TAPI, JANGAN LUPA NASIBMU DI DUNIA !!!
Mereka berkata bahwa sebagian kaum muslimin ketinggalan dalam sains dan teknologi akibat terlalu sibuk dengan urusan akhirat dan melupakan dunia.
Atas dasar apa mereka berkata demikian?
Adakah manusia yang sehat melupakan nasibnya di dunia, padahal dia sedang hidup di dunia?
Mungkinkan seseorang lupa terhadap apa yang sedang dialaminya?
Perlukah manusia diingatkan agar mereka mencari kenikmatan dunia?
Pernahkan anda membenci harta karena sibuk ibadah?
Sering terdengar ungkapan yang menerangkan bahwa Islam menganjurkan untuk mencari kekayaan. Dan menganjurkan agar kehidupan dunia seimbang dengan kehidupan akhirat. Anjuran tersebut sering didukung dengan menggunakan beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya firman Allah :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Ayat ini sering diartikan dengan kalimat: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...” [QS. al-Qashash (28) : 77]
Pemahaman yang sama juga diambil dari firman Allah yang berisi do’a yang selalu Rasul amalkan dan beliau anjurkan kepada ummatnya untuk selalu berdu’a dengan ayat tersebut, yaitu firman Allah :
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.” [QS. al-Baqarah (2) : 201]
Kebanyakan manusia menganggap bahwa kebaikan dunia adalah harta kekayaan yang berlimpah, jabatan yang tinggi, badan selalu sehat, pasangan hidup yang senantiasa menghibur dan lain-lain.
Kita yakin bahwa Rasul SAW adalah kekasih Allah, bila beliau berdo’a memohon apapun pasti Allah mengabulkannya. Dan beliau sering sekali berdu’a dengan do’a ini.
Apakah yang dimaksud dengan kebaikan dunia menurut Islam? Kalau sekiranya yang dimaksud dengan kebaikan dunia adalah harta kekayaan yang berlimpah, mengapa Rasulullah tidak terkenal sebagai konglomerat?
Kalau yang dimaksud dengan kebaikan dunia adalah jabatan terhormat, mengapa Rasulullah dimusuhi oleh sebagian masyakat Arab? Atau yang dimaksud dengan kebaikkan itu adalah panjang umur dan sehat selalu, mangapa beliau hanya hidup selama 63 tahun dan terkadang menderita sakit? Sementara diantara orang lain bahkan orang kafir ada yang mengalami hidup hingga lebih dari 100 tahun?
Disamping kedua ayat di atas ada lagi ayat yang sering dipahami dengan tafsirkan yang sama yang mengarah kapada materialism, yaitu firman Allah :
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Ayat ini sering diartikan dengan: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib satu kaum sehingga mereka sendiri merubahnya.” [QS. ar-Ra'd (13) : 11]
Sungguh banyak orang yang menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang pentingnya kemajuan pembangunan fisik dan materi. Padahal tanpa didukung oeh ayat al-Qur’an, umumnya manusia berlomba dalam mencapai kemajuan material. Karena itu apakah makna dukungan tersebut?
Ketiga ayat ini sering dijadikan argumantasi oleh sebagian penceramah dan muballig untuk mendukung kaum muslimin agar semangat mencari kehidupan dunia, meningkatkan pembangunan fisik dan materi serta mendoroang mereka agar dapat berlomba dalam teknologi dan sains.
Keterangan seperti ini bukan saja disampaikan melalui ceramah-ceramah akan tetapi juga disampaikan melalui media cetak hingga pemahamannya sudah demikian melekat pada benak khalayak ramai, karena telah diuraikan oleh orang-orang yang mereka pandang sebagai penasihat terkemuka atau ulama.
Sangat penting kiranya bagi kita untuk melakukan studi dengan memperhatikan hubungannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya, agar dapat diketahui lebih mendalam maknanya.
Ayat pertama firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) dunia.” [QS. al-Qashash (28) : 77]
Apa yang dimaksud dengan nasibmu dari dunia? Tentu berbeda dengan nasibmu di dunia.
Untuk memahami ayat ini, sangat diperlukan kajian terhadap ayat sebelumnya yaitu firman Allah :
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’.” [QS. al-Qashash (28) : 76]
Kalau kita perhatikan dengan cermat, kedua ayat ini ternyata menjelaskan pentingnya beramal untuk akhirat dan mengingatkan jangan tertipu dengan keni’matan dunia seperti halnya yang dialami oleh Qarun.
Namun kenapa banyak yang memahami ayat yang berbunyi وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا sebagai dalil pentingnya mencari kehidupan dan meningkatkan kekayaan dunia. Padahal bila dihubungkan dengan ayat sebelumnya, dapat diketahui bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang mendapat keni’matan banyak harta di dunia. Dan ayat ini mengarahkan mereka agar tidak terlena dengan kenimatan sesaat.
Mereka harus senantiasa ingat akan nasibnya dari dunia yang sangat sedikit dan sebentar. Bila kenikamatan yang sedikit ini tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kehidupan yang abadi tentu mereka akan menyesal untuk selamanya. Sementara sebagian orang menjadikan ayat ini sebagai dorongan untuk meningkatkan kehidupan duniawi, padahal tanpa menggunakan ayat al-Qur’an pun kebanyakan manusia terus berlomba dalam mencari dan meningkatkan kehidupan dunia.
Sebaliknya, karena kesibukan duniawi yang tidak pasti ini, banyak sekali manusia melupakan tugasnya sebagai hamba dalam menghadapi hari akhirat yang pasti terjadi. Karena itu sangat diperlukan bagi mereka penjelasan tentang hakikat keni’matan dunia, bahwa keni’matan tersebut Allah sediakan demi bekal akhirat. Dan manusia diingatkan bahwa waktu yang tersedia untuk membekali diri demi kepntingan akhirat sangat terbatas. Karena itu janganlah manusia lalai akan keterbatasan waktu ini.
Ibnu Abi-Ashim mengatakan: “Yang dimaksaud dengan ‘jangan lupa nasibmu dari dunia’ bukan berarti jangan melupakan keni’matan lahir di dunia, melainkan umurmu. Artinya gunakanlah usiamu untuk akhirat.”
Dan Ibnul Mubarak juga berpandangan yang sama, ia berkata: “Yang dimaksud dengan ‘jangan lupa nasibmu dari dunia’ adalah beramal ibadah dalam taat kepada Allah di dunia untuk meraih pahala diakhirat.”
Dua ungkapan diatas bukanlah ungkapan yang baru melainkan kelanjutan dari ungkapan para pendahuluunya dari para ahli tafsir baik generasi shahabat, tabiin atau tabittabi’in.
Dalam menafsirkan ayat ini Ath-Thabari mengatakan: “Janganlah kamu tinggalkan nasibmu dan kesempatanmu dari dunia untuk berjuang demi meraih nasibmu dari akhirat, maka kamu terus beramal ibadah yang dapat menyelamatkanmu dari siksaan Allah.”
Dia juga mengutip beberapa ungkapan para shahabat, dianataranya:
Ibnu Abbas: “Kamu beramal didunia untuk akhiratmu.”
Mujahid: “Beramal dengan mentaati Allah.”
Zaid: ”Janganlah kamu lupa mengutamakan dari kehidupan duniamu untuk akhiratmu, sebab kamu hanya akan mendapatkan di akhiratmu dari apa yang kamu kerjakan didunia dengan memanfaatkan apa yang Allah rizkikan kepadamu.”
Dari beberapa pernyataan shahabat diatas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan “jangan melupakan nasibmu dari dunia” adalah peringatan jangan lalai terhadap kesempatan untuk beramal yang tidak lama lagi akan berakhir. Artinya menyuruh manusia agar mampu menggunakan semua karunia Allah demi keselamatan dan kemaslahatan akhirat.
Dengan demikian, maka makna ayat ini sangat erat hubungannya antara awal, tengah dan penghujung ayat. Dan tidak ada hubungan dengan perintah untuk berlomba dalam mencari kehidupan duniawi atau meningkatkan kemajuan ekonomi. Sebab tanpa perintah, umumnya manusia terus berlomba untuk meraih kehidupan dunia.
Namun demikian, justru pemahaman inilah yang lebih populer dan meyakinkan karena sering dikemukakan oleh orang-orang yang berpengaruh. Memang, tidak sedikit pandangan yang keliru tapi meyakinkan.
Pemahaman di atas juga sering di perkuat dengan ungkapan: Kerjakanlah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, dan kerjakanlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.
Meski tidak pernah ada yang mengatakan siapa yang meriwayatkannya, sebagian penceramah mengatakan bahwa ungkapan ini adalah sabda Rasul SAW. Penulis hingga kini belum menemukan bukti sebagai hadits nabi.
Terlepas dari perkataan siapa kalimat tersebut, yang jelas kalimat ini mengandung pepatah yang sangat bermanfaat bagi masyarakat bila dipahamai dengan tepat. Dan bila ditemukan ada pahaman yang kurang tepat atau keliru, sebagai hamba, kita terpanggil untuk mengemukakan apa yang dipandang lebih tepat.
Dengan harapan mudah-mudahan akan menjadi bahan pertimbangan. Menurut al-Qurthubi , kalimat di atas sejajar dengan ungkpan Abdullah bin Umar, ia berkata: “Bercocok tanamlah kamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, dan beramallah kamu seolah-olah kamu akan mati esok hari.”
Sehubungan dengan kalimmat yang pertama yaitu keabadian hidup didunia al-Minawi berkata: “Yang demaksud dengan ungkapan tersebut adalah bahwa manusia apabila yakin akan hidup abadi maka akan berkuranglanglah hirsh-nya (cintanya kepada dunia) dan dia mengetahui bahwa apa yang diinginkannya pasti akan tercapai kendatipun ditempuh dengan rileks, sebab bila tidak tercapai hari ini maka akan diraih esok karena hidupku abadi.”
Karena itu, janganlah terlalu sibuk dalam urusan dunia sebab ada tugas lain yang lebih penting yaitu urusan akhirat. Dan dalam melaksanakan tugas demi meraih keni’matan akhirat, setiap hamba mesti merasa seolah-olah tidak ada kesempatan lain untuk melakukannya kecuali hari ini.
Maka bila sedang sibuk menghadapi urusan keduniaan kemudian mendengar panggilan Ilahi berupa shalat, da’wah, infaq, jihad dan lainnnya, maka sambutlah panggilan ini dan tinggalkanlah urusan dunia, karena kesempatan untuk menyambut panggilan ini tidak ada lagi waktu selain hari ini sementara untuk urusan dunia waktunya sangat lapang.
Sekiranya kalimat ini dari ungkapan Rasul, maka tidak dapat diragukan hadits Rasul adalah tafsir al-Qur’an yang pertama dan tepat untuk dijadikan sebagai rujukan utama dalam memahami al-Qur’an.
Dan apabila kalimat tersebut adalah ungkapan shahabat, maka sesungguhnya mereka adalah generasi pertama yang lebih memahami makna al-Qur’an dan yang menjadi tauladan bagi generasi berikutnya.
Karena itu pemahaman mereka adalah lebih tepat untuk diikuti dan dipercayai dibandingkan dengan pemahaman generasi berikutnya. Bila ditemukan pernyataan mereka tidak sesuai dengan petunjuk al-Qur’an, maka besar kemungkinan yang tidak sesuai bukan pernyataannya akan tetapi pemahaman kita terhadap pernyataan tersebut. Wallahu'alam.
Tuesday, July 20, 2010
Hendaklah Engkau Bersama Dengan Orang Yang Lurus
Kehidupan manusia pasti akan berakhir. Tidak ada yang kekal selama-lamanya. Kematian pasti akan dijumpai manusia. Kemana setelah kematian? Allah Rabbul Alamin akan menetapkan nasib manusia. Semuanya sesuai dengan ihtiar manusia.
Ihtiar yang sudah dilakukan manusia itu, yang nantinya di akhirat menjadi mizan (timbangan) bagi kehidupannya yang bersifat kekal, kemuliaan atau kehinaan. Allah Azza Wa Jalla telah memberikan petunjuk (hudan) yang akan memberi kemuliaan bagi manusia yang mengikutinya berupa al-Qur'an dan as-Sunnah. Karenanya, manusia tidak dapat memungkirinya kelak.
Manusia yang akan mendapatkan kemuliaan itu, mereka yang memilih berteman dan berkarib dengan orang-orang yang menempuh jalan lurus (shirathal mustaqiem), dan tidak bersama dengan orang-orang yang menempuh jalan yang sesat dan bathil.
Hidupnya hanya berserah kepada Allah Azza Wa Jalla, dan tidak menyekutukan-Nya, serta berkhianat kepada-Nya. Tunduk, patuh, berserah diri sepenuhnya dengan ikhlas kepada-Nya. Tidak ingin sedikitpun berkhianat dan berbuat durhaka.
Mereka yang menempuh jalan lurus (shirath) itu, tidak mau bermain-main dengan para pendusta agama Allah Ta’ala. Mereka yang menempuh jalan Rabbnya, tak hendak berwala’ dan memberikan loyalitas kepada mereka yang memusuhi agama Allah, serta orang-orang yang terang-terangan berkhianat dengan berbuat syirik, dan bertahkim kepada hukum-hukum selain hukum Allah Rabbul Alamin. Mereka yang menempuh jalan lurus (shirath) akan baro’ terhadap segala bentuk kekufuran dan kemungkaran, dan menarik garis pembatas yang tegas terhadap praktik-praktik kebathilan dan kezaliman dalam kehidupan.
Allah Azza Wa Jalla, senantiasa mengingatkan bagi para penempuh jalan lurus (shirath), agar mereka hanya bersama-sama dengan orang yang dikasihi-Nya, seperti dalam al-Qur’an :
“Dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan itulah teman-teman yang sebaik-baiknya”. (An-Nisa’ : 69)
Selanjutnya, Allah Azza Wa Jalla, pasti menyandarkan shirath kepada orang-orang yang menempuhnya, yaitu orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah, agar hati orang yang menempuh jalan lurus (shirath) itu tidak dihinggapi perasaan sedih, karena pasti tidak akan terkucilkan, dan ia akan bersama-sama dengan orang-orang yang menempuh jalan shirath lainnya. Bahkan, mereka akan dijamin bersama mereka yang menempuh jalan shirath di akhirat kelak, yaitu para Anbiya' (Nabi-Nabi), Shiddiqin, mereka yang mati syahid, Tabi'in, dan orang-orang yang shalih.
Berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dan bermusyarakah dengan orang-orang yang memusuhi agama Allah, dan menentang hukum-hukum Allah, bersama-sama dengan orang-orang berlaku durhaka, serta bersama-sama dengan pelaku kebatahilan dan kezaliman.
Betapapun, sekarang di dunia, mereka yaitu para pelaku menyimpang, sepertinya mendapatkan kenikmatan dengan harta yang melimpah, jabatan, kekuasaan, dan segala bentuk kenikmatan lainnya, tetapi di hadapan Allah Azza Wa Jalla tidak ada artinya. Para penempuh jalan kesesatan yang menyimpang itu, pasti akan binasa, dan dihancurkan oleh Allah Azza Wa Jalla, yang Maha Aziz (Maha Perkasa), dan tidak pernah mendapatkan ampunan.
Karenanya, bagi penempuh jalan yang menyimpang atau sesat, meskipun jumlah mereka banyak, tetapi nilai dan kualitas mereka sangatlah sedikit, sebagaimana dikatakan para ulama Salaf, “Tetaplah engkau tempuh jalan kebenaran, dan janganlah engkau bersedih karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan jauhilah jalan kebathilan, dan janganlah engkau tertipu oleh banyaknya orang yang binasa di jalan itu (kesesatan dan kebathilan)”.
“Dan, jika anda sedih merasa sendirian, maka layangkanlah pandanganmu ke arah teman-teman terdahulu (para generasi salaf), dan berkeinginanlah untuk senantiasa bertemu mereka, serta alihkanlah pandangan anda selain dari orang-orang selain mereka. Karena mereka (orang-orang lain yang menyimpang dari jalan lurus itu), tidak akan menolongmu sama sekali. Dan jika mereka memanggil anda untuk menyimpang dari jalan yang anda tempuh, maka janganlah anda menghiraukan mereka”, ucap Ibnu Qayyim al-Jauzi.
Seperti dalam lantunan dalam do’a qunut : “Ya Allah,tunjukilah aku bersama orang yang Engkau beri petunjuk, bukan orang-orang yang Engkau murkai”. Wallahu’alam.
Ihtiar yang sudah dilakukan manusia itu, yang nantinya di akhirat menjadi mizan (timbangan) bagi kehidupannya yang bersifat kekal, kemuliaan atau kehinaan. Allah Azza Wa Jalla telah memberikan petunjuk (hudan) yang akan memberi kemuliaan bagi manusia yang mengikutinya berupa al-Qur'an dan as-Sunnah. Karenanya, manusia tidak dapat memungkirinya kelak.
Manusia yang akan mendapatkan kemuliaan itu, mereka yang memilih berteman dan berkarib dengan orang-orang yang menempuh jalan lurus (shirathal mustaqiem), dan tidak bersama dengan orang-orang yang menempuh jalan yang sesat dan bathil.
Hidupnya hanya berserah kepada Allah Azza Wa Jalla, dan tidak menyekutukan-Nya, serta berkhianat kepada-Nya. Tunduk, patuh, berserah diri sepenuhnya dengan ikhlas kepada-Nya. Tidak ingin sedikitpun berkhianat dan berbuat durhaka.
Mereka yang menempuh jalan lurus (shirath) itu, tidak mau bermain-main dengan para pendusta agama Allah Ta’ala. Mereka yang menempuh jalan Rabbnya, tak hendak berwala’ dan memberikan loyalitas kepada mereka yang memusuhi agama Allah, serta orang-orang yang terang-terangan berkhianat dengan berbuat syirik, dan bertahkim kepada hukum-hukum selain hukum Allah Rabbul Alamin. Mereka yang menempuh jalan lurus (shirath) akan baro’ terhadap segala bentuk kekufuran dan kemungkaran, dan menarik garis pembatas yang tegas terhadap praktik-praktik kebathilan dan kezaliman dalam kehidupan.
Allah Azza Wa Jalla, senantiasa mengingatkan bagi para penempuh jalan lurus (shirath), agar mereka hanya bersama-sama dengan orang yang dikasihi-Nya, seperti dalam al-Qur’an :
“Dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan itulah teman-teman yang sebaik-baiknya”. (An-Nisa’ : 69)
Selanjutnya, Allah Azza Wa Jalla, pasti menyandarkan shirath kepada orang-orang yang menempuhnya, yaitu orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah, agar hati orang yang menempuh jalan lurus (shirath) itu tidak dihinggapi perasaan sedih, karena pasti tidak akan terkucilkan, dan ia akan bersama-sama dengan orang-orang yang menempuh jalan shirath lainnya. Bahkan, mereka akan dijamin bersama mereka yang menempuh jalan shirath di akhirat kelak, yaitu para Anbiya' (Nabi-Nabi), Shiddiqin, mereka yang mati syahid, Tabi'in, dan orang-orang yang shalih.
Berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dan bermusyarakah dengan orang-orang yang memusuhi agama Allah, dan menentang hukum-hukum Allah, bersama-sama dengan orang-orang berlaku durhaka, serta bersama-sama dengan pelaku kebatahilan dan kezaliman.
Betapapun, sekarang di dunia, mereka yaitu para pelaku menyimpang, sepertinya mendapatkan kenikmatan dengan harta yang melimpah, jabatan, kekuasaan, dan segala bentuk kenikmatan lainnya, tetapi di hadapan Allah Azza Wa Jalla tidak ada artinya. Para penempuh jalan kesesatan yang menyimpang itu, pasti akan binasa, dan dihancurkan oleh Allah Azza Wa Jalla, yang Maha Aziz (Maha Perkasa), dan tidak pernah mendapatkan ampunan.
Karenanya, bagi penempuh jalan yang menyimpang atau sesat, meskipun jumlah mereka banyak, tetapi nilai dan kualitas mereka sangatlah sedikit, sebagaimana dikatakan para ulama Salaf, “Tetaplah engkau tempuh jalan kebenaran, dan janganlah engkau bersedih karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan jauhilah jalan kebathilan, dan janganlah engkau tertipu oleh banyaknya orang yang binasa di jalan itu (kesesatan dan kebathilan)”.
“Dan, jika anda sedih merasa sendirian, maka layangkanlah pandanganmu ke arah teman-teman terdahulu (para generasi salaf), dan berkeinginanlah untuk senantiasa bertemu mereka, serta alihkanlah pandangan anda selain dari orang-orang selain mereka. Karena mereka (orang-orang lain yang menyimpang dari jalan lurus itu), tidak akan menolongmu sama sekali. Dan jika mereka memanggil anda untuk menyimpang dari jalan yang anda tempuh, maka janganlah anda menghiraukan mereka”, ucap Ibnu Qayyim al-Jauzi.
Seperti dalam lantunan dalam do’a qunut : “Ya Allah,tunjukilah aku bersama orang yang Engkau beri petunjuk, bukan orang-orang yang Engkau murkai”. Wallahu’alam.
Mengapa Nabi SAW Menangis?
Pernah terdengar seseorang berkata: “aku bukan tipe orang cengeng, aku adalah orang eksak, aku orang rasional bukan orang emosional, karena itu aku nggak biasa menangis, biarpun orang lain banyak yang menangis akibat tersentuh oleh nasihat dan terbawa oleh kondisi, namun aku tetap tidak menangis.”
Wahai saudaraku yang tidak menangisi kesalahan, tidakkah anda menangis ketika dilahirkan dahulu?, tidakkan anda menangis ketika ingin air susu ibu diwaktu kecil?, tidakkah anda menangis sewaktu kecil ketika belum mendapat apa yang diinginankan?.
Dulu anda mudah menangis ketika masih bersih dari dosa dan belum dituntut untuk bertaubat. sejak kapan anda berhenti menangis? dan kapan sebenarnya menangis itu lebih berguna dan lebih diperlukan?
Siapakah yang lebih patut untuk menangis, apakah orang yang masih bersih dari dosa karena belum dewasa, ataukah orang yang sudah dewasa yang tidak lama lagi akan menghadapi pertanggungjawaban tentang kehidupan selama di dunia?.
Siapakah yang lebih patut menangis, apakah orang yang belum punya ilmu dan belum berpikir tentang hakikat hidup dan tidak mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana yang benar, ataukan seorang pemikir yang paham dan mengetahui siapa dirinya dan apa arti hidupnya?
Para shahabat adalah generasi utama yang mesti kita jadikan sebagai teladan karena merekalah orang-orang yang mendapat bimbingan langsung dari Rasul dan merekalah pelaku sejarah diturunkannya AlQuran. Diantara mereka ada pemikir, politisi, ahli perang, penyair, bisnisman, teknokrat dan lain-lain. semua keahlian mereka telah digunakan untuk berjuang membela agama Allah jihad fi sabilillah.
Kendatipun keahlian mereka berbeda-beda namun ketika mereka tersentuh ayat-ayat AlQuran mereka tenggelam dalam kandungannya dan hanyut dalam maknanya. Kendatipun dihadapan musuh mareka tampil dengan gagah perkasa namun dikala mereka mendengar ayat-ayat Allah maka qalbu mereka mudah bergetar dan air mata mereka mudah keluar. Itulah orang-orang yang telah menulis sejarah dengan air mata dan darah.
Perjalanan hidup mereka dilestarikan dalam AlQuran.
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Setiap manusia memiliki rasa sedih dan bahagia, suka menangis dan tertawa. Yang dapat dibuktikan sejak lahir hingga lanjut usia. Semuanya adalah potensi yang sangat berguna bagi kepentingan hidup di
dunia kini dan di akhirat nanti.
Semua potensi adalah amanat ilahi yang sering dilupakan manusia dan sedikit sekali mereka yang menyadari. Setiap manusia baik yang sadar ataupun yang lalai semuanya
akan diminta pertanggungjawaban tentang semua kehidupannya. mereka semua akan disidang di hadapan pengadilan Yang Mahatinggi.
Karena menyadari bahwa setiap insan akan dihisab tentang kehidupan ini maka para ahli ibadah sering meneteskan air mata karena takut dan harap kepada Allah. Melalui buku ini penulis berupaya mengemukakan sebagian penglaman para mujahid yang telah mengisi lembaran sejarah dengan airmata, baik pada waktu sepi ataupun ramai baik pada waktu malam atau siang. Semoga Allah membimbing kita agar dapat mengikuti jejak para nabi dan shalihin. amiin
Wahai saudaraku yang tidak menangisi kesalahan, tidakkah anda menangis ketika dilahirkan dahulu?, tidakkan anda menangis ketika ingin air susu ibu diwaktu kecil?, tidakkah anda menangis sewaktu kecil ketika belum mendapat apa yang diinginankan?.
Dulu anda mudah menangis ketika masih bersih dari dosa dan belum dituntut untuk bertaubat. sejak kapan anda berhenti menangis? dan kapan sebenarnya menangis itu lebih berguna dan lebih diperlukan?
Siapakah yang lebih patut untuk menangis, apakah orang yang masih bersih dari dosa karena belum dewasa, ataukah orang yang sudah dewasa yang tidak lama lagi akan menghadapi pertanggungjawaban tentang kehidupan selama di dunia?.
Siapakah yang lebih patut menangis, apakah orang yang belum punya ilmu dan belum berpikir tentang hakikat hidup dan tidak mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana yang benar, ataukan seorang pemikir yang paham dan mengetahui siapa dirinya dan apa arti hidupnya?
Para shahabat adalah generasi utama yang mesti kita jadikan sebagai teladan karena merekalah orang-orang yang mendapat bimbingan langsung dari Rasul dan merekalah pelaku sejarah diturunkannya AlQuran. Diantara mereka ada pemikir, politisi, ahli perang, penyair, bisnisman, teknokrat dan lain-lain. semua keahlian mereka telah digunakan untuk berjuang membela agama Allah jihad fi sabilillah.
Kendatipun keahlian mereka berbeda-beda namun ketika mereka tersentuh ayat-ayat AlQuran mereka tenggelam dalam kandungannya dan hanyut dalam maknanya. Kendatipun dihadapan musuh mareka tampil dengan gagah perkasa namun dikala mereka mendengar ayat-ayat Allah maka qalbu mereka mudah bergetar dan air mata mereka mudah keluar. Itulah orang-orang yang telah menulis sejarah dengan air mata dan darah.
Perjalanan hidup mereka dilestarikan dalam AlQuran.
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Setiap manusia memiliki rasa sedih dan bahagia, suka menangis dan tertawa. Yang dapat dibuktikan sejak lahir hingga lanjut usia. Semuanya adalah potensi yang sangat berguna bagi kepentingan hidup di
dunia kini dan di akhirat nanti.
Semua potensi adalah amanat ilahi yang sering dilupakan manusia dan sedikit sekali mereka yang menyadari. Setiap manusia baik yang sadar ataupun yang lalai semuanya
akan diminta pertanggungjawaban tentang semua kehidupannya. mereka semua akan disidang di hadapan pengadilan Yang Mahatinggi.
Karena menyadari bahwa setiap insan akan dihisab tentang kehidupan ini maka para ahli ibadah sering meneteskan air mata karena takut dan harap kepada Allah. Melalui buku ini penulis berupaya mengemukakan sebagian penglaman para mujahid yang telah mengisi lembaran sejarah dengan airmata, baik pada waktu sepi ataupun ramai baik pada waktu malam atau siang. Semoga Allah membimbing kita agar dapat mengikuti jejak para nabi dan shalihin. amiin
Di mana Tempat Tinggalmu Kelak?
Di ujung senja yang memerah di gurun, udara masih terasa terik, dan perlahan-lahan mulai sejuk, saat menjelang datangnya malam. Lelaki itu bergegas menuju masjid. Menunaikan shalat Maghrib yang akan menjelang. Ia shalat dua rakaat. Sambil terus berdzikir, air matanya mengalir. “Di mana kelak aku berada?" ucapnya lirih. “Adakah aku akan mendapatkan tempat kemuliaan?” keluhnya.
Lelaki keturunan orang yang mulia itu kaya raya. Segalanya dimilikinya. Kekayaannya tak terhitung. Melimpah. Karena ia pandai berdagang. Semua pedagang berdagang dengannya. Keuntungannya tak henti-henti. Lelaki itu benar-benar sempurna, hartanya terus bertambah. Tetapi, kala senja ia nampak bersedih, menangis, dan terus menangis. Entah mengapa ia menangis? Sejatinya lelaki itu adalah lelaki yang shaleh dan zuhud dalam hidupnya.
Lelaki itu mengerti kelak akhir kehidupannya. Ia mengetahui orang-orang yang memiliki kekayaan dan istana, segalanya tak lagi berguna. Betapa istana yang megah dan mewah itu semuanya akan pupus, di saat datangnya kematian yang harus diterimanya. Betapa akhir kehidupannya itu, manusia hanyalah menempati sebuah tempat, yang tak lebih lebarnya satu meter dan panjangnya dua meter, yang ditutup dengan papan. Itulah kehidupan alam kubur. Siapapun adanya akan mengalami hal seperti itu. Tidak ada perbedaan antara raja dengan orang miskin.
Pakaian yang indah dan halus terbuat dari sutera, menjadi tak lagi berguna, semuanya akan ditanggalkannya. Siapa saja yang mati, hanyalah menggunakan kain kapan. Itulah pakaian kebesaran yang akan digunakan orang-orang sudah mati. Raja, orang kaya, orang miskin, dan jelata, semuanya hanyalah akan menggunakan kain kafan.
Ketika hidup di dunia, si kaya menggunakan kendaraan yang paling mewah, mungkin seekor unta yang paling baik, bulunya mengkilap, gemuk dan kuat. Tetapi, saat ajal tiba, dan kendaraan yang ditumpangi, tak lain hanyalah keranda, yang tak berharga. Inilah satu-satunya kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat terakhir dalam hidupnya.
Tidak ada lagi kesetiaan yang akan selalu menemani. Isteri–isteri yang cantik dan setia, tak akan menemaninya. Dialam kubur ia hanya sendirian. Tanpa siapa-siapa lagi. Kesetiaan hanya dalam kehidupan dunia. Janji hanya dalam kehidupan dunia. Tidak ada seorang suami atau isteri yang betapapun sangat setianya, mau menemaninya di alam kubur. Ia hanyalah sendirian. Sendirian bersama dengan binatang-binatang yang akan menggerogoti tumbuhnya yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa.
Lelaki itu terus bertepekur di dalam masjid. Usai shalat Isya’ tak juga beranjak dari duduknya. Terus berdzikir dan bermunajat kepada Allah Azza Wa Jalla. “Di mana aku kelak berada?” keluhnya. Ia sangat kawatir Sang Pencipta murka, dan tidak mau menerimanya, dan menempatkan dirinya di tempat yang hina. “Ya Rabb, ampunilah segala dosa dan khilafku, dan jauhkanlah aku dari fitnah dunia, serta selamatkanlah aku dari siksamu,” keluhnya.
Allah Azza Wa Jalla memberikan karunia kekayaan yang sangat melimpah kepada lelaki itu. Perdagangannya selalu untung. Tanah pertaniannya yang sangat subur, di kelola para budaknya. Makin lama makin maju, dan hartanya semakin bertambah. Tetapi, lelaki itu tak menjadi lupa dan bersenang-senang dengan kekayaan yang dimilikinya. Sikapnya tak pernah berubah. Hartanya yang melimpah tak melupakan dari taqwanya kepada Allah Azza Wa Jalla.
Maka kekayaannya itu dimanfaatkannya untuk kaum muslimin. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan menuju akhirat. Sehingga, kekayaan itu menjadi indah baginya, karena semakin banyak kekayaan yang dimilikinya, semakin banyak pula sedekahnya kepada fuqara’. Ia tidak sombong, dan melakukan amal dengan sembunyi-sembunyi.
Di saat malam telah tiba, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam, ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau berkeliling ke rumah para fuqara’ yang tak suka menadahkan tangannya. Pekerjaan itu ia lakukannya, sampai ajal menjemputnya. Tak pernah henti. Mungkin sesuatu yang tak pernah dimengerti oleh siapapun. Tapi, itulah dilakukan oleh seorang yang sudah zuhud terhadap kehidupan dunia.
Tidak heran banyak orang miskin di Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatuhnya rezeki untuk mereka itu. Setelah lelaki itu meninggal mereka tak lagi menerima rezeki itu. Barulah mereka menyadari siapakah sesungguhnya gerangan manusia dermawan itu?
Sewaktunya jenazah lelaki itu dimandikan, terlihat ada bekas hitam dipunggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya. “Bekas apa ini?” Lalu, diantara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.”
Orang-orang miskin lidahnya kelu, dan hanya dapat berdoa dalam hati, ketika ribuan lelaki mengiringi jenazahnya menuju tempat terakhirnya. Semuanya bersedih. Kekayaan yang melimpah itu, tak bersisa. Lelaki itu juga membebaskan seribu budak, dan memberikan hartanya kepada mereka.
Begitulah lelaki itu. Sikapnya terhadap kehidupan dunia. Tak lagi menolehnya. Sekalipun, begitu banyak harta yang dimilikinya. Itulah cucu Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, Zainal Abidin, yang sangat mulia. Wallahu’alam.
Lelaki keturunan orang yang mulia itu kaya raya. Segalanya dimilikinya. Kekayaannya tak terhitung. Melimpah. Karena ia pandai berdagang. Semua pedagang berdagang dengannya. Keuntungannya tak henti-henti. Lelaki itu benar-benar sempurna, hartanya terus bertambah. Tetapi, kala senja ia nampak bersedih, menangis, dan terus menangis. Entah mengapa ia menangis? Sejatinya lelaki itu adalah lelaki yang shaleh dan zuhud dalam hidupnya.
Lelaki itu mengerti kelak akhir kehidupannya. Ia mengetahui orang-orang yang memiliki kekayaan dan istana, segalanya tak lagi berguna. Betapa istana yang megah dan mewah itu semuanya akan pupus, di saat datangnya kematian yang harus diterimanya. Betapa akhir kehidupannya itu, manusia hanyalah menempati sebuah tempat, yang tak lebih lebarnya satu meter dan panjangnya dua meter, yang ditutup dengan papan. Itulah kehidupan alam kubur. Siapapun adanya akan mengalami hal seperti itu. Tidak ada perbedaan antara raja dengan orang miskin.
Pakaian yang indah dan halus terbuat dari sutera, menjadi tak lagi berguna, semuanya akan ditanggalkannya. Siapa saja yang mati, hanyalah menggunakan kain kapan. Itulah pakaian kebesaran yang akan digunakan orang-orang sudah mati. Raja, orang kaya, orang miskin, dan jelata, semuanya hanyalah akan menggunakan kain kafan.
Ketika hidup di dunia, si kaya menggunakan kendaraan yang paling mewah, mungkin seekor unta yang paling baik, bulunya mengkilap, gemuk dan kuat. Tetapi, saat ajal tiba, dan kendaraan yang ditumpangi, tak lain hanyalah keranda, yang tak berharga. Inilah satu-satunya kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat terakhir dalam hidupnya.
Tidak ada lagi kesetiaan yang akan selalu menemani. Isteri–isteri yang cantik dan setia, tak akan menemaninya. Dialam kubur ia hanya sendirian. Tanpa siapa-siapa lagi. Kesetiaan hanya dalam kehidupan dunia. Janji hanya dalam kehidupan dunia. Tidak ada seorang suami atau isteri yang betapapun sangat setianya, mau menemaninya di alam kubur. Ia hanyalah sendirian. Sendirian bersama dengan binatang-binatang yang akan menggerogoti tumbuhnya yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa.
Lelaki itu terus bertepekur di dalam masjid. Usai shalat Isya’ tak juga beranjak dari duduknya. Terus berdzikir dan bermunajat kepada Allah Azza Wa Jalla. “Di mana aku kelak berada?” keluhnya. Ia sangat kawatir Sang Pencipta murka, dan tidak mau menerimanya, dan menempatkan dirinya di tempat yang hina. “Ya Rabb, ampunilah segala dosa dan khilafku, dan jauhkanlah aku dari fitnah dunia, serta selamatkanlah aku dari siksamu,” keluhnya.
Allah Azza Wa Jalla memberikan karunia kekayaan yang sangat melimpah kepada lelaki itu. Perdagangannya selalu untung. Tanah pertaniannya yang sangat subur, di kelola para budaknya. Makin lama makin maju, dan hartanya semakin bertambah. Tetapi, lelaki itu tak menjadi lupa dan bersenang-senang dengan kekayaan yang dimilikinya. Sikapnya tak pernah berubah. Hartanya yang melimpah tak melupakan dari taqwanya kepada Allah Azza Wa Jalla.
Maka kekayaannya itu dimanfaatkannya untuk kaum muslimin. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan menuju akhirat. Sehingga, kekayaan itu menjadi indah baginya, karena semakin banyak kekayaan yang dimilikinya, semakin banyak pula sedekahnya kepada fuqara’. Ia tidak sombong, dan melakukan amal dengan sembunyi-sembunyi.
Di saat malam telah tiba, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam, ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau berkeliling ke rumah para fuqara’ yang tak suka menadahkan tangannya. Pekerjaan itu ia lakukannya, sampai ajal menjemputnya. Tak pernah henti. Mungkin sesuatu yang tak pernah dimengerti oleh siapapun. Tapi, itulah dilakukan oleh seorang yang sudah zuhud terhadap kehidupan dunia.
Tidak heran banyak orang miskin di Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatuhnya rezeki untuk mereka itu. Setelah lelaki itu meninggal mereka tak lagi menerima rezeki itu. Barulah mereka menyadari siapakah sesungguhnya gerangan manusia dermawan itu?
