi dan diinjak-injak tanpa perlu merasa takut rusak sebab memang harganya murah. Ada juga kain agak mahal cara membasuhnya juga berbeza, agak hati-hati dan lembut. Adapun kain sutera maka membasuhnya adalah extra hati-hati sebab disamping hargnya mahal, ia juga mudah terdedah kepada kerosakan yang akan mencacatkan penampilannya. Sekarang terpulang kepada para istri untuk dilayan seperti apa dan mau dihargai seperti apa. Mau dengan kasar, bentakan, makian, kata-kata kesat, pukulan, atau dengan lemah lembut, sentuhan, hati-hati, seksama, peduli dan berjaga-jaga. Itu semua para istrilah yang menentukan. Ingat ayat diatas tadi kmendahulukan kalimat istri sebagai pakaian daripada suami yang maknanya para istri memainkan peranan yang sangat besar dalam menampilkan imej yang baik atau buruk tentang suaminya. Namun pada saat yang sama ia juga berarti istri lebih banyak tidak memainkan peranannya dalam hal ini secara umumnya .Ingatlah wahai para istri. Kesabaranmu melayani suamimu, kesunyinamu ketika kamu ditinggal di rumah sendirian, kesibukanmu mengurus makan mimun suamimu dan keletihanmu melayan kerenah anak-anakmu adalah pintu kesempatan bagimu untuk mendapatkan pahala yang sama dengan segala amal-amalan soleh yang suamimu lakukan. Bertaubatlah, banyakkan minta ampun pada Tuhanmu. Kamu tidak akan mampu membayar hak suamimu keatasmu. Sabda nabimu ”Seandainya boleh manusia sujud kepada manusia yang lain maka pasti akan aku suruh para istri sujud kepada suami mereka. Ingat satu hal lagi bahwa kewajiban pengabdian kamu untuk orang tua telah berpindah seratus peratus kepada suamimu. Sabda nabimu lagi ”Suamimu adalah surgamu atau nerakamu”. Wallahu a’lam.
Kota Damansara, 26/10/09
Monday, November 23, 2009
Khasiat Air Zamzam
Di dalam air zamzam terdapat kandungan yang sarat dengan pelbagai unsur yang bermanfaat bagi keperluan tubuh manusia. Menurut kajian analisis yang telah dibuat, terdapat empat unsur kimia yang sangat penting dalam air zamzam, iaitu Kalium (K), Natrium (Na), Kalsium (Ca), dan Magnesium (Mg).
Di dalam air biasa pula tedapat unsur besi (Fe), namun unsur tersebut langsung tidak terdapat pada air zamzam. Begitu juga unsur Kalsium (Ca) yang ada pada air biasa sangat tinggi kadarnya, tetapi kandungannya sangat rendah di dalam air zamzam. Menurut kajian, kedua-dua unsur ini (Fe & Ca) merupakan unsur yang tidak baik bagi tubuh apabila terlalu berlebihan.
Sebaliknya, unsur-unsur kimia yang begitu bermanfaat dan menguntungkan tubuh ialah Kalium (K). Namun, kandungan Kalium di dalam air biasa sangat rendah, sebaliknya di dalam air zamzam kandungan unsur Kalium adalah sangat tinggi. Begitu juga unsur Magnesium yang baik untuk tubuh merupakan unsur yang sangat tinggi di dalam air zamzam, tetapi di dalam air biasa kadarnya relatif sedikit.
Selain itu, 4 pakar dari Suruhanjaya Kuasa Atom Bangladesh (Bangladesh Atomic Energy Commision) iaitu M.A. Khan, A.K.M Sheriff, K.M. Idris dan M. Alamgir. Mereka mengkaji kandungan air zamzam dan membuat perbandingan dengan air paip dan air yang dikeluarkan menggunakan alat pengepam berkuasa solar (solar pump water). Pakar-pakar ini mendapati air zamzam wujud secara tabii atau semulajadi dalam bentuk alkali. Oleh sebab itu, keadaan ini dapat mengawal kesan sampingan yang disebabkan oleh lebihan asid dalam perut sekaligus mampu mencegah penyakit gastrik. Air zamzam merupakan air yang terbaik di dunia, malah lebih baik daripada air mineral.
Pada hari ini, sukar untuk manusia mendapatkan air yang benar-benar bersih lagi suci. Ini adalah kerana kerakusan tangan-tangan manusia yang telah menukar dan merubah keaslian air dengan pelbagai bahan kimia seperti klorin yang boleh memudaratkan kesihatan tubuh badan manusia sendiri.