Sewaktunya jenazah lelaki itu dimandikan, terlihat ada bekas hitam dipunggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya. “Bekas apa ini?” Lalu, diantara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.”
Orang-orang miskin lidahnya kelu, dan hanya dapat berdoa dalam hati, ketika ribuan lelaki mengiringi jenazahnya menuju tempat terakhirnya. Semuanya bersedih. Kekayaan yang melimpah itu, tak bersisa. Lelaki itu juga membebaskan seribu budak, dan memberikan hartanya kepada mereka.
Begitulah lelaki itu. Sikapnya terhadap kehidupan dunia. Tak lagi menolehnya. Sekalipun, begitu banyak harta yang dimilikinya. Itulah cucu Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, Zainal Abidin, yang sangat mulia. Wallahu’alam.
Menangislah Karena Allah
Allah menghendaki kehidupan manusia senantiasa mengalami berbagai perubahan antara senang dan sedih, suka dan duka, sehat dan sakit. Sebagaimana biasa mengalami lapang dan sempit, harap dan takut, tertawa dan menangis. Semua ini adalah aturan Allah yang sangat bermanfaat bagi setiap mukmin demi meningkatkan ketakwaan.
Dan akan menjadi bencana bagi yang tidak beriman, karena dia tidak sadar bahwa
semua itu adalah bekal yang sangat bermanfaat bagi peningkatan derajat dalam kehidupan. Karena itu, dalam menyikapi semua kondisi yang dihadapi ini manusia tidak terlepas dari salah satu dianatara dua nilai, yaitu positif dan negatif atau benar dan salah, baik menurut pandangan manusia atau pun pandangan Yang Maha Kuasa.
Seseorang dapat meingkatkan keimanannya dengan menjalin ukhuwwh Islamiyah yang sering dihiasi dengan senyuman dan juga dapat meningkatkan taqarrub kepada
Rabbnya dengan sering mengis karena menyadari akan kelalaian dalam melaksanakan kewjiban dimasa lalu, dan menangis karena takut akan kekeliruan dalam memhami dan salah mengamalkan ajaran Ilahi yang mesti ditatinya demi leselamatan dan kemaslahatn dimasa mendatang.
Manangis adalah akhlaq para nabi dan kebiasaan para shalihin. Namun tentu bukan sekedar menangis, melainkan menangis yang membuktikan penghambaan diri yang muncul dari kesadaran yang sangat mendalam.
Sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang selalu memerlukan pertolongan; hamba yang menyadari sering lalai terhadap aturan-Nya; hamba yang sangat bodoh tapi sring menyombongkan diri dengan ilmu yang sangat sedikit; hamba yang tidak memiliki apa-apa tapi berlaga sombonga seakan-akan apa yang ada dalam dirinya adalah miliknya; sungguh semua yang ada pada diri seorang hamba baik berupa jasad kesehatan, harta, jabatan atau lainnya, semua itu adalah amanat yang mesti dipelihara dengan menggunakannya sesuai fungsinya dan mesti dipertanggungjawabakan pada saat yang tidak lama lagi akan tiba.
Para nabi menangis karena melihat ummat yang sedang mendertia kebejadan akhlaq dan penyimpangan aqidah serta kerusakan pemahaman terhadap syari’ah yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Para ualama sering menangis karena khawatir tidak dapat melanjutkan perjuangan Rasul akibat beratnya tantangan dan kurangnya kemampuan serta meluasnya kema’siatan.
Bila dibacakan kepada mereka ayat Allah yang berisi perintah, mereka menyadari belum dapat melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila dibacakan ayat yang mngandung larangan, mereka selalu ingat akan semua perbuatan yang menurut pandangan manusia tidak termasuk pelanggaran, padahal boleh jadi, tanpa disadari, dihadapan Allah sering sekali melakukan pelanggaran.
Bila dibacakan ayat-ayat tentang kenikmatan surga, terbayanglah orang lain sedang menikmatinya, sementara dirinya sedang dalam penderitaan menonton dari kejauhan apa yang dinikmati ahli surga, karena menyadari belum beramal sebagaimana mestinya yang memenuhi kriteria untuk menjadai mauttaqiin shalihin.
Bila sudah melaksanakan sebagain perintah-Nya, mereka yakin bahwa tiada yang dapat mengetahui apakah amalnya memenuhi syarat diterma Allah ataukah tidak. Dan bila bertaubat, dari mana diketahui bahwa taubatnya memenuhi syarat untuk diterima dihadapan Allah.
Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin mudah baginya mengetahui kesalahan dan kelalian dirinya dan semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh untuk mencapai tingkat muttaqin.
Karenanya ketakutan kepada Allah akan semakin meningkat, demikian pula harapan akan ampunan semakin bertambah. Wallahu 'alam.
Dan akan menjadi bencana bagi yang tidak beriman, karena dia tidak sadar bahwa
semua itu adalah bekal yang sangat bermanfaat bagi peningkatan derajat dalam kehidupan. Karena itu, dalam menyikapi semua kondisi yang dihadapi ini manusia tidak terlepas dari salah satu dianatara dua nilai, yaitu positif dan negatif atau benar dan salah, baik menurut pandangan manusia atau pun pandangan Yang Maha Kuasa.
Seseorang dapat meingkatkan keimanannya dengan menjalin ukhuwwh Islamiyah yang sering dihiasi dengan senyuman dan juga dapat meningkatkan taqarrub kepada
Rabbnya dengan sering mengis karena menyadari akan kelalaian dalam melaksanakan kewjiban dimasa lalu, dan menangis karena takut akan kekeliruan dalam memhami dan salah mengamalkan ajaran Ilahi yang mesti ditatinya demi leselamatan dan kemaslahatn dimasa mendatang.
Manangis adalah akhlaq para nabi dan kebiasaan para shalihin. Namun tentu bukan sekedar menangis, melainkan menangis yang membuktikan penghambaan diri yang muncul dari kesadaran yang sangat mendalam.
Sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang selalu memerlukan pertolongan; hamba yang menyadari sering lalai terhadap aturan-Nya; hamba yang sangat bodoh tapi sring menyombongkan diri dengan ilmu yang sangat sedikit; hamba yang tidak memiliki apa-apa tapi berlaga sombonga seakan-akan apa yang ada dalam dirinya adalah miliknya; sungguh semua yang ada pada diri seorang hamba baik berupa jasad kesehatan, harta, jabatan atau lainnya, semua itu adalah amanat yang mesti dipelihara dengan menggunakannya sesuai fungsinya dan mesti dipertanggungjawabakan pada saat yang tidak lama lagi akan tiba.
Para nabi menangis karena melihat ummat yang sedang mendertia kebejadan akhlaq dan penyimpangan aqidah serta kerusakan pemahaman terhadap syari’ah yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Para ualama sering menangis karena khawatir tidak dapat melanjutkan perjuangan Rasul akibat beratnya tantangan dan kurangnya kemampuan serta meluasnya kema’siatan.
Bila dibacakan kepada mereka ayat Allah yang berisi perintah, mereka menyadari belum dapat melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila dibacakan ayat yang mngandung larangan, mereka selalu ingat akan semua perbuatan yang menurut pandangan manusia tidak termasuk pelanggaran, padahal boleh jadi, tanpa disadari, dihadapan Allah sering sekali melakukan pelanggaran.
Bila dibacakan ayat-ayat tentang kenikmatan surga, terbayanglah orang lain sedang menikmatinya, sementara dirinya sedang dalam penderitaan menonton dari kejauhan apa yang dinikmati ahli surga, karena menyadari belum beramal sebagaimana mestinya yang memenuhi kriteria untuk menjadai mauttaqiin shalihin.
Bila sudah melaksanakan sebagain perintah-Nya, mereka yakin bahwa tiada yang dapat mengetahui apakah amalnya memenuhi syarat diterma Allah ataukah tidak. Dan bila bertaubat, dari mana diketahui bahwa taubatnya memenuhi syarat untuk diterima dihadapan Allah.
Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin mudah baginya mengetahui kesalahan dan kelalian dirinya dan semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh untuk mencapai tingkat muttaqin.
Karenanya ketakutan kepada Allah akan semakin meningkat, demikian pula harapan akan ampunan semakin bertambah. Wallahu 'alam.
Ketahuilah Menangis Itu Termasuk Ibadah
Semua praktek ibadah akan dinilai benar selama berdasarkan petunjukk Al Qur’an dan sunnah Nabi. Menangis termasuk ibadah bila dilandaskan kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi yaitu menengis yang terjadi semata-mata- krena takut kepada Allah. Al Qur’an mempertanyakan keimanan orang yang tidak pernah menangis dikala mendengar ayat-ayat AlQuran. Allah berfirman:
أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ(59)وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ(60)وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ(61)فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا(62)
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan itu?. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.
Menurut ayat diatas, orang yang tidak mau menangis dengan ayat Allah dia adalah oranng yang lalai. Karena itu orang yang tidak diragukan ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah senantiasa mudah meneteskan air mata ketika mendengar Allah berfiman. Terutama bila ayat yang dibacanya adalah yang berhubungan dengan teguran seperti ayat diatas ini. karena itu ketika para shahabat pertama kali mendengar ayat ini dibacakan mereka pun menangis.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال لما نزلت أ فمن هذا الحديث تعجبون وتضحكون ولا تبكون وأنتم سامدون بكى أصحاب الصفة حتى جرت دموعهم على خدودهم فلما سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم حنينهم بكى معهم فبكينا ببكائه فقال صلى الله عليه وسلم لا يلج النار من بكى من خشية الله ولا يدخل الجنة مصر على معصية ولو لم تذنبوا لجاء الله بقوم يذنبون فيغفر لهم
Dari Abi Hurairah RA dia berkata: ketiaka turun ayat afamin hadzal haditsi…… menangislah para shahabat (ahli shuffah) hingga mengalirlah air mata mereka membasahi pipi, dan ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliaupun menangis bersama mereka, maka kamipun menangis karena (terdorong oleh) tangisannya.
Beliau bersabda: tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang yang terus menerus berbuat dosa. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mmendatangkan orang-orang yang berdosa kemudian Dia mengampuni mereka.
Memperhatikan hadits ini jelas sekali bahwa menangis karena takut neraka adalah akhlak Rasul dan para shahabat. Dan orang-orang yang tidak mau menangis tidak berarti tidak ada yang ditangisi atau tidak pernah berdosa melainkan meeka termasuk golongan yang terus menerus berbuat dosa. Dan Allah menyediakan ampunan bukan bagi orang yang tidak berdosa, karena setiap manusia pasti berbuat dosa , akan tetapi Dia menyediakan ampunan bagi orang yang suka menangisi dosa.
Bila tidak mau menangisi dosa berarti sama dengan memeliharanya. Dan orang yang memelihara dosa tentu akan dijauhkan dari surga. Karena Allah sediakan surga bagi orang yang bertaubat. Allah Swt telah memberi kepada setiap manusia potensi untuk menangis dan tertawa. Keduanya adalah amanat yang mesti dimanfaatkan untuk taqarrub kepadaNya.
Dan kebanyakan manusia lebih banyak tertawa dibanding dengan menangis. Bahkan mereka berusaha untuk membuat-buat ketawa. Dalam realitas kehidupan telah ditemukan bahwa sebagia manusia ada yang mampu membuata orang lain tertawa dan ada pula yang mampu membuat orang lain mnangis. Sekiranya menangis dan tertawa ini kita lakukan untuk kepentiangan hari akhirat, pasti kita akan banyak menangis dan jarang tertawa selama didunia ini.
Dan sekiranya hal tidak dilakukan, maka tertawa didunia tetap hanya sebentar sebab hidup di dunia tidak lama lagi akan berakhir. Dan orang yang tidak mau menangis di dunia akan menangis di akhirat. Karena itu Allah mengingatkan dengan firman-Nya:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ(2)
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Ada seorang hamba yang berkata: saya tidak menenagis karena saya bukan orang yang emosional melainkan saya adalah orang yang banyak berfikir.
Penyataan ini bila ditinjau dengan kaca mata Islam sangat perlu diperbaiki, karena berlawanan dengan kandungan hadits Rasul yang menegaskan bahwa semakin luas wawasan seseorang dan mendalam ilmunya pasti akan semakin sering menangis dan jarang tertawa. Mari kita perhatikan sabda Rasulullah saw:
عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ولضحكتم قليلا ولو علمتم ما أعلم لسجد أحدكم حتى ينقطع صلبه ولصرخ حتى ينقطع صوته ابكوا إلى الله فإن لم تستطيعوا أن تبكوا فتباكوا
Dari Abdillah bin Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: sekiranya kamu mengetahui apa yang aku ketahui pasti kamu banyak menangis dan jarang tertawa, sekiranya kamu mengetahui apa yang kuketahui pasta ada diantara kamu yang bersujud hingga pataah tulang rusuknya, dan pasti berteriak mengais hingga habis suaranya. Menangislah kamu kepada Allah, apabila kamu tidak bisa menangis, maka usahakan sampai mamapu.
Menurut hadits ini orang yang berilmu akan lebih banyak dan lebih mudah untuk menangis, karena dia mengetahui siapa dirinya dan dimana dia berada. Dan sebaliknya bila seseorang banyak tertawa dan jarang menanggis berarti dia kurang mengetahui hakikat dirinya dihadapan Allah, sehingga dia selalu merasa tenang tanpa ada rasa kehawatiran kalau dirinya dekat dengan kemurkaan Allah, seakan-akan dia adalah orang yang sudah dijamin akan mendapat surga dan selamat serta jauh dari bahaya neraka.
Padahal tidak ada seorangpun yang mengetahui masa depan yang akan dihadapinya esok hari apalagi hari-harri sesudah mati. Karena itu, semakin mendalam dan luas ilmu seseorang tentang Islam maka akan semakin sering menangis. Bila kita susah manangisi dosa berarti kita sedang berada dalam kegelapan. Bila kita berada dalam kegelapan, bukan saja dosa kecil yang tidak terlihat akan tetapi dosa besar pun susah diketahui. Ya Allah ampunilah dosa kami dan memasukkanlah kami kedalam golongan yang tercantum dalam firmanMu:
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا(107)وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا(108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا(109
Sesunggyhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebellumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyugkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: Maha suci tuhan kami pasti dipenuhi dan mereka meniarap atas dahinya serta menangis, dan (Al Qur’an) menambah khusyu’ mereka.
Menangis yang bernialai ibadah adalah menangis yang melibatkan semua unsur manusia yaitu akal fikiran yang diisi dengan ilmu; qalbu yang diisi dengan keimanan; dan seluruh anggota badan termasuk kepala dengan sujudnya; lisan dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid dan ungkapan dzikir lainnya. Dan tidak kalah pentingnya bahwa tetesan air mata yang membanjiri wajah hingga membasahi tempat sujud akan menjadi saksi nanti di akhirat .
Ada seseorang yang merasa cukup dengan menangis dalam hati saja dan menganggap bahwa menangis dengan meneteskan air mata tidak lagi diperlukan, dengan alasan bahwa sikap cengeng itu tidaklah baik. Sikap seperti ini tidak keliru bila diterapkan pada situasi sedang menghadapi musuh Allah yang menuntut semua hamba untuk berjiwa besar dan menjaga wibawa kaum muslimin demi terpeliharanya kemuliaan Islam .
Akan tetapi lain halnya ketika kita sedang berhadapan dengan Yang Mulia dan Maha Perkasa. Semua hamba harus menunjukkan kerendahan dirinya dengan penuh kesadaran sebagai hamba yang hina tak berdaya yang menyadari akan banyaknya dosa dan sering lalai akan perintah yang turun dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita tidak lama lagi akan disidang didepan Pengadilan Yang Mahatinggi.
Untuk meningkatkan kesadaran ini sangat diperlukan untuk selalu ingat akan kehidupan para nabi dan shalihin. Karena mereka adalah orang pinter dan cerdas dalam memahami kehidupan ummat, dan mereka juga adalah pejuang yang tidak pernah mengenal takut kepada siapapun. Namun demikian, mereka adalah sangat cengeng ketika sedang merintih kepada Yang Mahaadil dan menghadap kepada Yang Mahakuasa. Demikian Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا(58)
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Yang Maha Pengasih mereka meniarap sujud dan menangis Ayat diatas menjelaskan sifat-sifat para Nabi dan para pengikutnya dengan kata sujjadan (ahli sujud) dan bukiyyan (ahli menangis).
Kata bukiyyan adalah shighah mubalaghah (bentuk kata yang mempunyai makna sangat) dari kata bakiina yang merupakan kata sifat bagi orang-orang yang suka menangis. Hal ini menggambarkan bahwa tangisan tersebut melebihi dari tangisan yang biasa terjadi pada masayarakat umum yang disebabkan urusan dunia. Makna menangis yang dimaksud dalam ayat akan lebih jelas lagi bila kita perhatikan hadits Rasul SAW dibawah ini.
Menangis Menurut Sunnah Rasul SAW
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عيـنان لا تمسـهما النار عين بكت من خشـــية وعين باتت تحرس في سبيل الله
Rasulullah SAW bersabda: Dua mata yang tidak akan terkena api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dijalan Allah
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاثة أعين لا تحرقهم النار أبدا عين بكت من خشية الله وعيين سهرت بكتاب الله وعين حرست في سبيل الله عز وجل
Rasulullah SAW bersabda: Tiga mata yang tidak akan terbakar api neraka untuk selamanya: mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang berjaga dimalam hari karena membaca kitab Allah, dan mata berjaga-jaga membela agama Allah.
Wallahu'alam.
أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ(59)وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ(60)وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ(61)فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا(62)
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan itu?. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.
Menurut ayat diatas, orang yang tidak mau menangis dengan ayat Allah dia adalah oranng yang lalai. Karena itu orang yang tidak diragukan ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah senantiasa mudah meneteskan air mata ketika mendengar Allah berfiman. Terutama bila ayat yang dibacanya adalah yang berhubungan dengan teguran seperti ayat diatas ini. karena itu ketika para shahabat pertama kali mendengar ayat ini dibacakan mereka pun menangis.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال لما نزلت أ فمن هذا الحديث تعجبون وتضحكون ولا تبكون وأنتم سامدون بكى أصحاب الصفة حتى جرت دموعهم على خدودهم فلما سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم حنينهم بكى معهم فبكينا ببكائه فقال صلى الله عليه وسلم لا يلج النار من بكى من خشية الله ولا يدخل الجنة مصر على معصية ولو لم تذنبوا لجاء الله بقوم يذنبون فيغفر لهم
Dari Abi Hurairah RA dia berkata: ketiaka turun ayat afamin hadzal haditsi…… menangislah para shahabat (ahli shuffah) hingga mengalirlah air mata mereka membasahi pipi, dan ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliaupun menangis bersama mereka, maka kamipun menangis karena (terdorong oleh) tangisannya.
Beliau bersabda: tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang yang terus menerus berbuat dosa. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mmendatangkan orang-orang yang berdosa kemudian Dia mengampuni mereka.
Memperhatikan hadits ini jelas sekali bahwa menangis karena takut neraka adalah akhlak Rasul dan para shahabat. Dan orang-orang yang tidak mau menangis tidak berarti tidak ada yang ditangisi atau tidak pernah berdosa melainkan meeka termasuk golongan yang terus menerus berbuat dosa. Dan Allah menyediakan ampunan bukan bagi orang yang tidak berdosa, karena setiap manusia pasti berbuat dosa , akan tetapi Dia menyediakan ampunan bagi orang yang suka menangisi dosa.
Bila tidak mau menangisi dosa berarti sama dengan memeliharanya. Dan orang yang memelihara dosa tentu akan dijauhkan dari surga. Karena Allah sediakan surga bagi orang yang bertaubat. Allah Swt telah memberi kepada setiap manusia potensi untuk menangis dan tertawa. Keduanya adalah amanat yang mesti dimanfaatkan untuk taqarrub kepadaNya.
Dan kebanyakan manusia lebih banyak tertawa dibanding dengan menangis. Bahkan mereka berusaha untuk membuat-buat ketawa. Dalam realitas kehidupan telah ditemukan bahwa sebagia manusia ada yang mampu membuata orang lain tertawa dan ada pula yang mampu membuat orang lain mnangis. Sekiranya menangis dan tertawa ini kita lakukan untuk kepentiangan hari akhirat, pasti kita akan banyak menangis dan jarang tertawa selama didunia ini.
Dan sekiranya hal tidak dilakukan, maka tertawa didunia tetap hanya sebentar sebab hidup di dunia tidak lama lagi akan berakhir. Dan orang yang tidak mau menangis di dunia akan menangis di akhirat. Karena itu Allah mengingatkan dengan firman-Nya:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ(2)
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Ada seorang hamba yang berkata: saya tidak menenagis karena saya bukan orang yang emosional melainkan saya adalah orang yang banyak berfikir.
Penyataan ini bila ditinjau dengan kaca mata Islam sangat perlu diperbaiki, karena berlawanan dengan kandungan hadits Rasul yang menegaskan bahwa semakin luas wawasan seseorang dan mendalam ilmunya pasti akan semakin sering menangis dan jarang tertawa. Mari kita perhatikan sabda Rasulullah saw:
عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ولضحكتم قليلا ولو علمتم ما أعلم لسجد أحدكم حتى ينقطع صلبه ولصرخ حتى ينقطع صوته ابكوا إلى الله فإن لم تستطيعوا أن تبكوا فتباكوا
Dari Abdillah bin Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: sekiranya kamu mengetahui apa yang aku ketahui pasti kamu banyak menangis dan jarang tertawa, sekiranya kamu mengetahui apa yang kuketahui pasta ada diantara kamu yang bersujud hingga pataah tulang rusuknya, dan pasti berteriak mengais hingga habis suaranya. Menangislah kamu kepada Allah, apabila kamu tidak bisa menangis, maka usahakan sampai mamapu.
Menurut hadits ini orang yang berilmu akan lebih banyak dan lebih mudah untuk menangis, karena dia mengetahui siapa dirinya dan dimana dia berada. Dan sebaliknya bila seseorang banyak tertawa dan jarang menanggis berarti dia kurang mengetahui hakikat dirinya dihadapan Allah, sehingga dia selalu merasa tenang tanpa ada rasa kehawatiran kalau dirinya dekat dengan kemurkaan Allah, seakan-akan dia adalah orang yang sudah dijamin akan mendapat surga dan selamat serta jauh dari bahaya neraka.
Padahal tidak ada seorangpun yang mengetahui masa depan yang akan dihadapinya esok hari apalagi hari-harri sesudah mati. Karena itu, semakin mendalam dan luas ilmu seseorang tentang Islam maka akan semakin sering menangis. Bila kita susah manangisi dosa berarti kita sedang berada dalam kegelapan. Bila kita berada dalam kegelapan, bukan saja dosa kecil yang tidak terlihat akan tetapi dosa besar pun susah diketahui. Ya Allah ampunilah dosa kami dan memasukkanlah kami kedalam golongan yang tercantum dalam firmanMu:
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا(107)وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا(108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا(109
Sesunggyhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebellumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyugkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: Maha suci tuhan kami pasti dipenuhi dan mereka meniarap atas dahinya serta menangis, dan (Al Qur’an) menambah khusyu’ mereka.
Menangis yang bernialai ibadah adalah menangis yang melibatkan semua unsur manusia yaitu akal fikiran yang diisi dengan ilmu; qalbu yang diisi dengan keimanan; dan seluruh anggota badan termasuk kepala dengan sujudnya; lisan dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid dan ungkapan dzikir lainnya. Dan tidak kalah pentingnya bahwa tetesan air mata yang membanjiri wajah hingga membasahi tempat sujud akan menjadi saksi nanti di akhirat .
Ada seseorang yang merasa cukup dengan menangis dalam hati saja dan menganggap bahwa menangis dengan meneteskan air mata tidak lagi diperlukan, dengan alasan bahwa sikap cengeng itu tidaklah baik. Sikap seperti ini tidak keliru bila diterapkan pada situasi sedang menghadapi musuh Allah yang menuntut semua hamba untuk berjiwa besar dan menjaga wibawa kaum muslimin demi terpeliharanya kemuliaan Islam .
Akan tetapi lain halnya ketika kita sedang berhadapan dengan Yang Mulia dan Maha Perkasa. Semua hamba harus menunjukkan kerendahan dirinya dengan penuh kesadaran sebagai hamba yang hina tak berdaya yang menyadari akan banyaknya dosa dan sering lalai akan perintah yang turun dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita tidak lama lagi akan disidang didepan Pengadilan Yang Mahatinggi.
Untuk meningkatkan kesadaran ini sangat diperlukan untuk selalu ingat akan kehidupan para nabi dan shalihin. Karena mereka adalah orang pinter dan cerdas dalam memahami kehidupan ummat, dan mereka juga adalah pejuang yang tidak pernah mengenal takut kepada siapapun. Namun demikian, mereka adalah sangat cengeng ketika sedang merintih kepada Yang Mahaadil dan menghadap kepada Yang Mahakuasa. Demikian Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا(58)
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Yang Maha Pengasih mereka meniarap sujud dan menangis Ayat diatas menjelaskan sifat-sifat para Nabi dan para pengikutnya dengan kata sujjadan (ahli sujud) dan bukiyyan (ahli menangis).
Kata bukiyyan adalah shighah mubalaghah (bentuk kata yang mempunyai makna sangat) dari kata bakiina yang merupakan kata sifat bagi orang-orang yang suka menangis. Hal ini menggambarkan bahwa tangisan tersebut melebihi dari tangisan yang biasa terjadi pada masayarakat umum yang disebabkan urusan dunia. Makna menangis yang dimaksud dalam ayat akan lebih jelas lagi bila kita perhatikan hadits Rasul SAW dibawah ini.
Menangis Menurut Sunnah Rasul SAW
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عيـنان لا تمسـهما النار عين بكت من خشـــية وعين باتت تحرس في سبيل الله
Rasulullah SAW bersabda: Dua mata yang tidak akan terkena api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dijalan Allah
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاثة أعين لا تحرقهم النار أبدا عين بكت من خشية الله وعيين سهرت بكتاب الله وعين حرست في سبيل الله عز وجل
Rasulullah SAW bersabda: Tiga mata yang tidak akan terbakar api neraka untuk selamanya: mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang berjaga dimalam hari karena membaca kitab Allah, dan mata berjaga-jaga membela agama Allah.
Wallahu'alam.
Mengapa Engkau Mengejar Kekuasaan?
Manusia tak akan pernah bisa lepas dari ‘tahta, harta, dan wanita’. Tiga ‘t’ ini terus menggelayuti kehidupan manusia. Inti nafsu manusia kepada dunia, adalah nafsu yang hidupnya hanya diorientasikan semata kepada tiga ‘t’ itu. Ujian iman bagi orang-orang mukmin, berupa tiga ‘t’, yang banyak menyebabkan luruhnya iman dan aqidahnya. Tak banyak orang-orang mukmin, ketika diberi nikmat berupa tiga ‘t’ itu dapat selamat.
Kebanyakan mereka tersungkur, dan akhirnya menjadikan tiga ‘t’ itu sesembahan mereka. Tiga ‘t’ mengalahkan ketundukan, kethaatan, dan ubudiyahnya kepada Allah Azza Wa Jalla.
Setan akan terus menggerogoti iman dan aqidah orang-orang mukmin dengan tiga ‘t’ itu. Janji atau sumpah iblis (setan) kepada Allah Azza Wa Jalla, tak lain, mereka akan menggoda anak Adam, sampai hari kiamat melalui pintu tiga ‘t’ itu. Karena, memang manusia termasuk orang-orang mukmin secara instinktif (naluri) menyukai adanya tiga ‘t’.
Orang-orang kafir Yahudi, mereka mula-mula beriman, dan menjadi ingkar dan mendurhakai Allah Rabbul Alamin, karena mereka lebih mengutamakan tiga ‘t’ itu. Tiga itu menjadi senjata yang paling utama, bagi orang-orang kafir semacam bangsa Yahudi untuk menghancurkan kaum mukminin.
Gambaran yang sangat absurd di dalam sejarah, adalah ketika bangsa Yahudi,yang diselamatkan oleh Nabi Musa Alaihi Sallam, dan berhasil menyeberangi laut Merah, dan sampai di Palestina, ketika mereka sudah selamat di negeri yang diberkahi itu, kembali mereka menjadi kafir dengan menyembah anak sapi emas, yang dibuat oleh Samiri.
Orang-orang kafir, diantaranya hidupnya hanyalah untuk ‘bersenang-senang’ dan ‘makan’.(QS: 2 ayat 30). Seperti binatang ternak. Makan dan sek. Dari sini pula lahirnya, apa yang disebut paham materialisme, yang sangat memuja benda dan kenikmatan duniawi.
Seperti digambarkan oleh Allah Ta’ala, manusia itu memang menyukai wanita, harta benda, anak-anak, kebun, dan jenisnya lainnya. (QS: 3 ayat 14). Sehingga, karena orientasi manusia pada tiga ‘t’ itu, manusia menjadi lupa akan asal-usulnya. Manusia menjadi lupa akan hakekat dirinya. Manusia menjadi sombong, dan jauh dari rasa syukur. Melupakan asal kejadian dirinya, dan kemudian menjadi ingkar dan kafir. Karena sudah terjerumus ke dalam kehidupan yang lebih mencintai kenikmatan dunia semata. Padahal, mereka akan dikembalikan kepada Penciptapanya, kelak sesuda hari Kiamat.
Tetapi, diantara tiga ‘t’ itu, yang sangat menjadi keinginan manusia, ialah untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan bagi manusia yang sudah tersusupi pemikirannya oleh pengaruh iblis dan setan, berusaha dengan segala cara mendapatkannya. Nafsu mendapatkan kekuasaan itu, mendorong jiwa manusia menjadi sangat keras, dan tidak lagi memperhatikan norma agama.
Dengan kekuasasan manusia memiliki kewenangan. Kewenangan yang dimilikinya dapat digunakan untuk mendapatkan kenikmatan yang lainnya, berupa harta dan wanita. Para penguasa dan pemimpin yang memiliki kekuasaan, menjadi lupa, dan hanya nafsunya yang dominan. Karena, orang yang berkuasa seperti meminum air laut, tak akan pernah puas. Semakin banyak mereguk air laut, terasa semakin dahaga.
Maka, orang yang sudah berkuasa tidak pernah merasa puas. Selalu terus berusaha untuk mendapatkan kekuasaan. Selama-lamanya. Tak ada penguasa yang sudah memegang kekuasaan akan dengna suka rela melepaskan jabatan kekuasaannya. Orang-orang yang sudah berkuasa dan memegang kekuasaan sangat takut kehilangan kekuasaan. Maka orang yang berkuasa itu, akan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara.
Kekuasan menjadi sumber segala sumber. Kekuasaan menjadikan manusia terkenal, dihormati, disegani, ditakuti, diikuti, dan semua apa yang menjadi ucapannya menjadi sebuah dekrit yang tidak tertulis seakan menjadi undang-undang. Rakyat atau para pengikutnya dengan tanpa reserve akan patuh, tunduk, dan taat melaksanakan apa saja yang sudah menjadi doktrin dan kebijakannya.
Kekuasaan bagi orang-orang yang memiliki ambisi atau ambisius, digunakan dengan sangat efektif untuk mewujudkan keinginan nafsunya. Harta dan wanita adalah tujuan utama. Tak heran para penguasa atau orang yang memiliki kekuasaan itu menjadi tamak dan rakus, dan tanpa sedikitkpun ada rasa malu, dan tanpa sedikitpun adanya rasa takut, dan terus akan menumpuk harta, dan memuaskan nafsunya dengan perempuan, yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Orang-orang Yahudi yang sudah sangat paham dengan kelemahan orang-orang mukmin, tak perlu dengan berbagai macam theori, tetapi cukup dengan memberikan harta sebanyak-banyaknya kepada para pengausa atau orang yang berkuasa dikalangan orang mukmin, dan sudah akan tunduk, dan mengikutinya apa yang menjadi kehendak orang-orang Yahudi kafir. (QS: 2:120). Orang mukmin yang sudah mengikuti hawa nafsu Yahudi, maka mereka akan menjadi budak kaum Yahudi, dan hidupnya penuh dengan kehinaan, tanpa memiliki izzah dan marwah.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, memiliki izzah dan marwah, karena Beliau tidak sedikitpun terpengaruh oleh bujukan yang busuk dari Abu Sofyan, yang akan memberikan tiga ‘t’ kepada Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, dan diminta menghentikan dakwahnya.
Tetapi, generasi baru Islam, yang sekarang ini banyak terlibat pergerakan, banyak diantara mereka yang luruh, dan masuk ke jurang kehinaan, serta jatuh ke dalam pelukan Yahudi dan musuh-musuh Allah, karena mereka sudah kehilangan orientasi dan tanpa ada tujuan yang jelas. Akhirnya mereka hanya menjadi orang-orang yang mengabdi kepada tiga ‘t’, bukan lagi mencari ridha Allah Azza Wa Jalla.
Harapan untuk mendapatkan kemenangan semakin jauh, karena mereka secara sadar menukar ayat-ayat Allah yang mulia dengan tiga ‘t’, demi memenuhi hawa nafsu, dan keserakahan terhadap kehidupan dunia. Mereka berbicara dengan nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an, tetapi dalam praktek hidup yang mereka jalankan adalah kehidupan ‘la diniyah’ seperti orang-orang Yahudi. Wallahu’alam.
Kebanyakan mereka tersungkur, dan akhirnya menjadikan tiga ‘t’ itu sesembahan mereka. Tiga ‘t’ mengalahkan ketundukan, kethaatan, dan ubudiyahnya kepada Allah Azza Wa Jalla.
Setan akan terus menggerogoti iman dan aqidah orang-orang mukmin dengan tiga ‘t’ itu. Janji atau sumpah iblis (setan) kepada Allah Azza Wa Jalla, tak lain, mereka akan menggoda anak Adam, sampai hari kiamat melalui pintu tiga ‘t’ itu. Karena, memang manusia termasuk orang-orang mukmin secara instinktif (naluri) menyukai adanya tiga ‘t’.
Orang-orang kafir Yahudi, mereka mula-mula beriman, dan menjadi ingkar dan mendurhakai Allah Rabbul Alamin, karena mereka lebih mengutamakan tiga ‘t’ itu. Tiga itu menjadi senjata yang paling utama, bagi orang-orang kafir semacam bangsa Yahudi untuk menghancurkan kaum mukminin.
Gambaran yang sangat absurd di dalam sejarah, adalah ketika bangsa Yahudi,yang diselamatkan oleh Nabi Musa Alaihi Sallam, dan berhasil menyeberangi laut Merah, dan sampai di Palestina, ketika mereka sudah selamat di negeri yang diberkahi itu, kembali mereka menjadi kafir dengan menyembah anak sapi emas, yang dibuat oleh Samiri.
Orang-orang kafir, diantaranya hidupnya hanyalah untuk ‘bersenang-senang’ dan ‘makan’.(QS: 2 ayat 30). Seperti binatang ternak. Makan dan sek. Dari sini pula lahirnya, apa yang disebut paham materialisme, yang sangat memuja benda dan kenikmatan duniawi.
Seperti digambarkan oleh Allah Ta’ala, manusia itu memang menyukai wanita, harta benda, anak-anak, kebun, dan jenisnya lainnya. (QS: 3 ayat 14). Sehingga, karena orientasi manusia pada tiga ‘t’ itu, manusia menjadi lupa akan asal-usulnya. Manusia menjadi lupa akan hakekat dirinya. Manusia menjadi sombong, dan jauh dari rasa syukur. Melupakan asal kejadian dirinya, dan kemudian menjadi ingkar dan kafir. Karena sudah terjerumus ke dalam kehidupan yang lebih mencintai kenikmatan dunia semata. Padahal, mereka akan dikembalikan kepada Penciptapanya, kelak sesuda hari Kiamat.
Tetapi, diantara tiga ‘t’ itu, yang sangat menjadi keinginan manusia, ialah untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan bagi manusia yang sudah tersusupi pemikirannya oleh pengaruh iblis dan setan, berusaha dengan segala cara mendapatkannya. Nafsu mendapatkan kekuasaan itu, mendorong jiwa manusia menjadi sangat keras, dan tidak lagi memperhatikan norma agama.
Dengan kekuasasan manusia memiliki kewenangan. Kewenangan yang dimilikinya dapat digunakan untuk mendapatkan kenikmatan yang lainnya, berupa harta dan wanita. Para penguasa dan pemimpin yang memiliki kekuasaan, menjadi lupa, dan hanya nafsunya yang dominan. Karena, orang yang berkuasa seperti meminum air laut, tak akan pernah puas. Semakin banyak mereguk air laut, terasa semakin dahaga.
Maka, orang yang sudah berkuasa tidak pernah merasa puas. Selalu terus berusaha untuk mendapatkan kekuasaan. Selama-lamanya. Tak ada penguasa yang sudah memegang kekuasaan akan dengna suka rela melepaskan jabatan kekuasaannya. Orang-orang yang sudah berkuasa dan memegang kekuasaan sangat takut kehilangan kekuasaan. Maka orang yang berkuasa itu, akan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara.
Kekuasan menjadi sumber segala sumber. Kekuasaan menjadikan manusia terkenal, dihormati, disegani, ditakuti, diikuti, dan semua apa yang menjadi ucapannya menjadi sebuah dekrit yang tidak tertulis seakan menjadi undang-undang. Rakyat atau para pengikutnya dengan tanpa reserve akan patuh, tunduk, dan taat melaksanakan apa saja yang sudah menjadi doktrin dan kebijakannya.