Lihatlah betapa hebatnya kuasa Allah Yang Maha Esa. Tiada siapa yang mampu menandingi ciptaan-Nya.
rujukan: 1- Quran Saintifik (Dr. Danial Zainal Abidin)
2- Petanda Keagungan (Nazri Zakaria)
Sunday, November 22, 2009
Amanah
A M A N A H
Rasulullah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)
Amanah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kekuasaan dan materi. Namun sesungguhnya kata amanah tidak hanya terkait dengan urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (An-Nisa: 58)
Ayat di atas menegaskan bahwa amanah tidak melulu menyangkut urusan material dan hal-hal yang bersifat fisik. Kata-kata adalah amanah. Menunaikan hak Allah adalah amanah. Memperlakukan sesama insan secara baik adalah amanah. Ini diperkuat dengan perintah-Nya: “Dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” Dan keadilan dalam hukum itu merupakan salah satu amanah besar.
Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dan Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab 72)
Dari nash-nash Al-Qur’an dan sunnah di atas nyatalah bahwa amanah tidak hanya terkait dengan harta dan titipan benda belaka. Amanah adalah urusan besar yang seluruh semesta menolaknya dan hanya manusialah yang diberikan kesiapan untuk menerima dan memikulnya. Jika demikian, pastilah amanah adalah urusan yang terkait dengan jiwa dan akal. Amanah besar yang dapat kita rasakan dari ayat di atas adalah melaksanakan berbagai kewajiban dan menunaikannya sebagaimana mestinya.
Amanah dan Iman
Amanah adalah tuntutan iman. Dan khianat adalah salah satu ciri kekafiran. Sabda Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan di atas menegaskan hal itu, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)
Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah, maka ia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan siapa yang mempunyai sifat dusta dan khianat, dia berada dalam barisan orang-orang munafik. Disia-siakannya amanah disebutkan oleh Rasulullah saw. sebagai salah satu ciri datangnya kiamat. Sebagaimana disampaikan Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya–, Rasulullah saw. bersabda, “Jika amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Sahabat bertanya, “Bagaimanakah amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (Al-Bukhari)
Macam-macam Amanah
Pertama, amanah fitrah. Dalam fitrah ada amanah. Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Karenanya, fitrah selaras betul dengan aturan Allah yang berlaku di alam semesta. Allah swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al-A’raf: 172)
Akan tetapi adanya fitrah bukanlah jaminan bahwa setiap orang akan selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan. Sebab fitrah bisa saja terselimuti kepekatan hawa nafsu dan penyakit-penyakit jiwa (hati). Untuk itulah manusia harus memperjuangkan amanah fitrah tersebut agar fitrah tersebut tetap menjadi kekuatan dalam menegakkan kebenaran.
Kedua, amanah taklif syar’i (amanah yang diembankan oleh syari’at). Allah swt. telah menjadikan ketaatan terhadap syariatnya sebagai batu ujian kehambaan seseorang kepada-Nya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan fara-idh (kewajiban-kewajiban), maka janganlah kalian mengabaikannya; menentukan batasan-batasan (hukum), maka janganlah kalian melanggarnya; dan mendiamkan beberapa hal karena kasih sayang kepada kalian dan bukan karena lupa.” (hadits shahih)
Ketiga, amanah menjadi bukti keindahan Islam. Setiap muslim mendapat amanah untuk menampilkan kebaikan dan kebenaran Islam dalam dirinya. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menggariskan sunnah yang baik maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang rang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Hadits shahih)
Keempat, amanah dakwah. Selain melaksanakan ajaran Islam, seorang muslim memikul amanah untuk mendakwahkan (menyeru) manusia kepada Islam itu. Seorang muslim bukanlah orang yang merasa puas dengan keshalihan dirinya sendiri. Ia akan terus berusaha untuk menyebarkan hidayah Allah kepada segenap manusia. Amanah ini tertuang dalam ayat-Nya: “Serulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (An-Nahl: 125)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan usaha Anda, maka hal itu pahalanya bagi Anda lebih dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” (al-hadits)
Kelima, amanah untuk mengukuhkan kalimatullah di muka bumi. Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah swt. dalam segala aspek kehidupannya. Tentang amanah yang satu ini, Allah swt. menegaskan: “Allah telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)
Keenam, amanah tafaqquh fiddin (mendalami agama). Untuk dapat menunaikan kewajiban, seorang muslim haruslah memahami Islam. “Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Urgensi Dakwah Kampus
Urgensi pemolaan manajemen Dakwah Kampus (membuat Dakwah Kampus yang terpola, red) bukanlah semata-mata karena tuntutan modernitas. Seolah-olah menjadi kelatahan apabila muncul sebuah kesadaran untuk lebih komprehensif mem-pola-kan Dakwah Kampus dalam rumusan-rumusan yang menjadi tradisi masyarakat modern. Padahal memenej Dakwah Kampus adalah sebuah sunnatullah bagi siapa saja yang ingin seruannya menjadi kiblat yang digugu, ditiru, dan dipanuti. Jadi membuat nidzham yang sistemik dan pemprograman yang jelas merupakan kewajiban bagi setiap rijalud dakwah yang bermujahadah. Artinya, mentakwin ummat, membentuk generasi rabbani, dan menuju khairu ummah, bukanlah membangun kerajaan pendeta, rezim junta militer yang facistis, atau sekedar membuat konfrensi internasional. Akan tetapi risalahnya adalah mewujudkan pemahaman yang syamil (tidak juz’i) pada setiap diri muslim sekaligus mengejawantahkannya pada peradaban yang lengkap (tidak sektoral). Ali Ra pernah berkata: Al Haq yang tidak ternidzham akan dikalahkan oleh al bathil yang ternizham.
Kampus adalah komunitas kecil yang merepresentasikan sebuah negara dalam skala mini. Kampus juga bisa dipandang sebagai pusat informasi yang paling cepat mengolah data menjadi konseo-konsep yang siap diterapkan di tengah masyarakat. Kampus adalah sebuah wahana yang mampu membahas segala permasalahan secara komprehensif melalui pendekatan multi dimensional. Dari sisi rekrutmen, kampus merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berpotensi menjadi penentu kebijakan di masa datang. Bahkan pada saat-saat tertentu kampus dapat juga menjadi faktor yang ikut menentukan perubahan sejarah.
Oleh karenanya kampus dapat dijadikan sebagai sebuah laboratorium untuk menelurkan berbagai konsep. Sekaligus berfungsi pula sebagai sarana latihan bagi para rijalud dakwah dalam menerapkan konsep-konsep tersebut. Homogenitas komunitas kampus justru bisa menjadi kekuatan untuk menguji seberapa handal kualitas sumber daya manusia yang ada dan seberapa bagus konsep yang ditelurkan. Sesungguhnya pergesekan elit dan perdebatan konsep terjadi pada masyarakat yang berpendidikan tinggi. Sementara, untuk menghindari kecenderungan untuk menjadi elitis harus dirumuskan kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat luas.
Manajemen Dakwah Kampus
Apabila telah muncul persamaan persepsi pada diri setiap rijalud dakwah tentang urgensi dakwah kampus, amat penting untuk segera dipetakan permasalahan yang ada. Di sinilah perlunya para rijalud dakwah yang memiliki kemampuan manajerial tinggi. Selain itu perlu juga dikerahkan rijalud dakwah dari beragam disiplin ilmu untuk dapat mendekati permasalahan secara multi dimensional.
Selama ini pengelolaan dakwah kampus lebih nampak sebagai sebuah paguyuban. Lembaga musholla, rohani islam, atau lembaga dakwah kampus menunjukkan kekeluargaan yang tinggi dan mampu mengikat banyak orang. Akan tetapi pengelolaan organisasinya cenderung tradisional. Ketergantungan akan figur masih sangat tinggi, sementara sistemnya-kalau tidak bisa dibilang amburadul-sangat lemah. Lembaga lainnya di kampus nampak memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melahirkan nidzham yang sistemik. Dalam hal profesionalitas dan etos kerja, harus diakui bahwa para rijalud dakwah masih kalah dengan para pialang peradaban barat, minimal dalam hal performance-nya.
Oleh karenanya hal pertama yang harus disosialisasikan adalah urgennya diselenggarakan diklat-diklat Manajemen Dakwah Kampus di setiap kampus. Mulai dari tingkat universitas, fakultas, unit-unit kegiatan, sampai jurusan-jurusan. Harus dirumuskan sebuah paket standard dalam bentuk modul atau diktat yang menjadi tolak ukur bagi peningkatan sumber daya manusia para rijalud dakwah. Paket tersebut meliputi Manhaj Dakwah Kampus, tarbiyah ruhiyah, fiqhud dakwah, fiqhul waqi’i, dauroh murabbi, dauroh sospol, dauroh akademik, dauroh ijtima’iyyah, dan ketrampilan manajemen dakwah. Pada hakekatnya paket-paket ini merupakan dauroh tarqiyah yang dikemas secara menarik.