Kekuasaan bagi orang-orang yang memiliki ambisi atau ambisius, digunakan dengan sangat efektif untuk mewujudkan keinginan nafsunya. Harta dan wanita adalah tujuan utama. Tak heran para penguasa atau orang yang memiliki kekuasaan itu menjadi tamak dan rakus, dan tanpa sedikitkpun ada rasa malu, dan tanpa sedikitpun adanya rasa takut, dan terus akan menumpuk harta, dan memuaskan nafsunya dengan perempuan, yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Orang-orang Yahudi yang sudah sangat paham dengan kelemahan orang-orang mukmin, tak perlu dengan berbagai macam theori, tetapi cukup dengan memberikan harta sebanyak-banyaknya kepada para pengausa atau orang yang berkuasa dikalangan orang mukmin, dan sudah akan tunduk, dan mengikutinya apa yang menjadi kehendak orang-orang Yahudi kafir. (QS: 2:120). Orang mukmin yang sudah mengikuti hawa nafsu Yahudi, maka mereka akan menjadi budak kaum Yahudi, dan hidupnya penuh dengan kehinaan, tanpa memiliki izzah dan marwah.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, memiliki izzah dan marwah, karena Beliau tidak sedikitpun terpengaruh oleh bujukan yang busuk dari Abu Sofyan, yang akan memberikan tiga ‘t’ kepada Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, dan diminta menghentikan dakwahnya.
Tetapi, generasi baru Islam, yang sekarang ini banyak terlibat pergerakan, banyak diantara mereka yang luruh, dan masuk ke jurang kehinaan, serta jatuh ke dalam pelukan Yahudi dan musuh-musuh Allah, karena mereka sudah kehilangan orientasi dan tanpa ada tujuan yang jelas. Akhirnya mereka hanya menjadi orang-orang yang mengabdi kepada tiga ‘t’, bukan lagi mencari ridha Allah Azza Wa Jalla.
Harapan untuk mendapatkan kemenangan semakin jauh, karena mereka secara sadar menukar ayat-ayat Allah yang mulia dengan tiga ‘t’, demi memenuhi hawa nafsu, dan keserakahan terhadap kehidupan dunia. Mereka berbicara dengan nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an, tetapi dalam praktek hidup yang mereka jalankan adalah kehidupan ‘la diniyah’ seperti orang-orang Yahudi. Wallahu’alam.
Antara Nafsu Dunia dan Kemuliaan Akhirat
Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti memasuki dan bergumul di dalamnya. Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam akhirat.
Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh..
Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi.
Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.
Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia.
Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.
Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar.
Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup. Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).
Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan.
Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.” Bahkan harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian.
Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.
Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta.
Meski demikian, harta selalu menjadi perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini. Di zaman sekarang ini mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.
Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.
Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan.
Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)
Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh..
Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi.
Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.
Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia.
Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.
Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar.
Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup. Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).
Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan.
Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.” Bahkan harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian.
Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.
Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta.
Meski demikian, harta selalu menjadi perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini. Di zaman sekarang ini mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.
Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.
Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan.
Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)
Inilah Amal Pembuka Pintu Rezeki
Manusia hanya dapat mengharapkan pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla. Tidak dapat menggantungkan diri kepada makhluk. Hanya Allah Rabbul Alamin yang berhak untuk dimintai pertolongan ‘Iyyaka nasyta’in’, datangnya pertolongan itu hanyalah dari Rabb semata.
Manusia dan kelompok yang menggantungkan hidupnya kepada makhluk lainnya, pasti akan mendapatkan dirinya terjatuh ke dalam lembah kehinaan dan kesesatan belaka.
Diantara pintu yang akan mengantarkan pintu rezeki, dan menjauhkan dari kesempitan hidup adalah :
1.Membaca “La ilaha illahah”.
Barang siapa yang lambat rezekinya hendaklah banyak mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah (HR.At-Tabrani.
2.Membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”.
Barangsiapa yang membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”, maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur”. (HR. Abu Nu’aim dan Ad-Dailami).
3.Melanggengkan Istighfar.
“Barangsiapa melanggengkan istighfar, niscaya Allah mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan dan memberikan dia rezeki dari arah yang tidak diduganya”. (HR.Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
4.Membaca Surah Al-Ikhlas.
“Barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas ketika masuk rumah, maka (berkah bacaan) menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya”. (HR.Tabrani).
5.Membaca surah al-Waqi’ah
“Barangsiapa membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup”. (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
6.Memperbanyak Shalawat atas Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam.
Ubay bin Ka’ab meriwayatkan , bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam berdiri seraya bersabda, “Wahau manusia, berzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat), pertama kemudian diiringi tiupan keuda. Akan datang kematian dan segala kesulitan yang ada di dalamnya”.
7.Membaca “Subhanallah wabihamdihi subhanallahil ‘adzhim.
..dari setiap kalimat itu seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai diberikan untukmu sampia hari Kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu”. (HR.Al-Mustaqfiri dalam Ad-Da’wat, dinukilkan dari Ihya Ulumuddin al-Ghazali).
Sementara itu, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ada beberapa orang musyrik yang telah berbuat maksiat dan dosa, yaitu mereka membunuh dan berzina. Maka, m ereka menghadap Rasulullah untuk bertobat. Mereka pun bertanya kepada beliau, apakah akan diterima tobat mereka? Maka, turunlah ayat ini yang menerangkan hendaknya jangan berputus asa untuk terus mencari ampunan Allah Rabbul Alamin.
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Al-Qur’an : Az-Zummar : 53)
Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan rezeki dan melapangkan jalan hidup kaum muslimin, dan jauhkan dari jalan-jalan setan, yang selalu akan menyesatkan. Wallahu’alam.
Manusia dan kelompok yang menggantungkan hidupnya kepada makhluk lainnya, pasti akan mendapatkan dirinya terjatuh ke dalam lembah kehinaan dan kesesatan belaka.
Diantara pintu yang akan mengantarkan pintu rezeki, dan menjauhkan dari kesempitan hidup adalah :
1.Membaca “La ilaha illahah”.
Barang siapa yang lambat rezekinya hendaklah banyak mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah (HR.At-Tabrani.
2.Membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”.
Barangsiapa yang membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”, maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur”. (HR. Abu Nu’aim dan Ad-Dailami).
3.Melanggengkan Istighfar.
“Barangsiapa melanggengkan istighfar, niscaya Allah mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan dan memberikan dia rezeki dari arah yang tidak diduganya”. (HR.Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
4.Membaca Surah Al-Ikhlas.
“Barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas ketika masuk rumah, maka (berkah bacaan) menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya”. (HR.Tabrani).
5.Membaca surah al-Waqi’ah
“Barangsiapa membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup”. (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
6.Memperbanyak Shalawat atas Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam.
Ubay bin Ka’ab meriwayatkan , bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam berdiri seraya bersabda, “Wahau manusia, berzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat), pertama kemudian diiringi tiupan keuda. Akan datang kematian dan segala kesulitan yang ada di dalamnya”.
7.Membaca “Subhanallah wabihamdihi subhanallahil ‘adzhim.
..dari setiap kalimat itu seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai diberikan untukmu sampia hari Kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu”. (HR.Al-Mustaqfiri dalam Ad-Da’wat, dinukilkan dari Ihya Ulumuddin al-Ghazali).
Sementara itu, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ada beberapa orang musyrik yang telah berbuat maksiat dan dosa, yaitu mereka membunuh dan berzina. Maka, m ereka menghadap Rasulullah untuk bertobat. Mereka pun bertanya kepada beliau, apakah akan diterima tobat mereka? Maka, turunlah ayat ini yang menerangkan hendaknya jangan berputus asa untuk terus mencari ampunan Allah Rabbul Alamin.
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Al-Qur’an : Az-Zummar : 53)
Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan rezeki dan melapangkan jalan hidup kaum muslimin, dan jauhkan dari jalan-jalan setan, yang selalu akan menyesatkan. Wallahu’alam.
Cintailah Anak-anak Yatim
Begitulah Al-Qur’an memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menyantuni dan menyayangi anak-anak yatim. Anak yatim adalah mereka yang ditinggal oleh orang tuanya. Al-Qur’an sangat memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan anak yatim sebagaimana berikut,
Berbuat baik kepada anak yatim adalah salah satu tanda orang yang beriman, bertakwa, dan orang-orang yang baik (al-abrar). QS. (Al-Baqarah : 177) dan (QS. Al-Balad : 8)
Menyantuni anak yatim adalah kewajiban sosial setiap orang Islam segera setelah ia mengetahui jalan yang baik dan jalan yang jelek dalam kehidupan .
Membela anak yatim adalah satu satu perjuangan dalam Islam (QS. Al-Balad : 15)
Problem sosial timbul, karena empat sebab : tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi makank orang miskin, memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, dan mencintai hartabenda secara berlebihan. (QS. Al-Fajar : 15-20)
Memberikan perhatian terhadap kepentingan anak yatim. (QS. Al-Kahfi : 82)
Bila orang membagikan harta warisan, diperintahkan agar sebagian diberikan kepada karabat, anak yatim, dan orang miskin, dan orang miskin yang tidak mempunyai hak waris. (QS. An-Nisaa’ : 8)
Orang Islam di suruh berhati-hati dalam memelihara harta anak yatim, yaitu dengan tidak mencampurkan harta anak yatim itu dengan harta mereka sendiri. QS. An-Nisaa’ : 2,10). Disuruh-Nya mereka mencari cara yang paling baik untuk mengurus harta anak yatim termasuk . (QS. Al-Aam : 152), dan memakan harta yatim termasuk dosa besar. (QS. An-Nisaa’ : 2, 10).
Orang islam dilarang mempermalukan anak yatim secara sewenang-wenang. (QS. Ad-Dhuha : 9), dan dilarang menghardik (QS. 107 : 2), Ibnu Katsir mengartikan fala taqhar sebagai “Janganlah engkau merendahkan dia, jangan membentak dia, jangan menghinakan mereka, tetapi berbuat baiklah kepdanya, dan sayangilah. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hal. 523).
Surah Al-Ma’un ayat 2 menyebutkan, bahwa orang yang menghardik anak yatim adalah pendusta agama.
Betapa masih banyaknya anak-anak yatim, anak terlantar, serta para fakir miskin, yang tidak terpelihara dan mendapatkan perhatian, bahkan mereka menjadi gelandangan pengemis, dan bahkan banyak diantara mereka pula, yang hidup dalam keadaan sangat menyedihkan.
Seharusnya kaum muslimin memberikan perhatian kepada mereka secara ikhlas dan hanya mengharapkan ridho dari Allah Azza Wa Jalla. Wallahu’alam.
Berbuat baik kepada anak yatim adalah salah satu tanda orang yang beriman, bertakwa, dan orang-orang yang baik (al-abrar). QS. (Al-Baqarah : 177) dan (QS. Al-Balad : 8)
Menyantuni anak yatim adalah kewajiban sosial setiap orang Islam segera setelah ia mengetahui jalan yang baik dan jalan yang jelek dalam kehidupan .
Membela anak yatim adalah satu satu perjuangan dalam Islam (QS. Al-Balad : 15)
Problem sosial timbul, karena empat sebab : tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi makank orang miskin, memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, dan mencintai hartabenda secara berlebihan. (QS. Al-Fajar : 15-20)
Memberikan perhatian terhadap kepentingan anak yatim. (QS. Al-Kahfi : 82)
Bila orang membagikan harta warisan, diperintahkan agar sebagian diberikan kepada karabat, anak yatim, dan orang miskin, dan orang miskin yang tidak mempunyai hak waris. (QS. An-Nisaa’ : 8)
Orang Islam di suruh berhati-hati dalam memelihara harta anak yatim, yaitu dengan tidak mencampurkan harta anak yatim itu dengan harta mereka sendiri. QS. An-Nisaa’ : 2,10). Disuruh-Nya mereka mencari cara yang paling baik untuk mengurus harta anak yatim termasuk . (QS. Al-Aam : 152), dan memakan harta yatim termasuk dosa besar. (QS. An-Nisaa’ : 2, 10).
Orang islam dilarang mempermalukan anak yatim secara sewenang-wenang. (QS. Ad-Dhuha : 9), dan dilarang menghardik (QS. 107 : 2), Ibnu Katsir mengartikan fala taqhar sebagai “Janganlah engkau merendahkan dia, jangan membentak dia, jangan menghinakan mereka, tetapi berbuat baiklah kepdanya, dan sayangilah. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hal. 523).
Surah Al-Ma’un ayat 2 menyebutkan, bahwa orang yang menghardik anak yatim adalah pendusta agama.
Betapa masih banyaknya anak-anak yatim, anak terlantar, serta para fakir miskin, yang tidak terpelihara dan mendapatkan perhatian, bahkan mereka menjadi gelandangan pengemis, dan bahkan banyak diantara mereka pula, yang hidup dalam keadaan sangat menyedihkan.
Seharusnya kaum muslimin memberikan perhatian kepada mereka secara ikhlas dan hanya mengharapkan ridho dari Allah Azza Wa Jalla. Wallahu’alam.
MeMenteri Imigrasi: Larangan Cadar Bertentangan dengan Karakter Negara Inggris
Setelah larangan jilbab, larangan mengenakan cadar kini sedang menjadi isu Islam yang melanda benua Eropa. Perancis sudah menyatakan larangan mengenakan cadar, setelah sebelumnya memberlakukan larangan berjilbab bagi para muslimah di tempat-tempat umum dan institusi pendidikan.
Di negara tetangga Perancis, Inggris, boleh tidaknya mengenakan cadar masih menjadi kontroversi bahkan di kalangan pejabat pemerintahan negeri itu. Menteri Imigrasi Inggris, Damian Green, termasuk pejabat Inggris yang tidak setuju jika Inggris juga memberlakukan larangan perempuan, khususnya para muslimah, mengenakan cadar. Ia menyatakan, larangan semacam itu sama sekali tidak mencerminkan karakter negara Inggris yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.
"Mengatur orang soal apa yang boleh dan tidak boleh mereka kenakan saat mereka berjalan-jalan di luar rumah, adalah tindakan yang tidak sesuai karakter negara Inggris," kata Green pada Sunday Telegraph. "Kita sangat tidak menginginkan parlemen Inggris membuat aturan hukum yang mendikte apa yang harus dikenakan seseorang. Berbeda dengan Perancis, dimana cadar dinyatakan terlarang dikenakan di tempat-tempat umum, Inggris bukan negara sekuler yang agresif," tandas Green. Ia menambahkan, ada situasi-situasi khusus dimana seseorang yang mengenakan cadar boleh diminta untuk melepas cadarnya.
Di Inggris, wacana agar pemerintah Inggris juga mengeluarkan undang-undang yang melarang seseorang mengenakan cadar di tempat-tempat publik, digulirkan oleh anggota parlemen Philip Hollobone. Sebuah survei yang dilakukan di Inggris baru-baru ini menunjukkan dukungan yang luas dari respondennya atas usulan pelarangan cadar. Tapi Green menegaskan, kecil kemungkinan pemerintah Inggris akan menyetujui larangan cadar seperti yang diberlakukan negara Perancis
Di negara tetangga Perancis, Inggris, boleh tidaknya mengenakan cadar masih menjadi kontroversi bahkan di kalangan pejabat pemerintahan negeri itu. Menteri Imigrasi Inggris, Damian Green, termasuk pejabat Inggris yang tidak setuju jika Inggris juga memberlakukan larangan perempuan, khususnya para muslimah, mengenakan cadar. Ia menyatakan, larangan semacam itu sama sekali tidak mencerminkan karakter negara Inggris yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.
"Mengatur orang soal apa yang boleh dan tidak boleh mereka kenakan saat mereka berjalan-jalan di luar rumah, adalah tindakan yang tidak sesuai karakter negara Inggris," kata Green pada Sunday Telegraph. "Kita sangat tidak menginginkan parlemen Inggris membuat aturan hukum yang mendikte apa yang harus dikenakan seseorang. Berbeda dengan Perancis, dimana cadar dinyatakan terlarang dikenakan di tempat-tempat umum, Inggris bukan negara sekuler yang agresif," tandas Green. Ia menambahkan, ada situasi-situasi khusus dimana seseorang yang mengenakan cadar boleh diminta untuk melepas cadarnya.
Di Inggris, wacana agar pemerintah Inggris juga mengeluarkan undang-undang yang melarang seseorang mengenakan cadar di tempat-tempat publik, digulirkan oleh anggota parlemen Philip Hollobone. Sebuah survei yang dilakukan di Inggris baru-baru ini menunjukkan dukungan yang luas dari respondennya atas usulan pelarangan cadar. Tapi Green menegaskan, kecil kemungkinan pemerintah Inggris akan menyetujui larangan cadar seperti yang diberlakukan negara Perancis
Menteri Lingkungan Hidup Inggris: Cadar adalah Kemuliaan Kaum Perempuan
Menteri Lingkungan Hidup Inggris, Caroline Spelman menambah jajaran pejabat pemerintah Inggris yang tidak setuju dengan larangan mengenakan cadar bagi kaum perempuan, khususnya para muslimah.
Sebelumnya, Menteri Imigrasi Inggris Damian Green berkomentar bahwa larangan mengenakan cadar tidak selaras dengan karakter negara Inggris yang menjunjung sikap toleransi dan saling menghormati di kalangan masyarakatnya. Ia juga yakin dan tidak mengharapkan parlemen Inggris akan memberlakukan larangan mengenakan cadar seperti yang diberlakukan negara Perancis.
Sejalan dengan pernyataan Green, Menteri Lingkungan Hidup Inggris mengatakan bahwa perempuan yang mengenakan cadar adalah perempuan yang berdaya dan bermartabat. "Mengenakan cadar merupakan pilihan hidup mereka sendiri," kata Caroline di tengah pro kontra larangan cadar yang mulai mencuat di Inggris.
Dalam acara "Sunday Live" di stasiun televisi Sky News, Spelman mengatakan bahwa kaum perempuan berhak memutuskan apa yang ingin dikenakannya dan larangan mengenakan cadar "bukanlah ciri dari negeri ini." Ia juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Afghanistan, yang membuatnya memahami bahwa mengenakan cadar merupakan kemuliaan bagi kaum perempuan.
"Buat mereka, mengenakan cadar memberikan mereka kemuliaan. Itu pilihan mereka sendiri, memilih untuk keluar rumah dengan mengenakan burka (busana muslimah longgar yang menutupi seluruh tubuh dan dilengkapi dengan cadar). Saya memahami ada perbedaan dengan budaya di negara saya, tapi faktanya di Afghanistan kaum perempuan bebas untuk memilih ... apakah akan mengenakan burka atau tidak," tutur Spelman, salah satu menteri senior di kabinet pemerintah Inggris.