Manajemen Dakwah Kampus dapat dijabarkan sebagai kiat-kiat, teknik, panduan, juklak, atau bahkan model-model dan format kegiatan yang bersifat kongkret. Manajemen Dakwah Kampus merupakan turunan langsung dari konsep dasar yang bersifat abstrak seperti yang termaktub dalam materi fiqhud dakwah. Diharapkan para rijalud dakwah memiliki bekal kemampuan praktis seperti, merumuskan masalah, komunikasi massa, teknik negoisasi, berpikir alternatif, manajemen strategi, rekayasa sospol, manajemen rapat, manajemen issu dan opini publik, networking, pengembangan kreatifitas, membuat keputusan, dan penerapannya dalam sebuah organisasi. Minimal seorang rijalud dakwah memiliki kemahiran mengelola sebuah kepanitiaan.
Harapannya adalah semakin banyak dihasilkan konsep-konsep terapan yang siap pakai di lapangan akan semakin banyak pula praktisi yang siap bekerja untuk dakwah. Suatu saat tidak ada lagi prinsip “yang penting kerja” akan tetapi telah berubah menjadi “yang penting kerja dengan ihsan”. Suatu saat juga tidak ada lagi pertanyaan “bagaimana ?” ketika seseorang diamanahkan sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak ada lagi orang yang tidak bekerja, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi tidak tahu apa yang mesti dikerjakannya dan atau tidak mampu mengerjakannya.
Fiqhud Dakwah sebagai Konsep Dasar
Pemolaan Manajemen Dakwah di kampus membutuhkan landasan fiqh yang diartikulasikan secara segar dan aktual. Keluasan dan keluwesan ajaran Islam amat mendesak untuk diperdalam bagi para rijalud dakwah yang kebetulan menjadi elit kampus. Manuver-manuver politik begitu cepat berseliweran di depan mata. Pergolakan pemikiran menjadi dinamika civitas akademikanya. Selalu saja ada informasi baru yang mengguncangkan. Sementara generasi baru yang ”hedon-norak” itu begitu aktifnya menjadi pialang-pialang yang membawa kebudayaan barat di kampus. Perubahan-perubahan yang begitu cepat dan dinamika serta pergesekan dan persaingan yang begitu tajam menjadi ciri obyek dakwah (mad’u) di dunia kampus.
Perumusan fiqhud dakwah kampus amatlah penting. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dan perilaku para rijalud dakwah di kampus. Kesalahan, kerancuan, kedangkalan, dan kesempitan pemahaman akan berakibat fatal pada wajah dakwah kampus. Seringkali citra dakwah tertutupi oleh juru dakwahnya sendiri. Kecenderungan menghakimi terkadang masih mewarnai sebuah kebijakan. Kurang tasamuh terhadap keberagaman dan cenderung saklak atau hitam-putih dalam memecahkan masalah. Padahal kompleksitas masyarakat modern semakin menuntut pola berpikir alternatif dalam menawarkan solusi.
Pemahaman akan fiqhul ikhtilaf yang senantiasa mendahulukan sisi positif (husnudzh dzhon) terhadap setiap orang dan kelompok serta mengkaitkan sisi-sisi positif tersebut dalam bangunan dakwah masih kurang sekali. Belum cukup kesadaran bahwa setiap rijalud dakwah harus mendorong terciptanya link-link dengan berbagai golongan dan kalangan serta beramal jama’I atas apa-apa yang disepakati bersama. Belum cukup usaha untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat ammah dan keterkaitan semua unsur sebagai pendukung harakah. Hingga muncullah tuduhan-tuduhan seperti sok suci, penguasa kebenaran, atau facisme religius.
Oleh karenanya di tingkat pemahaman perlu pembenahan dan penjernihan agar ada kesatuan pandang dan bahasa yang sama dari para rijalud dakwah. Kesenjangan dan perbedaan persepsi bisa menjadi potensi tafaruq di lapangan. Konsep-konsep seperti manhaj, uslub, harakah, tarbiyah, halaqoh, liqo, ikhwan, akhwat, futur dan lainnya, telah mengalami bias, direduksi sebatas idiom dan disalahkaprahi sebagai satuan-satuan yang kategoris. Maka muncullah verbalisme yang pada gilirannya menghambat komunikasi dengan masyarakat ammah.
Namun hal yang amat mendesak untuk dikaji, dirumuskan, dan disosialisasikan adalah fiqhul waqi’i. Seiring dengan makin besarnya jumlah rijalud dakwah maka terbukalah peluang-peluang dakwah yang selama ini tak terbayangkan. Semangat untuk merambah ke berbagai sektor kehidupan-“yang tercermin dengan diambil alihnya berbagai posisi strategis lembaga kemahasiswaan di kampus”-seharusnya diiringi oleh bacaan yang kuat terhadap situasi dan kondisi lahan yang akan digarap. Kalau tidak, akan terjadi fitnah dan inqilabiyah yang dipaksakan (isti’jal). Manuver-manuver yang dilakukan menjadi tidak smooth. Dan sudah menjadi karakter masyarakat kampus yang tidak suka terhegemonik.
Kebutuhan utama akan fiqhul waqi’i adalah dalam pembuatan konsep. Oleh karenanya para konseptor yang lazimnya duduk di majelis syuro adalah orang-orang yang matang dalam pemahaman akan fiqhul waqi’i, cukup jam terbangnya pada medan dakwah yang akan diterjuni, dan memiliki penguasaan terhadap disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan obyek dakwahnya. Tentulah amat sulit menemukan tiga hal tersebut sekaligus dalam diri seseorang. Selain itu, skala yang membesar dan kompleksitas yang meningkat membuat semakin tidak mungkin apabila pembuatan konsep hanya diserahkan pada seseorang saja. Saatnya sekarang menghadirkan para rijalud dakwah sesuai spealisasi ilmu atau kafa’ahnya dalam sebuah forum dialog yang seimbang. Penglibatan rijalud dakwah yang ahli dalam masalah sosiologi misalnya, mendesak untuk dihadirkan agar gerak dakwah yang dilakukan lebih sosiologis (bil lisani qoumi) dibandingkan pendekatan politik melulu. Penglibatan beragam rijalud dakwah dari berbagai disiplin ilmu amat dimungkinkan di dunia kampus. Tantangan dakwahnya ada di depan mata yaitu, bagaimana menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dari fenomena generasi baru yang “hedon-norak” berikut kebudayaannnya itu.
Masih berkaitan dengan fiqhud dakwah, masalah kiprah muslimah nampaknya memerlukan pembahasan tersendiri. Dominasi kaum hawa di beberapa fakultas merupakan fenomena tersendiri di kampus. Lebih-lebih lagi kalau keberadaannya di kampus memperoleh-“kalau tidak bisa dibilang klaim”- legitimasi feminisme. Masalah feminisme jika diletakkan sebagai sebuah aliran pemikiran belaka mungkin hanya menjadi ghazwah di tataran pemikiran saja. Tapi kalau feminisme sudah menjadi idiologi sebuah pergerakan, ini tentu saja akan menjadi perbenturan yang mewarnai kampus di masa datang. Di tingkat nasional, bisa disaksikan maraknya buruh-buruh perempuan dan merambahnya kaum ibu ke sektor-sektor yang selama ini tak pernah terbayangkan. Beralihnya peran ibu dari sektor domestik ke sektor publik ini jelas akan berpengaruh besar di masa datang.
Catatan yang patut digaris bawahi pada pembahasan di sekitar fiqhud dakwah adalah manajemen konflik bagi para rijalud dakwah. Membicarakan konflik bukanlah meniatkan terjadinya konflik akan tetapi meniatkan penyelesaian konflik agar menghasilkan ishlah yang mendatangkan rahmat. Menabukan membicarakan tentang konflik justru mengingkari kenyataan yang ada. Memendam konflik berarti menyimpan bom waktu yang akan menjadi bumerang. Oleh karenanya konflik harus diselesaikan semenjak dini. Seiring dengan terajutnya tali ukhuwah, buatlah sebuah mekanisme yang mendamaikan perselisiha menjadi islah di atas landasan ketakwaan. Kalau seorang rijalud dakwah berhasil memanej konfliknya menjadi sebuah ishlah di atas ketakwaannya maka Allah akan merahmatinya (QS Al Hujurat ayat 10)
Introspeksi dan Evaluasi
Fenomena kefuturan pada sementara rijalud dakwah yang menggejala akhir-akhir ini bisa dilihat dari beberapa sudut. Hal pertama yang bisa dilihat adalah terhijabnya saluran komunikasi yang menimbulkan mis-persepsi dan tidak terserapnya permasalahan-permasalahan yang berkembang secara optimal. Komunikasi yang tidak efektif juga berdampak pada rendahnya pemahaman akan apa yang sebenarnya tengah diperdalam dan diperjuangkan. Akhirnya timbullah disorientasi pada sebagian rijalud dakwah.