"Saya tidak mau, sebagai perempuan tinggal di negeri yang mengatur busana apa yang boleh dan tidak boleh saya kenakan. Salah satu hal yang kita banggakan di negeri ini, adalah kebebasan, diantaranya kebebasan untuk memiih apa yang akan Anda kenakan," tandas Spelman seperti dikutip Daily Telegraph.
"Jadi, melarang cadar sangat bertolak belakang dengan apa yang berlaku di negara ini," sambungnya.
Adalah Philip Hollobone, anggota parlemen Inggris dari kelompok Konservatif yang mengajukan draft undang-undang untuk membatasi setiap orang yang mengenakan penutup wajah di tempat-tempat umum. Hollobone mengatakan, ia akan menolak bertemu dengan muslimah yang mengenakan cadar, kecuali muslimah itu membuka cadarnya.
Sebelumnya, Menteri Imigrasi Inggris Damian Green berkomentar bahwa larangan mengenakan cadar tidak selaras dengan karakter negara Inggris yang menjunjung sikap toleransi dan saling menghormati di kalangan masyarakatnya. Ia juga yakin dan tidak mengharapkan parlemen Inggris akan memberlakukan larangan mengenakan cadar seperti yang diberlakukan negara Perancis.
Sejalan dengan pernyataan Green, Menteri Lingkungan Hidup Inggris mengatakan bahwa perempuan yang mengenakan cadar adalah perempuan yang berdaya dan bermartabat. "Mengenakan cadar merupakan pilihan hidup mereka sendiri," kata Caroline di tengah pro kontra larangan cadar yang mulai mencuat di Inggris.
Dalam acara "Sunday Live" di stasiun televisi Sky News, Spelman mengatakan bahwa kaum perempuan berhak memutuskan apa yang ingin dikenakannya dan larangan mengenakan cadar "bukanlah ciri dari negeri ini." Ia juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Afghanistan, yang membuatnya memahami bahwa mengenakan cadar merupakan kemuliaan bagi kaum perempuan.
"Buat mereka, mengenakan cadar memberikan mereka kemuliaan. Itu pilihan mereka sendiri, memilih untuk keluar rumah dengan mengenakan burka (busana muslimah longgar yang menutupi seluruh tubuh dan dilengkapi dengan cadar). Saya memahami ada perbedaan dengan budaya di negara saya, tapi faktanya di Afghanistan kaum perempuan bebas untuk memilih ... apakah akan mengenakan burka atau tidak," tutur Spelman, salah satu menteri senior di kabinet pemerintah Inggris.
"Saya tidak mau, sebagai perempuan tinggal di negeri yang mengatur busana apa yang boleh dan tidak boleh saya kenakan. Salah satu hal yang kita banggakan di negeri ini, adalah kebebasan, diantaranya kebebasan untuk memiih apa yang akan Anda kenakan," tandas Spelman seperti dikutip Daily Telegraph.
"Jadi, melarang cadar sangat bertolak belakang dengan apa yang berlaku di negara ini," sambungnya.
Adalah Philip Hollobone, anggota parlemen Inggris dari kelompok Konservatif yang mengajukan draft undang-undang untuk membatasi setiap orang yang mengenakan penutup wajah di tempat-tempat umum. Hollobone mengatakan, ia akan menolak bertemu dengan muslimah yang mengenakan cadar, kecuali muslimah itu membuka cadarnya.
Monday, July 19, 2010
Bulan dan Bintang Bisa Tentukan Arah Kiblat
Umat Islam bukan sahaja boleh menggunakan matahari sebagai panduan arah kiblat malah bintang dan bulan juga boleh digunakan untuk tujuan tersebut dengan syarat mereka mengetahui caranya.
Dalam gugusan bintang, terdapat satu buruj yang dikenali sebagai Orion berkedudukan tiga berderet dengan jelas menunjukkan arah kiblat.
Pensyarah Kanan Jabatan Fizik, Universiti Malaya, Prof Dr Mohd Zambri Zainuddin menjawab soalan ketika memberikan informasi tentang tatacara cerapan angkasa yang diadakan di Dataran Kemerdekaan dekat sini, malam semalam.
Dalam taklimat ringkas menggunakan alat audio visual itu, Prof Dr Zambri bercakap khusus tentang Penerokaan Cakerawala Melalui Sains Astronomi yang turut dihadiri Mufti Selangor, Datuk Seri Mohamad Tamyez Abdul Wahid.
Menurutnya, program itu diadakan sempena sambutan 10 Tahun Falak Selangor dan Konvensyen Falak Selangor 2010 dirasmikan Menteri Besar, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim, kelmarin.
Warga Shah Alam khususnya mengambil peluang itu untuk mencerap angkasa dengan menggunakan tujuh teleskop yang berbagai saiz namun hanya berpeluang sekitar satu jam awal sahaja kerana keadaan malam yang diselimuti awan tebal melindungi bulan dan planet lain.
Memulakan ucapannya, Dr Zambri membaca surah Al-An'am ayat 97 bererti “Dan Dialah (Allah) yang menjadikan bintang-bintang bagi kamu agar kamu berpedoman kepadanya dalam kegelapan malam di darat dan laut. Sesungguhnya Kami (Allah) telah jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami satu persatu bagi orang-orang yang mengetahui”.
Dalam pada itu, Dr Zambri juga menyatakan Falak Malaysia telah dapat mencipta satu rekod baru di mana berjaya merakam objek anak bulan Syaaban berusia 16 jam yang sebelum ini rekod 19 jam dipegang oleh warga Arab.
Sementara itu, ujarnya, astronomi memberi takrifan bintang ialah seunit jasad berjisim 0.08 hingga 200 kali jisim matahari yang dapat melakukan penghasilan tenaga melalui tindak balas nuklear secara lakuran (fussion reaction).
Menurut spektrumnya, bintang diklasifikasikan menjadi tujuh kelas utama yang mana ia turut menunjukkan suhu, warna dan komposisi kimia.
Bintang yang terdekat dengan bumi ialah matahari yang mana jarak puratanya 150 juta km (0.3 minit kelajuan cahaya) dan bintang terdekat dengan matahari pula ialah Proxima Centauri yang berjarak 35 X 10 kuasa 12 km (4 tahun cahaya).
Planet Marikh pula hampir sama dengan bumi di mana sistem masanya juga 24 jam 37 minit 22 saat namun suhu puratanya adalah 218K bersamaan -55 darjah celcius yang menyukarkan manusia hidup di sana.
Dr Zambri juga menyatakan terdapat sebuah Gunung Olympus di Marikh yang merupakan gunung tertinggi dalam sistem suria dengan ketinggian 24 km dan luas kawahnya pula 500 km sedangkan tinggi Gunung Everest di bumi hanya 8,848 meter.
Bercakap tentang Balai Cerap Astronomi di Unversiti Malaya, Dr Zambri berkata, UM merupakan satu-satunya universiti yang memiliki kemudahan astronomi dan fizik angkasa paling lengkap, terkini dan canggih di Malaysia.
Di dalam Kompleks Balai Cerap UM yang mula beroperasi pada 2005, terdapat Balai Cerap An-Najm untuk bintang dan Balai Cerap As-Syam untuk matahari.
Dalam gugusan bintang, terdapat satu buruj yang dikenali sebagai Orion berkedudukan tiga berderet dengan jelas menunjukkan arah kiblat.
Pensyarah Kanan Jabatan Fizik, Universiti Malaya, Prof Dr Mohd Zambri Zainuddin menjawab soalan ketika memberikan informasi tentang tatacara cerapan angkasa yang diadakan di Dataran Kemerdekaan dekat sini, malam semalam.
Dalam taklimat ringkas menggunakan alat audio visual itu, Prof Dr Zambri bercakap khusus tentang Penerokaan Cakerawala Melalui Sains Astronomi yang turut dihadiri Mufti Selangor, Datuk Seri Mohamad Tamyez Abdul Wahid.
Menurutnya, program itu diadakan sempena sambutan 10 Tahun Falak Selangor dan Konvensyen Falak Selangor 2010 dirasmikan Menteri Besar, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim, kelmarin.
Warga Shah Alam khususnya mengambil peluang itu untuk mencerap angkasa dengan menggunakan tujuh teleskop yang berbagai saiz namun hanya berpeluang sekitar satu jam awal sahaja kerana keadaan malam yang diselimuti awan tebal melindungi bulan dan planet lain.
Memulakan ucapannya, Dr Zambri membaca surah Al-An'am ayat 97 bererti “Dan Dialah (Allah) yang menjadikan bintang-bintang bagi kamu agar kamu berpedoman kepadanya dalam kegelapan malam di darat dan laut. Sesungguhnya Kami (Allah) telah jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami satu persatu bagi orang-orang yang mengetahui”.
Dalam pada itu, Dr Zambri juga menyatakan Falak Malaysia telah dapat mencipta satu rekod baru di mana berjaya merakam objek anak bulan Syaaban berusia 16 jam yang sebelum ini rekod 19 jam dipegang oleh warga Arab.
Sementara itu, ujarnya, astronomi memberi takrifan bintang ialah seunit jasad berjisim 0.08 hingga 200 kali jisim matahari yang dapat melakukan penghasilan tenaga melalui tindak balas nuklear secara lakuran (fussion reaction).
Menurut spektrumnya, bintang diklasifikasikan menjadi tujuh kelas utama yang mana ia turut menunjukkan suhu, warna dan komposisi kimia.
Bintang yang terdekat dengan bumi ialah matahari yang mana jarak puratanya 150 juta km (0.3 minit kelajuan cahaya) dan bintang terdekat dengan matahari pula ialah Proxima Centauri yang berjarak 35 X 10 kuasa 12 km (4 tahun cahaya).
Planet Marikh pula hampir sama dengan bumi di mana sistem masanya juga 24 jam 37 minit 22 saat namun suhu puratanya adalah 218K bersamaan -55 darjah celcius yang menyukarkan manusia hidup di sana.
Dr Zambri juga menyatakan terdapat sebuah Gunung Olympus di Marikh yang merupakan gunung tertinggi dalam sistem suria dengan ketinggian 24 km dan luas kawahnya pula 500 km sedangkan tinggi Gunung Everest di bumi hanya 8,848 meter.
Bercakap tentang Balai Cerap Astronomi di Unversiti Malaya, Dr Zambri berkata, UM merupakan satu-satunya universiti yang memiliki kemudahan astronomi dan fizik angkasa paling lengkap, terkini dan canggih di Malaysia.
Di dalam Kompleks Balai Cerap UM yang mula beroperasi pada 2005, terdapat Balai Cerap An-Najm untuk bintang dan Balai Cerap As-Syam untuk matahari.
Sunday, July 18, 2010
3 Milliar Dollar Setahun, Dari Amerika Untuk Israel
Seorang pejabat resmi pemerintahan Obama buka suara soal komitmen untuk mempertahankan program bantuan pertahanan Amerika yang berdurasi 10 tahun untuk Israel.
Andrew Shapiro, asisten sekretaris negara untuk urusan politik-militer, mengatakan dalam sebuah pidato pada hari Jumat kemarin bahwa pemerintah Obama sejak awal telah berkomitmen untuk menjaga kekuatan militer Israel atas negara-negara tetangganya.
"Teknologi membuat Israel lebih sulit untuk mempertahankan keamanannya," katanya pada Brookings Institution.
"Bahkan dengan periode anggaran yang sangat rawan, pemerintah (AS) akan tetap menghormati komitmen 10 tahun itu," tambahnya, merujuk pada perjanjian yang telah dikeluarkan oleh George W. Bush.
Dalam perjanjian itu Israel dijamin akan rata-rata mendapatkan bantuan senilai $ 3 miliar setiap tahunnya, selama sepuluh tahun mulai pada tahun 2007.
Shapiro menjelaskan manifestasi dari penguatan militer: bantuan AS kepada Israel; kerjasama erat dan konsultasi antara dua pertahanan masing-masing, dan perjanjian untuk tidak menjual bahan-bahan untuk tetangga israel yang bisa membahayakan Israel.
Andrew Shapiro, asisten sekretaris negara untuk urusan politik-militer, mengatakan dalam sebuah pidato pada hari Jumat kemarin bahwa pemerintah Obama sejak awal telah berkomitmen untuk menjaga kekuatan militer Israel atas negara-negara tetangganya.
"Teknologi membuat Israel lebih sulit untuk mempertahankan keamanannya," katanya pada Brookings Institution.
"Bahkan dengan periode anggaran yang sangat rawan, pemerintah (AS) akan tetap menghormati komitmen 10 tahun itu," tambahnya, merujuk pada perjanjian yang telah dikeluarkan oleh George W. Bush.
Dalam perjanjian itu Israel dijamin akan rata-rata mendapatkan bantuan senilai $ 3 miliar setiap tahunnya, selama sepuluh tahun mulai pada tahun 2007.
Shapiro menjelaskan manifestasi dari penguatan militer: bantuan AS kepada Israel; kerjasama erat dan konsultasi antara dua pertahanan masing-masing, dan perjanjian untuk tidak menjual bahan-bahan untuk tetangga israel yang bisa membahayakan Israel.
Tuesday, July 13, 2010
S.S Lai, Masuk Islam Setelah Mimpi Mendengar Suara Azan
Terlahir dari keluarga berlatarbelakang etnis Cina, S.S Lai tumbuh di tengah budaya yang melakukan penyembahan berhala dan memuja nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Sejak kecul ia sudah dididik untuk mempercayai banyak dewa-dewi dalam keyakinan agama Cina.
Setiap tahun, Lai selalu berharap dan antusias jika ayahnya mengajaknya ke kuil untuk melaksanakan peribadahan persembahan untuk para dewa-dewi. Sebagai anak-anak, kegembiraannya ketika itu bukan karena ia akan beribadah tapi karena setiap acara tahunan di kuil ia akan menikmati makanan yang banyak dan bervariasi.
Itulah sepenggal kenangan S.S Lai, seorang perempuan yang berasal dari etnis Cina yang tinggal di negeri muslim, Brunei Darussalam. Ia merasa bersyukur karena menghabiskan sebagian besar masa sekolahnya di sekolah yang mayoritas siswanya beragama Islam.
"Saya ingat, seorang teman pernah membawa buku komik bergambar tentang mereka yang dihukum di api neraka. Saya tidak begitu paham tentang apa itu neraka pada saat itu. Saya hanya tahu bahwa jangan pernah membuang sedikit pun permen atau keripik (makanan) atau kita akan dihukum di akhirat kelak," ujar Lai.
Ia paham, seorang muslim berpuasa pada bulan Ramadan dan dilarang makan daging babi. Ketika itu, Lai belum tertarik dengan Islam, meski banyak sahabatnya yang muslim. Tapi Lai mengakui, saat berusia 7 tahun, ia merasakan hal yang aneh bahwa suatu saat ia akan menjadi seorang muslim, seperti salah seorang pamannya.
"Namun saya tidak pernah bertanya pada siapa pun tentang Islam. Taku mereka ingin tahu, dan ini yang membuat saya takut dan malu," tutur Lai.
Perjalanan Lai menuju cahaya Islam bermula dari kebingungannya saat ia belajar geografi. Dirinya bertanya-tanya mengapa manusia bisa berdiri dan berjalan bumi dan tidak terlempar ke luar angkasa yang gelap. Pulang ke rumah, Lai menanyakan hal ini pada pamannya, namun sang paman malah menasehatinya agar jangan terlalu banyak bertanya "mengapa" pada semua hal. Sejak itu, Lai selalu menahan diri untuk tidak selalu menanyakan "mengapa" pada hal-hal yang menarik perhatiannya.
Tahun 1988, Lai mendapatkan beasiswa belajar ke Inggris. Sesuatu yang menjadi impiannya dan ia bekerja keras untuk bisa belajar ke luar negeri. "Saya menjadi orang yang berguna dan kaya, dan membuat kedua orang tua saya bangga. Satu-satunya yang saya tahu untuk mencapai ambisi saya itu adalah menjadi seorang dokter," ujar Lai.
Saat kuliah di Inggris, suatu malam Lai bermimpi mendengar suara azan dan ia berjalan menuju ke arah suara itu, lalu ia berdiri di sebuah pintu gerbang yang besar. Di pintu gerbang itu terlihat tulisan dalam bahasa Arab. Dalam mimpi itu, Lai merasakan kedamaian dan rasa aman. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang bercahaya dan di sana ia melihat sosok yang sedang salat.
"Saya sulit menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Keesokan harinya saya memaksakan diri untuk menanyakan tentang mimpi saya itu pada teman saya, seorang mahasiswi dari Malaysia. Dia bilang, itu adalah 'hadassah' dari Allah," Lai mengisahkan perihal mimpinya itu.
Pembicaraan tentang mimpi itu mendorong Lai untuk lebih banyak bertanya tentang agama Islam. Selama ini, banyak orang mengatakan pada Lai bahwa kaum Muslimin adalah orang-orang yang jahat dan selalu menindas penganut agama lain.
Saat berkesempatan pulang kampun ke Brunei, Lai mengatakan pada keluarganya bahwa ia ingin menenangkan diri selama setahun ini dan melepaskan diri dari segala ambisinya. Ia merasa ada sesuatu yang lebih penting dari semua yang telah ia kejar selama bertahun-tahun. Sudah bisa dipastikan, keluarganya menolak permintaan Lai, yang membuat Lai hanya bisa menangis siang dan malam.
"Saya menangis karena yang terdengar di telinga saya adalah gema suara azan, sampai seorang teman saya menganggap saya sudah gila, dan saya pun mulai berpikir demikian," ungkap Lai.
Ia lalu ingat sahabat masa sekolahnya dulu, seorang muslim yang taat. Darinyalah, Lai mulai belajar tentang bagaimana menjadi seorang muslim. Akhirnya, hari bersejarah itu pun tiba. Tanggal 5 Oktober 1991, Lai mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.
"Saya percaya bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci dan hanya orang tua merekalah yang menentukan kemana anak akan melangkah. Semoga Allah menuntun hati-hati mereka menuju Islam," doa Lai menutup ceritanya menjadi seorang muslim. (ln/isc)
Setiap tahun, Lai selalu berharap dan antusias jika ayahnya mengajaknya ke kuil untuk melaksanakan peribadahan persembahan untuk para dewa-dewi. Sebagai anak-anak, kegembiraannya ketika itu bukan karena ia akan beribadah tapi karena setiap acara tahunan di kuil ia akan menikmati makanan yang banyak dan bervariasi.
Itulah sepenggal kenangan S.S Lai, seorang perempuan yang berasal dari etnis Cina yang tinggal di negeri muslim, Brunei Darussalam. Ia merasa bersyukur karena menghabiskan sebagian besar masa sekolahnya di sekolah yang mayoritas siswanya beragama Islam.
"Saya ingat, seorang teman pernah membawa buku komik bergambar tentang mereka yang dihukum di api neraka. Saya tidak begitu paham tentang apa itu neraka pada saat itu. Saya hanya tahu bahwa jangan pernah membuang sedikit pun permen atau keripik (makanan) atau kita akan dihukum di akhirat kelak," ujar Lai.