Hal kedua sebagai akibat dari hal pertama adalah terhambatnya aktualisasi diri sebagian rijalud dakwah yang kurang sabar dan kurang pandai memahami tapi terkenal kritis, kreatif, aktif, dan progresif. Mereka yang sangat ekspresif dan energik ini, sebenarnya aset yang mahal dalam barisan rijalud dakwah. Oleh karenanya dibutuhkan langkah-langkah yang antisipatif untuk mengarahkan mereka kearah-arah yang tepat dan telah dipersiapkan dengan matang.
Hal ketiga sebagai akibat dari hal kedua adalah terjadinya stagnasi internal, di mana terdapat kecenderungan untuk defensif, tidak argumentatif, dan tidak antisipatif terhadap perkembangan yang ada. Kecenderungan yang umum adalah bertahan pada apa yang sudah ada, beku pada apa yang dianggap baku, takut berkreatifitas, malu berinovasi, khawatir salah, dan pasif menerima apa adanya. Akhirnya muncullah kebosanan dan kebencian akan kemapanan yang bersifat emosional.
Hal keempat dan terakhir adalah rongrongan eksternal. Bagaimanapun golongan kiri, kanan, haddamah, dan generasi baru yang menjadi pialang peradaban barat akan merongrong terus baik secara politis maupun pemikiran dengan pola kerja yang sistematis. Sementara-“di sinilah pentingnya fiqhul ikhtilaf dan pemahaman terhadap harokah yang baik”-kelompok politik atau aliran pemikiran tertentu dalam Islam lainnya menawarkan berbagai alternatif lain untuk dipilih.
Khatimah
Memenej dakwah pada hakekatnya menjalankan fungsi kekhalifan di muka bumi ini. Jangan sampai ketika kita berdakwah di kampus, kaidah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka) berubah perlahan-lahan menjadi kaidah dakwah khashshah wa harokatus sirriyah (dakwah khusus dan aktifitas tertutup). Jangan sampai ketika kita berdakwah, melakukan suatu kegiatan di kampus, pemberi materinya kita, panitianya kita, dan para pesertanyapun kita semua. Marilah kita belaku professional dalam berdakwah sehingga kita dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.
Allah menyaksikan apa yang terlintas pada setiap lubuk hati para Aktifis Dakwah Kampus. Maha suci Engkau Ya Allah, dengan memuji Engkau, aku bersaksi tiada Ilah kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada Mu dan aku bertaubat kepada Mu.
Saturday, November 21, 2009
Keutamaan Sepuluh Awal Zulhijjah
Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah berjumpa dengan bulan Zulhijjah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Zulhijjah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.
Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Zulhijjah
Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».
“Tidak ada satu amal soleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal soleh yang dilakukan pada hari-hari ini (iaitu 10 hari pertama bulan Zulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya dan tidak ada satu pun daripada keduanya (jiwa dan harta) yang kembali.”[1]
Di antaranya lagi yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran daripada para ulama iaitu: sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang-kala juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut boleh dimaksudkan dengan sepuluh hari Zulhijjah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali menyatakan bahawa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Zulhijjah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh majoriti pakar tafsir daripada para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]
Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijjah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal soleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal soleh yang dilakukan pada hari-hari ini (iaitu 10 hari pertama bulan Zulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[6]
Ibnu Rajab Al Hambali menyatakan, “Hadits ini menunjukkan bahawa amalan di sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahawa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahawa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”[7]
Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka boleh jadi ia lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Zulhijjah. Ini kerana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian iaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahawa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Zulhijjah tidak kalah walaupun dibandingkan dengan jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) berbanding jihad.[8]
Ibnu Rajab Al Hambali menyatakan, “Hal ini menunjukkan bahawa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhal (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhal (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhal untuk beramal akan memiliki pahala berlebih kerana pahalanya yang akan dilipatgandakan.”[9] Mujahid menyatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Zulhijjah akan dilipatgandakan.”[10]
Sebahagian ulama menyatakan bahawa amalan pada setiap hari di awal Zulhijjah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang menyatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arafah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadha’il yang lemah (dha’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Zulhijjah berdasarkan hadits sahih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[11]
Amalan yang Dianjurkan di Sepuluh Hari Pertama Awal Zulhijjah
Keutamaan sepuluh hari awal Zulhijjah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut boleh jadi solat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan soleh lainnya.[12] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Zulhijjah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari isterinya, beberapa isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Zulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[13], …”[14]
Di antara sahabat yang megamalkan puasa selama sembilan hari awal Zulhijjah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qatadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat majoriti ulama. [15]
Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Zulhijjah sama sekali.”[16] Mengenai riwayat ini, para ulama memiliki beberapa penjelasan.
Ibnu Hajar Al Asqalani menyatakan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa ketika itu –padahal baginda saw suka melakukannya- kerana khuatir umatnya menganggap puasa tersebut wajib.[17]
Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan bahawa ada riwayat yang menyebutkan hal yang berbeza dengan riwayat ‘Aisyah di atas. Lantas beliau menyebutkan riwayat Hafshoh yang menyatakan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan puasa pada sembilan hari awal Zulhijjah. Sebahagian ulama menjelaskan bahawa jika ada pertentangan antara perkataan ‘Aisyah yang menyatakan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sembilan hari Zulhijjah dan perkataan Hafshoh yang menyatakan bahawa beliau malah tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari Zulhijjah, maka yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Zulhijjah.
Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahawa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Zulhijjah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di majoriti hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebahagian hari dan berbuka di sebahagian hari lainnya.[18]
Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Zulhijjah (dari tanggal 1 sampai 9 Zulhijjah) atau berpuasa pada sebahagian harinya.
Catatan: Kadang-kala dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Zulhijjah. Yang dimaksudkan adalah majoriti dari sepuluh hari awal Zulhijjah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied.[19]
Keutamaan Hari Arafah
Di antara keutamaan hari Arafah (9 Zulhijjah) disebutkan dalam hadits berikut,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arafah (iaitu untuk orang yang berada di Arafah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[20]
Itulah keutamaan orang yang berhaji. Saudara-saudara kita yang sedang wukuf di Arafah saat ini telah rela meninggalkan sanak keluarga, negeri, telah pula menghabiskan hartanya, dan tubuh mereka pula dalam keadaan letih. Yang mereka inginkan hanyalah keampunan, keredhaan, dekat dan berjumpa dengan Rabbnya. Cita-cita mereka yang berada di Arafah inilah yang akan mereka perolehi. Darjat mereka pun akan tergantung pada niat mereka masing-masing.[21]
Keutamaan yang lainnya, hari Arafah adalah waktu mustajabnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.”[22] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau dikabulkan.[23] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a pada hari Arafah adalah do’a yang mustajab kerana dilakukan pada waktu yang utama.
Jangan Tinggalkan Puasa Arafah
Bagi orang yang tidak melakukan haji , dianjurkan untuk menunaikan puasa Arafah iaitu pada tanggal 9 Zulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[24] Hadits ini menunjukkan bahawa puasa Arafah lebih utama daripada puasa ‘Asyura. Di antara alasannya, Puasa Asyura berasal daripada Nabi Musa, sedangkan puasa Arafah berasal daripada Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[25] Keutamaan puasa Arafah adalah iaakan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau boleh pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya darjat.[26]
Akan tetapi untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arafah.
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arafah. Ketika itu baginda saw diberikan minuman susu, baginda pun meminumnya.”[27]
Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Umar bahawa beliau ditanya mengenai puasa hari Arafah di Arafah. Beliau menyatakan,
حَجَجْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ أَبِى بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ. وَأَنَا لاَ أَصُومُهُ وَلاَ آمُرُ بِهِ وَلاَ أَنْهَى عَنْهُ
“Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan baginda tidak menunaikan puasa pada hari Arafah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu, begitu juga dengan Umar , beliau pun tidak berpuasa ketika itu, begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arafah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.”[28]
Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arafah di Arafah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman),ia juga bertujuan agar lebih menguatkan diri di dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arafah. Inilah pendapat majoriti ulama.[29]
Puasa Hari Tarwiyah (8 Zulhijjah)
Ada riwayat yang menyebutkan,
صَوْمُ يَوْمَ التَّرْوِيَّةِ كَفَارَةُ سَنَة
“Puasa pada hari tarwiyah (8 Zulhijjah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.”
Ibnul Jauzi menyatakan bahawa hadits ini tidak sahih.[30] Asy Syaukani menyatakan bahawa hadits ini tidak sahih dan dalam riwayatnya ada perawi yang pendusta.[31] Syaikh Al Albani menyatakan bahawa hadits ini dhaif (lemah).[32]
Oleh kerana itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Zulhijjah kerana hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa kerana mengamalkan keumuman hadits sahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Zulhijjah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.