Ia paham, seorang muslim berpuasa pada bulan Ramadan dan dilarang makan daging babi. Ketika itu, Lai belum tertarik dengan Islam, meski banyak sahabatnya yang muslim. Tapi Lai mengakui, saat berusia 7 tahun, ia merasakan hal yang aneh bahwa suatu saat ia akan menjadi seorang muslim, seperti salah seorang pamannya.
"Namun saya tidak pernah bertanya pada siapa pun tentang Islam. Taku mereka ingin tahu, dan ini yang membuat saya takut dan malu," tutur Lai.
Perjalanan Lai menuju cahaya Islam bermula dari kebingungannya saat ia belajar geografi. Dirinya bertanya-tanya mengapa manusia bisa berdiri dan berjalan bumi dan tidak terlempar ke luar angkasa yang gelap. Pulang ke rumah, Lai menanyakan hal ini pada pamannya, namun sang paman malah menasehatinya agar jangan terlalu banyak bertanya "mengapa" pada semua hal. Sejak itu, Lai selalu menahan diri untuk tidak selalu menanyakan "mengapa" pada hal-hal yang menarik perhatiannya.
Tahun 1988, Lai mendapatkan beasiswa belajar ke Inggris. Sesuatu yang menjadi impiannya dan ia bekerja keras untuk bisa belajar ke luar negeri. "Saya menjadi orang yang berguna dan kaya, dan membuat kedua orang tua saya bangga. Satu-satunya yang saya tahu untuk mencapai ambisi saya itu adalah menjadi seorang dokter," ujar Lai.
Saat kuliah di Inggris, suatu malam Lai bermimpi mendengar suara azan dan ia berjalan menuju ke arah suara itu, lalu ia berdiri di sebuah pintu gerbang yang besar. Di pintu gerbang itu terlihat tulisan dalam bahasa Arab. Dalam mimpi itu, Lai merasakan kedamaian dan rasa aman. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang bercahaya dan di sana ia melihat sosok yang sedang salat.
"Saya sulit menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Keesokan harinya saya memaksakan diri untuk menanyakan tentang mimpi saya itu pada teman saya, seorang mahasiswi dari Malaysia. Dia bilang, itu adalah 'hadassah' dari Allah," Lai mengisahkan perihal mimpinya itu.
Pembicaraan tentang mimpi itu mendorong Lai untuk lebih banyak bertanya tentang agama Islam. Selama ini, banyak orang mengatakan pada Lai bahwa kaum Muslimin adalah orang-orang yang jahat dan selalu menindas penganut agama lain.
Saat berkesempatan pulang kampun ke Brunei, Lai mengatakan pada keluarganya bahwa ia ingin menenangkan diri selama setahun ini dan melepaskan diri dari segala ambisinya. Ia merasa ada sesuatu yang lebih penting dari semua yang telah ia kejar selama bertahun-tahun. Sudah bisa dipastikan, keluarganya menolak permintaan Lai, yang membuat Lai hanya bisa menangis siang dan malam.
"Saya menangis karena yang terdengar di telinga saya adalah gema suara azan, sampai seorang teman saya menganggap saya sudah gila, dan saya pun mulai berpikir demikian," ungkap Lai.
Ia lalu ingat sahabat masa sekolahnya dulu, seorang muslim yang taat. Darinyalah, Lai mulai belajar tentang bagaimana menjadi seorang muslim. Akhirnya, hari bersejarah itu pun tiba. Tanggal 5 Oktober 1991, Lai mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.
"Saya percaya bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci dan hanya orang tua merekalah yang menentukan kemana anak akan melangkah. Semoga Allah menuntun hati-hati mereka menuju Islam," doa Lai menutup ceritanya menjadi seorang muslim. (ln/isc)
Tuesday, July 6, 2010
Mufti Malaysia Fatwakan ESQ Sesat
Sebuah fatwa dari Mufti wilayah persekutuan Malaysia telah menimbulkan kehebohan di beberapa milis Islam Indonesia. Karena apa? Karena fatwa yang Mufti Malaysia sampaikan tersebut akan sangat berimplikasi dengan sebuah lembaga training sumber daya manusia yang ada di Indonesia yang bernama ESQ.
ESQ yang berpusat di menara 165 jalan TB Simatupang Jakarta selatan dan digawangi oleh Ary Ginanjar Agustian, telah berhasil mentraining puluhan ribu orang dengan konsep keseimbangan antara Emosi, Spiritual dan intelektual.
Dari penjelasan tentang ESQ sendiri dijabarkan bahwa ESQ adalah pelatihan sumber daya manusia yang bertujuan untuk membentuk nilai moral dan karakter manusia, melalui penggabungan 3 potensi yang ada di manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
Selama ketiga potensi manusia tersebut terpisah dan tidak didayagunakan dengan baik dan maksimal maka menurut kajian ESQ manusia akan terjadi krisis moral dan split personality. Dan lebih buruk lagi manusia yang tidak dapat mendayagunakan ketiga potensi itu maka manusia tersebut akan kehilangan makna hidup serta jati dirinya. Begitu kutipan yang menjelaskan apa itu ESQ secara singkat.
Namun bagi mufti Malaysia ajaran yang dipopulerkan oleh Ary Ginanjar ini adalah ajaran sesat dan harus dihindari. Melalui kajian, akhirnya mereka memutuskan bahwa ajaran ESQ yang mengusung ide 7 Budi Utama dan bercita-cita akan menuju Indonesia Emas pada tahun 2020 ini, difatwakan sesat berdasarkan sebuah fatwa tertanggal 10 Juni 2010.
Dalam fatwanya Mufti wilayah persekutuan Malaysia menjelaskan alasan kesesatan ESQ Ary Ginanjar, berikut ringkasan fatwanya:
ESQ mendukung paham liberalisme yang menafsirkan nash-nash agama (al-quran dan sunnah) secara bebas.
ESQ menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian dan ini bertentangan dengan aqidah Islam tentang Nabi dan Rasul.
ESQ mencampuradukkan ajaran spritual bukan Islam dengan ajaran spiritual Islam.
ESQ menekankan konsep 'suara hati' sebagai rujukan utama dalam menentukan baik atau buruknya sebuah perbuatan.
ESQ menjadikan logika sebagai sumber rujukan utama.
ESQ mengingkari mukjizat karena dianggap tidak dapat diterima akal.
ESQ menyamakan bacaan Al-fatiha sebanyak 17 kali dalam shalat dengan ajaran Bushido Jepang yang berlatar belakang ajaran Buddha.
ESQ menafsirkan kalimat syahadat dengan "triple one".
Demikian ringkasan singkat fatwa Mufti wilayah persekutuan Malaysia yang ditandatangani oleh Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh yang merupakan mufti resmi wilayah persekutuan Malaysia.
Sebenarnya beberapa waktu lalu telah ada yang menuduh ESQ sesat di Indonesia. Pada sebuah sesi tanya jawab dalam sebuah acara dari salah satu radio di Bekasi, seorang ustadz yang mengisi acara tersebut ditanya oleh pendengar yang meminta tanggapan ustadz tersebut tentang training ESQ. Dengan sangat mengejutkan sang ustadz tersebut membeberkan kesesatan ESQ menurut yang ia pahami dan poin-poin yang ia anggap sesat itu agak mirip dengan apa yang difatwakan oleh mufti Malaysia ini.
Untuk mendonload fatwa lengkapnya bisa diklik alamat ini, http://www.muftiwp.gov.my/pmwp/profail_jabatan_files/fatwa_esq.pdf
Sampai berita ini diturunkan dari situs-situs ESQ belum ada tanggapan terkait fatwa Mufti Malaysia ini yang menyesatkan ajaran ESQ.(fq)
ESQ yang berpusat di menara 165 jalan TB Simatupang Jakarta selatan dan digawangi oleh Ary Ginanjar Agustian, telah berhasil mentraining puluhan ribu orang dengan konsep keseimbangan antara Emosi, Spiritual dan intelektual.
Dari penjelasan tentang ESQ sendiri dijabarkan bahwa ESQ adalah pelatihan sumber daya manusia yang bertujuan untuk membentuk nilai moral dan karakter manusia, melalui penggabungan 3 potensi yang ada di manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
Selama ketiga potensi manusia tersebut terpisah dan tidak didayagunakan dengan baik dan maksimal maka menurut kajian ESQ manusia akan terjadi krisis moral dan split personality. Dan lebih buruk lagi manusia yang tidak dapat mendayagunakan ketiga potensi itu maka manusia tersebut akan kehilangan makna hidup serta jati dirinya. Begitu kutipan yang menjelaskan apa itu ESQ secara singkat.
Namun bagi mufti Malaysia ajaran yang dipopulerkan oleh Ary Ginanjar ini adalah ajaran sesat dan harus dihindari. Melalui kajian, akhirnya mereka memutuskan bahwa ajaran ESQ yang mengusung ide 7 Budi Utama dan bercita-cita akan menuju Indonesia Emas pada tahun 2020 ini, difatwakan sesat berdasarkan sebuah fatwa tertanggal 10 Juni 2010.
Dalam fatwanya Mufti wilayah persekutuan Malaysia menjelaskan alasan kesesatan ESQ Ary Ginanjar, berikut ringkasan fatwanya:
ESQ mendukung paham liberalisme yang menafsirkan nash-nash agama (al-quran dan sunnah) secara bebas.
ESQ menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian dan ini bertentangan dengan aqidah Islam tentang Nabi dan Rasul.
ESQ mencampuradukkan ajaran spritual bukan Islam dengan ajaran spiritual Islam.
ESQ menekankan konsep 'suara hati' sebagai rujukan utama dalam menentukan baik atau buruknya sebuah perbuatan.
ESQ menjadikan logika sebagai sumber rujukan utama.
ESQ mengingkari mukjizat karena dianggap tidak dapat diterima akal.
ESQ menyamakan bacaan Al-fatiha sebanyak 17 kali dalam shalat dengan ajaran Bushido Jepang yang berlatar belakang ajaran Buddha.
ESQ menafsirkan kalimat syahadat dengan "triple one".
Demikian ringkasan singkat fatwa Mufti wilayah persekutuan Malaysia yang ditandatangani oleh Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh yang merupakan mufti resmi wilayah persekutuan Malaysia.
Sebenarnya beberapa waktu lalu telah ada yang menuduh ESQ sesat di Indonesia. Pada sebuah sesi tanya jawab dalam sebuah acara dari salah satu radio di Bekasi, seorang ustadz yang mengisi acara tersebut ditanya oleh pendengar yang meminta tanggapan ustadz tersebut tentang training ESQ. Dengan sangat mengejutkan sang ustadz tersebut membeberkan kesesatan ESQ menurut yang ia pahami dan poin-poin yang ia anggap sesat itu agak mirip dengan apa yang difatwakan oleh mufti Malaysia ini.
Untuk mendonload fatwa lengkapnya bisa diklik alamat ini, http://www.muftiwp.gov.my/pmwp/profail_jabatan_files/fatwa_esq.pdf
Sampai berita ini diturunkan dari situs-situs ESQ belum ada tanggapan terkait fatwa Mufti Malaysia ini yang menyesatkan ajaran ESQ.(fq)
Saturday, July 3, 2010
Piala Dunia: Antara Konspirasi dan Sportifitas Olahraga
Medio tahun 2010 ini jutaan pemirsa dan penggemar sepakbola di seluruh penjuru dunia akan dimanjakan dengan tayangan spesial kesayangan mereka yaitu Piala Dunia 2010 yang rencananya akan digelar di Afrika Selatan. Ajang pertandingan sepakbola paling bergengsi di dunia ini akan berlangsung dari tanggal 11 Juni hingga 11 Juli 2010 mendatang. Setiap negara akan menampilkan tim terbaik mereka dengan harapan dapat mengharumkan nama negara masing-masing.
Ajang Piala Dunia adalah ladang bisnis luar biasa besarnya dengan keuntungan yang juga luar biasa besar. Terlebih bagi negara tuan rumah, hajatan akbar ini akan menghasilkan devisa negara melimpah dari perusahaan-perusahaan sponsor tingkat dunia, pariwisata, layanan jasa transportasi dan lain-lain. Namun, di balik gemerlapnya lampu-lampu stadion dan riuh-rendahnya sorak-sorai penonton, ada sisi-sisi kelam Piala Dunia khususnya dan Dunia Perspakbolaan pada umumnya, yang tak kasat mata atau minimal tak disadari oleh khalayak pemirsa. Mulai dari kepentingan Zionisme-Yahudi dan hegemoninya di ranah kapitalisme global yang berselindung di balik sponsor, hingga infiltrasi ideologi Kabbalah-satanisme. Ideologi sesat pemuja kesesatan dan materialisme-hedonistis dengan berbagai derivasinya, secara perlahan dan halus merambati jalan fikiran jutaan pemirsa dan menghujani alam bawah sadar kita dengan simbol-simbol paganistis mereka.
Sebagian kaum muslimin, tentunya akan sejenak melupakan Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam, yang kini semakin merapuh di ambang kehancuran akibat ulah orang-orang Zionis-Yahudi. Sebagian kaum muslimin juga akan sejenak melupakan berbagai persoalan kronis yang menelikung bangsa ini, mulai dari kasus korupsi, gerakan aliran-aliran sesat yang terus diback-up mati-matian oleh kalangan sekuler-liberal dan lain-lain. Ada sebuah kekuatan besar yang mengarahkan mata, telinga, bahkan hati dan pikiran kita untuk terus mengikuti kemana si kulit bundar itu menggelinding, namun di saat yang sama, kita akan mengabaikan penderitaan kaum muslimin di belahan bumi lainnya atau bahkan di depan pintu rumah kita sendiri.
Sepakbola kini telah menjadi semacam “religion” (Hamid Fahmi Zarkasyi, Agama, www.hidayatullah.com, 11 Agustus 2008), pseudo-agama yang diam-diam menggusur iman kepada Allah dan menggantikannya dengan kesenangan yang adiktif belaka. Kesetiaan para pendukung fanatik tim sepakbola dan kecintaan kepada bintang lapangan yang menjadi idola, telah melahirkan personal disorder hingga tahap melukai diri sendiri ataupun orang lain. Ada sebersit kebahagiaan ketika tim pujaan memenangkan laga pertandingan, dan kecewa mendalam ketika mereka kalah di lapangan. Kebahagiaan dan kekecewaan yang mampu mengendalikan hasrat dan fikiran sang fanatik melebihi pengaruh keyakinan agama terhadap dirinya sendiri. Ini salah satu realita yang tersembunyi di balik warna-warni sepakbola dunia. Maka tidaklah berlebihan jika di sebuah jalan di Manchester, Inggris, sebuah papan iklan besar milik Manchester United menampilkan gambar seorang pemain dengan tulisan di bawahnya, It’s like religion.
Piala Dunia adalah saudara kembar arus globalisasi yang semakin membuat dunia kita menjadi kecil (small village). Dalam globalisasi, individu-individu dengan keunikan latar-belakang masing-masing seakan lebur dalam satu kesatuan yang berskala global. Mereka seakan tercerabut dari keaslian jatidirinya dan memilih untuk menjadi pribadi “yang lain” agar terterima dalam pergaulan dunia yang (katanya) lebih modern, humanis dan egaliter. Namun, tidak pula disadari bahwa internalisasi nilai-nilai “the other” (yang lain) secara intens, lambat laun namun pasti akan melahirkan pribadi-pribadi ambigu yang tak mampu bersikap kritis terhadap perubahan arus politik global maupun tantangan ideologis yang tak pernah henti menggerus pondasi aqidah seorang muslim.
Atas dasar pemikiran inilah, maka sebuah diskusi yang mengkaji event Piala Dunia 2010 menjadi penting, bukan saja untuk melahirkan kritisisme kita dalam menyikapinya, akan tetapi juga membentengi kemurnian aqidah dan ghirah Islamiyah dari infiltrasi ideologi satanis yang menyelusup diam-diam. Wallahu a’lam
Ajang Piala Dunia adalah ladang bisnis luar biasa besarnya dengan keuntungan yang juga luar biasa besar. Terlebih bagi negara tuan rumah, hajatan akbar ini akan menghasilkan devisa negara melimpah dari perusahaan-perusahaan sponsor tingkat dunia, pariwisata, layanan jasa transportasi dan lain-lain. Namun, di balik gemerlapnya lampu-lampu stadion dan riuh-rendahnya sorak-sorai penonton, ada sisi-sisi kelam Piala Dunia khususnya dan Dunia Perspakbolaan pada umumnya, yang tak kasat mata atau minimal tak disadari oleh khalayak pemirsa. Mulai dari kepentingan Zionisme-Yahudi dan hegemoninya di ranah kapitalisme global yang berselindung di balik sponsor, hingga infiltrasi ideologi Kabbalah-satanisme. Ideologi sesat pemuja kesesatan dan materialisme-hedonistis dengan berbagai derivasinya, secara perlahan dan halus merambati jalan fikiran jutaan pemirsa dan menghujani alam bawah sadar kita dengan simbol-simbol paganistis mereka.
Sebagian kaum muslimin, tentunya akan sejenak melupakan Masjidil Aqsha, kiblat pertama umat Islam, yang kini semakin merapuh di ambang kehancuran akibat ulah orang-orang Zionis-Yahudi. Sebagian kaum muslimin juga akan sejenak melupakan berbagai persoalan kronis yang menelikung bangsa ini, mulai dari kasus korupsi, gerakan aliran-aliran sesat yang terus diback-up mati-matian oleh kalangan sekuler-liberal dan lain-lain. Ada sebuah kekuatan besar yang mengarahkan mata, telinga, bahkan hati dan pikiran kita untuk terus mengikuti kemana si kulit bundar itu menggelinding, namun di saat yang sama, kita akan mengabaikan penderitaan kaum muslimin di belahan bumi lainnya atau bahkan di depan pintu rumah kita sendiri.
Sepakbola kini telah menjadi semacam “religion” (Hamid Fahmi Zarkasyi, Agama, www.hidayatullah.com, 11 Agustus 2008), pseudo-agama yang diam-diam menggusur iman kepada Allah dan menggantikannya dengan kesenangan yang adiktif belaka. Kesetiaan para pendukung fanatik tim sepakbola dan kecintaan kepada bintang lapangan yang menjadi idola, telah melahirkan personal disorder hingga tahap melukai diri sendiri ataupun orang lain. Ada sebersit kebahagiaan ketika tim pujaan memenangkan laga pertandingan, dan kecewa mendalam ketika mereka kalah di lapangan. Kebahagiaan dan kekecewaan yang mampu mengendalikan hasrat dan fikiran sang fanatik melebihi pengaruh keyakinan agama terhadap dirinya sendiri. Ini salah satu realita yang tersembunyi di balik warna-warni sepakbola dunia. Maka tidaklah berlebihan jika di sebuah jalan di Manchester, Inggris, sebuah papan iklan besar milik Manchester United menampilkan gambar seorang pemain dengan tulisan di bawahnya, It’s like religion.