Thursday, November 19, 2009
Aku Bukan Manusia Baik
Aku bukan hamba Allah yang baik
Banyak dosa dan maksiat
Banyak alpa dan lalai
Sering terlena dengan dunia
Acapkali leka dengan permainan
Selalu terlibat dengan hal-hal yang tidak berguna
Aku bukan kawan yang baik
Banyak hak-hak sahabat yang tidak kutunaikan
Sering bantuan tidak aku berikan
Justru ketika mereka sangat memerlukan
Aku bukan suami yang baik
Banyak ketidak adilan yang kulakukan
Banyak kezaliman yang kuperbuat
Terlalu banyak tuntutan hak yang aku minta
Sementara kewajiban tidak sepenuhnya aku tunaikan
Aku bukan ayah yang baik
Seringkali anak kutinggalkan sedang tidur
Dan ketika aku kembali dia pun sudah tertidur
Jarang dekapan hangat kuberikan
Jarang ada waktu untuk bermain dengannya
Padahal dia sering mengingau memanggil namaku
Aku bukan guru yang baik
Banyak anak-anak yang belum paham apa yang kuajarkan
Banyak yang belum berubah akhlak mereka
Banyak pula yang ibadah mereka masih jalan di tempat
Banyak lagi yang belum tahu menghormati guru
Tidak tahu menghargai waktu
Tidak berminat membaca buku
Tidak suka majelis ilmu
Aku bukan imam yang baik
Sering makmum kutinggalkan
Sering orang tak berilmu terpaksa maju jadi imam
Sebab imam mereka lebih suka menjadi makmum di masjid lain
Bukankah satu kezaliman meninggalkan mereka?
Menjalankan agama tanpa arahan dan bimbingan
Dari seorang imam yang sepatutnya mendampingi sebagai teman
Aku bukan pelajar yang baik
Tesisku sampai sekarang belum selesai
Pelbagai alasan kuberikan
Untuk melegalkan kemalasan
Saya sibuk bekerja...
Sayang ngak punya masa...
Malam sudah penat dan letih...
Habis isya sudah ngak ada tenaga...
Sekolah banyak memakan waktu...
Ngak sempat ke pustaka...
Dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari
Hei bung...
Memang cuma anda yang jadi mahasiswa?
Memang cuma anda yang bekerja?
Memang cuma anda yang berkeluarga?
Memang cuma anda yang penat dan letih?
Memang orang lain punya masa lebih dari 24 jam?
Aku bukan manusia yang baik.
Tuesday, November 17, 2009
Apa yang kamu dapat ternyata lebih saudaraku.
Malam kemaren ana datang mengunjungi salah seorang ikhwah "min baladina haza khassah" juga.
Ana sampai pas ketika azan isya dikumandangkan
Ana hantar zaujah ke rumah akh tadi untuk bersama zaujah beliau
Ana dan akh berangkat ke surau untuk solat isya
Selepas solat akh bagi tau kita ke kedai aja di rumah ngak ada apa-apa
Kami duduk di kedai mamak dan memesan minuman.
Ana pesan horlik panasa dan akh pesan air limau panas
Sambil minum kami ngobrol ngalor kidul kesana kesini
Bincang beragam isu mulai dari kuliah sampai urusan kerja
Wuih...banyak juga ternyata masalah-masalah yang tersembunyi selama ini
Mungkin pertemuan ini ada hikmahnya
Setidaknya ana lebih memahami karakter akh ana
Kami balik ke rumah akh sebab sudah agak malam
Rencananya ana cuma mau ngambil zaujah trus pulang
Ternyata di rumah akh sudah disediakan makanan
Ada nasi putih yang masih mengepul
Ada mi goreng telur
Dan ada gulai daging
Tapi yang uniknya adalah daging yang ada dalam gulai itu cuma sepotong
Ya cuma sepotong
Ana ngka jadi ngambil daging itu
Akh juga ngak ngambil
Mungkin tadi zaujah juga ngak ngambil
So ana yakin dari tadi setelah sekian orang menikmati gulai itu
Dagingnya tetapa utuh SATU ketul
Subhanallah...
Ana jadi malu dengan diri sendiri
Ana ingat keadaan diri ini
Alhamdulillah di rumah ada makanan
Di kulkas juga ada makanan mentah yang siap diolah
Ya Allah...
Aku patut lebih banyak lagi bersyukur padaMu
Aku pantas lebih banyak bertafakkur kepadaMu
Aku seharusnya lebih banyak lagi bersujud di hadapanMu
Aku sewajarnya lebih banyak lagi mentadabburi kitabMu
Ya Rabbi...
Inni Zhalamtu Nafsii Zhulman Katsiro Kabiiro Walaa Yaghfiru Azzunuba illa Anta
Fagfirlii Magfhiratan Min 'Indika Warhamnii Innaka Anta Khairu Arrahimin
Subscribe to:
Posts (Atom)