Piala Dunia adalah saudara kembar arus globalisasi yang semakin membuat dunia kita menjadi kecil (small village). Dalam globalisasi, individu-individu dengan keunikan latar-belakang masing-masing seakan lebur dalam satu kesatuan yang berskala global. Mereka seakan tercerabut dari keaslian jatidirinya dan memilih untuk menjadi pribadi “yang lain” agar terterima dalam pergaulan dunia yang (katanya) lebih modern, humanis dan egaliter. Namun, tidak pula disadari bahwa internalisasi nilai-nilai “the other” (yang lain) secara intens, lambat laun namun pasti akan melahirkan pribadi-pribadi ambigu yang tak mampu bersikap kritis terhadap perubahan arus politik global maupun tantangan ideologis yang tak pernah henti menggerus pondasi aqidah seorang muslim.
Atas dasar pemikiran inilah, maka sebuah diskusi yang mengkaji event Piala Dunia 2010 menjadi penting, bukan saja untuk melahirkan kritisisme kita dalam menyikapinya, akan tetapi juga membentengi kemurnian aqidah dan ghirah Islamiyah dari infiltrasi ideologi satanis yang menyelusup diam-diam. Wallahu a’lam
Tuesday, May 18, 2010
Deep sea currents
In the Qur'an we read:
"Or as darkness on a vast, abysmal sea. There covers it a wave, above which is a wave, above which is a cloud. Layer upon layer of darkness."
The noble Qur'an, Al-Noor(24):40.
Mankind began to build submersibles in the seventeenth century. The first crude craft known to have ventured underwater was built by Cornelis Drebbel, court engineer to James I of England, and was demonstrated on the Thames river in 1620. From then onwards, development of submarines continued until the twentieth century, or 1954 to be exact, when the first nuclear submarine became a reality. With mankind's study of the sea came the realization that the waters lying underneath the surface waves were not the place of tranquil calmness they were previously envisioned to be. Rather, there were underwater currents called deep sea currents which could at times become such violent storms as to rearrange sediments in the ocean bottom. How did Muhammad (pbuh) know about these underwater currents centuries before mankind invented the tools necessary for underwater exploration?
"Say: It was sent down by He who knows the secrets in the heavens and the earth."
The noble Qur'an, Al-Furqaan(25):6.
It is worth mentioning here in connection with the above verse that some scientists have interpreted the "layer upon layer of darkness" to be the gradual separation of the light spectrum within the ocean, one color at a time until complete darkness is finally achieved. In other words, at one depth, the yellow bandwidth is suppressed and "yellow darkness" is achieved. At another depth, the red bandwidth is suppressed and "red darkness" is achieved, and so forth.
There are many other scientific statements made in the Qur'an which were only discovered to be scientifically accurate many centuries after Muhammad's death. Many of them have only been discovered in this century. They range over many fields of science including Anatomy, Chemistry, Astronomy, Geology, Hydrology, and many other disciplines which are only beginning to be addressed by scientists today.
For example, the Qur'an makes reference to the fact that a human's pain receptors are located in the skin (Al-Nissa(4):56). That the frontal lobes of the brain are responsible for lying and sin (Al-Alak(96):16). That mountains have below them roots that extend deep into the earth's surface (Al-Naba(78):7). That mountains pin the earth's crust and prevent it from moving (Al-Nahil(16):15). That there exists a physical barrier between bodies of fresh and salt water (Al-Rahman (55):20). There is also information regarding the formation of milk in cows (Al-Nahi(16):66). And on and on. So where was Muhammad (pbuh) getting all of these scientific facts if not from the Creator of mankind and the universe? Allah Almighty askes:
"Is this sorcery or is it that you do not see?"
The noble Qur'an, Al-Tur (52):15.
Prof. Keith Moore is not the only scholar who has been presented with such verses of the Qur'an. Many other scholars from all over the world have been presented with similar statements from the Qur'an in their field of expertise. Only a few of these people are:
1) Dr. E. Marshall Johnson, Professor and Chairman of the Department of Anatomy and Developmental Biology, and the Director of the Daniel Baugh Institute, Thomas Jefferson University, Philadelphia, USA. Author of over 200 publications. Former President of the Teratology Society among other accomplishments. After studying the verses of the Qur'an he came to the following conclusion:
"The Qur'an describes not only the development of external form but emphasizes also the internal stages - the stages inside the embryo of its creation and development, emphasizing major events recognized by contemporary science... If I was to transpose myself into that era, knowing what I do today and describing things, I could not describe the things that were described... I see no evidence to refute the concept that this individual Muhammad had to be developing this information from some place... so I see nothing in conflict with the concept that divine intervention was involved..."
2) Dr. Joe Leigh Simpson. Professor and Chairman of the Department of Obstetrics and Gynecology at Baylor Collage of Medicine, Houston, Texas. He is the President of the American Fertility Society, and has served in many other professional, national, and international organizations. He has received numerous awards including Association of Professors of Obstetrics and Gynecology Public Recognition Award in 1992. He has published more than 400 chapters and articles in journals and books. He says:
"... these Hadeeths (sayings of Muhammad) could not have been obtained on the basis of the scientific knowledge that was available at the time of the writer'... It follows that not only is there no conflict between genetics and religion (Islam) but in fact religion (Islam) may guide science by adding revelation to some of the traditional scientific approaches... There exist statements in the Qur'an shown centuries later to be valid which support knowledge in the Qur'an having been derived from God."
3) Dr. T.V.N. Persaud. Professor and Head of the Department of Anatomy, Professor of Pediatrics and Child Health, and Associate Professor of Obstetrics, Gynecology and Reproductive Sciences, University of Manitoba, Winnipeg, Manitoba, Canada. He is the author and editor of 25 books, has contributed 31 chapters to publications, and has published over 180 scientific papers. In 1991 he received the most distinguished award presented in the field of anatomy in Canada, the J.C.B. Grant Award from the Canadian Association of Anatomists. He says:
"Muhammad was a very ordinary man, he couldn't read, didn't know how to write, in fact he was an illiterate... were talking about 1400 years ago, you have some illiterate person making profound statements that are amazingly accurate, of a scientific nature... I personally can't see how this could be mere chance, there are too many accuracies and like Dr. Moore, I have no difficulty in my mind reconciling that this is a divine inspiration or revelation which lead him to these statements."
4) After a study which lasted ten years, the famous French physician Maurice Bucaille addressed the French Academy of Medicine in 1976 and expressed the complete agreement of the Qur'an and established findings of modern science. He presented his study on the existence in the Qur'an of certain statements concerning physiology and reproduction. His reason for doing that was that
"our knowledge of these disciplines is such, that it is impossible to explain how a text produced at the time of the Qur'an could have contained ideas that have only been discovered in modern times."
5) Dr. Tejatet Tejasen, Head of the Department of Anatomy, Faculty of Medicine, University of Chiang Mai, Thailand. After his study on the Qur'an passages dealing with embryology:
"From my studies and what I have learnt at this conference I believe that everything that has been recorded in the Qur'an 1400 years ago must be true. That can be proved the scientific way."
Others include:
6) Dr. Gerald C. Goeringer. Professor and Coordinator of Medical Embryology in the Department of Cell Biology in the Georgetown University school of Medicine. Washington, D.C. He has published numerous articles dealing mainly with the study of teratogenesis.
7) Dr. Alfred Kroner, Professor of Geology, Germany.
8) Dr. Yoshiodi Kozan, Director of the observatory of Tokyo, Japan.
9) Dr. William Hay, Professor of Oceanography, University of Colorado, Boulder, Colorado.
10) Dr. Pete Palmer, Professor of Geology, University of Colorado, Boulder, Colorado.
11) Dr. Sayawida, Professor of Marine Geology, Japan.
12) Dr. Armstrong, Professor of Astronomy, University of Kansas, Lawrence, Kansas.
13) Dr. Draga Persaud Rauw, Professor of Marine Geology, King Abdulaziz University, Jeddah, Saudi Arabia
14) Dr. Schroeder, Professor of Oceanography, Germany.
The response of these scholars when presented with verses of the Qur'an in their field of specialization, varied. One thing however was always constant. They all confirmed the accuracy of the scientific statements made in the Qur'an, and they all could not explain how Muhammad (pbuh) could have known with such accuracy the scientific claims to be found in the Qur'an so many centuries before mankind discovered them to be scientific truths.
Allah Almighty tells us in the Qur'an: "Allah did not create (all) that except in truth. He details the signs for people of knowledge." The noble Qur'an, Yunus(10):5
"And those who were given knowledge see that which was sent down upon you by your Lord is the truth and guides to the path of the 'Exalted' (in Might) the 'worthy of all praise'."
The noble Qur'an, Saba(34):6.
"Had We sent down this Qur'an upon a mountain, you would surely have seen it humbling itself and rending asunder for fear of Allah. Such are the parables We put forth for mankind that they may reflect."
The noble Qur'an, Al-Hashr(59):21
"Verily! this Qur'an guides to that which is most upright, and gives glad tidings to the believers who work deeds of righteousness that theirs will be a great reward"
The noble Qur'an, Al-Isra(17):9
"And We have indeed simplified [the comprehension of] this Qur'an for remembrance, so is there any that will remember [and be admonished]?"
The noble Qur'an, Al-Qamar(54):17
To obtain a more in-depth analysis of these matters including video tapes containing interviews with many of these pioneering Western scholars, contact one of the following (ask for the video tape titled "It is the Truth"):
1) Islamic Academy for Scientific Research.
8150 West 111 Street
Palos Hills, IL 60465
U.S.A.
Phone: (708) 974-9151
2) Islamic Society of North America (ISNA)
P.O. Box 38
Plainfield, Indiana, 46168
U.S.A.
Phone: (317) 839-8157
3) Academy for the Miracles of Science in the Qur'an and the Sunnah
P.O. Box 5736
Makkah Al-Mukarramah
Saudi Arabia
Phone: (2) 545-1519
Also look for the books:
"The Bible, the Qur'an and Science," by Dr. Maurice Bucaille
"The Qur'an and Modern Science," by Dr. Maurice Bucaille
"An Introduction to Understanding the Qur'an," by Syed Abdul A'ala Maudoodi
"The Sources of the Qur'an: A Critical Review of the Authorship Theories," by Hamza Mustafa Njozi
"Muhammad's Prophethood: An Analytical View," by Dr. Jamal Badawi
"Or as darkness on a vast, abysmal sea. There covers it a wave, above which is a wave, above which is a cloud. Layer upon layer of darkness."
The noble Qur'an, Al-Noor(24):40.
Mankind began to build submersibles in the seventeenth century. The first crude craft known to have ventured underwater was built by Cornelis Drebbel, court engineer to James I of England, and was demonstrated on the Thames river in 1620. From then onwards, development of submarines continued until the twentieth century, or 1954 to be exact, when the first nuclear submarine became a reality. With mankind's study of the sea came the realization that the waters lying underneath the surface waves were not the place of tranquil calmness they were previously envisioned to be. Rather, there were underwater currents called deep sea currents which could at times become such violent storms as to rearrange sediments in the ocean bottom. How did Muhammad (pbuh) know about these underwater currents centuries before mankind invented the tools necessary for underwater exploration?
"Say: It was sent down by He who knows the secrets in the heavens and the earth."
The noble Qur'an, Al-Furqaan(25):6.
It is worth mentioning here in connection with the above verse that some scientists have interpreted the "layer upon layer of darkness" to be the gradual separation of the light spectrum within the ocean, one color at a time until complete darkness is finally achieved. In other words, at one depth, the yellow bandwidth is suppressed and "yellow darkness" is achieved. At another depth, the red bandwidth is suppressed and "red darkness" is achieved, and so forth.
There are many other scientific statements made in the Qur'an which were only discovered to be scientifically accurate many centuries after Muhammad's death. Many of them have only been discovered in this century. They range over many fields of science including Anatomy, Chemistry, Astronomy, Geology, Hydrology, and many other disciplines which are only beginning to be addressed by scientists today.
For example, the Qur'an makes reference to the fact that a human's pain receptors are located in the skin (Al-Nissa(4):56). That the frontal lobes of the brain are responsible for lying and sin (Al-Alak(96):16). That mountains have below them roots that extend deep into the earth's surface (Al-Naba(78):7). That mountains pin the earth's crust and prevent it from moving (Al-Nahil(16):15). That there exists a physical barrier between bodies of fresh and salt water (Al-Rahman (55):20). There is also information regarding the formation of milk in cows (Al-Nahi(16):66). And on and on. So where was Muhammad (pbuh) getting all of these scientific facts if not from the Creator of mankind and the universe? Allah Almighty askes:
"Is this sorcery or is it that you do not see?"
The noble Qur'an, Al-Tur (52):15.
Prof. Keith Moore is not the only scholar who has been presented with such verses of the Qur'an. Many other scholars from all over the world have been presented with similar statements from the Qur'an in their field of expertise. Only a few of these people are:
1) Dr. E. Marshall Johnson, Professor and Chairman of the Department of Anatomy and Developmental Biology, and the Director of the Daniel Baugh Institute, Thomas Jefferson University, Philadelphia, USA. Author of over 200 publications. Former President of the Teratology Society among other accomplishments. After studying the verses of the Qur'an he came to the following conclusion:
"The Qur'an describes not only the development of external form but emphasizes also the internal stages - the stages inside the embryo of its creation and development, emphasizing major events recognized by contemporary science... If I was to transpose myself into that era, knowing what I do today and describing things, I could not describe the things that were described... I see no evidence to refute the concept that this individual Muhammad had to be developing this information from some place... so I see nothing in conflict with the concept that divine intervention was involved..."
2) Dr. Joe Leigh Simpson. Professor and Chairman of the Department of Obstetrics and Gynecology at Baylor Collage of Medicine, Houston, Texas. He is the President of the American Fertility Society, and has served in many other professional, national, and international organizations. He has received numerous awards including Association of Professors of Obstetrics and Gynecology Public Recognition Award in 1992. He has published more than 400 chapters and articles in journals and books. He says:
"... these Hadeeths (sayings of Muhammad) could not have been obtained on the basis of the scientific knowledge that was available at the time of the writer'... It follows that not only is there no conflict between genetics and religion (Islam) but in fact religion (Islam) may guide science by adding revelation to some of the traditional scientific approaches... There exist statements in the Qur'an shown centuries later to be valid which support knowledge in the Qur'an having been derived from God."
3) Dr. T.V.N. Persaud. Professor and Head of the Department of Anatomy, Professor of Pediatrics and Child Health, and Associate Professor of Obstetrics, Gynecology and Reproductive Sciences, University of Manitoba, Winnipeg, Manitoba, Canada. He is the author and editor of 25 books, has contributed 31 chapters to publications, and has published over 180 scientific papers. In 1991 he received the most distinguished award presented in the field of anatomy in Canada, the J.C.B. Grant Award from the Canadian Association of Anatomists. He says:
"Muhammad was a very ordinary man, he couldn't read, didn't know how to write, in fact he was an illiterate... were talking about 1400 years ago, you have some illiterate person making profound statements that are amazingly accurate, of a scientific nature... I personally can't see how this could be mere chance, there are too many accuracies and like Dr. Moore, I have no difficulty in my mind reconciling that this is a divine inspiration or revelation which lead him to these statements."
4) After a study which lasted ten years, the famous French physician Maurice Bucaille addressed the French Academy of Medicine in 1976 and expressed the complete agreement of the Qur'an and established findings of modern science. He presented his study on the existence in the Qur'an of certain statements concerning physiology and reproduction. His reason for doing that was that
"our knowledge of these disciplines is such, that it is impossible to explain how a text produced at the time of the Qur'an could have contained ideas that have only been discovered in modern times."
5) Dr. Tejatet Tejasen, Head of the Department of Anatomy, Faculty of Medicine, University of Chiang Mai, Thailand. After his study on the Qur'an passages dealing with embryology:
"From my studies and what I have learnt at this conference I believe that everything that has been recorded in the Qur'an 1400 years ago must be true. That can be proved the scientific way."
Others include:
6) Dr. Gerald C. Goeringer. Professor and Coordinator of Medical Embryology in the Department of Cell Biology in the Georgetown University school of Medicine. Washington, D.C. He has published numerous articles dealing mainly with the study of teratogenesis.
7) Dr. Alfred Kroner, Professor of Geology, Germany.
8) Dr. Yoshiodi Kozan, Director of the observatory of Tokyo, Japan.
9) Dr. William Hay, Professor of Oceanography, University of Colorado, Boulder, Colorado.
10) Dr. Pete Palmer, Professor of Geology, University of Colorado, Boulder, Colorado.
11) Dr. Sayawida, Professor of Marine Geology, Japan.
12) Dr. Armstrong, Professor of Astronomy, University of Kansas, Lawrence, Kansas.
13) Dr. Draga Persaud Rauw, Professor of Marine Geology, King Abdulaziz University, Jeddah, Saudi Arabia
14) Dr. Schroeder, Professor of Oceanography, Germany.
The response of these scholars when presented with verses of the Qur'an in their field of specialization, varied. One thing however was always constant. They all confirmed the accuracy of the scientific statements made in the Qur'an, and they all could not explain how Muhammad (pbuh) could have known with such accuracy the scientific claims to be found in the Qur'an so many centuries before mankind discovered them to be scientific truths.
Allah Almighty tells us in the Qur'an: "Allah did not create (all) that except in truth. He details the signs for people of knowledge." The noble Qur'an, Yunus(10):5
"And those who were given knowledge see that which was sent down upon you by your Lord is the truth and guides to the path of the 'Exalted' (in Might) the 'worthy of all praise'."
The noble Qur'an, Saba(34):6.
"Had We sent down this Qur'an upon a mountain, you would surely have seen it humbling itself and rending asunder for fear of Allah. Such are the parables We put forth for mankind that they may reflect."
The noble Qur'an, Al-Hashr(59):21
"Verily! this Qur'an guides to that which is most upright, and gives glad tidings to the believers who work deeds of righteousness that theirs will be a great reward"
The noble Qur'an, Al-Isra(17):9
"And We have indeed simplified [the comprehension of] this Qur'an for remembrance, so is there any that will remember [and be admonished]?"
The noble Qur'an, Al-Qamar(54):17
To obtain a more in-depth analysis of these matters including video tapes containing interviews with many of these pioneering Western scholars, contact one of the following (ask for the video tape titled "It is the Truth"):
1) Islamic Academy for Scientific Research.
8150 West 111 Street
Palos Hills, IL 60465
U.S.A.
Phone: (708) 974-9151
2) Islamic Society of North America (ISNA)
P.O. Box 38
Plainfield, Indiana, 46168
U.S.A.
Phone: (317) 839-8157
3) Academy for the Miracles of Science in the Qur'an and the Sunnah
P.O. Box 5736
Makkah Al-Mukarramah
Saudi Arabia
Phone: (2) 545-1519
Also look for the books:
"The Bible, the Qur'an and Science," by Dr. Maurice Bucaille
"The Qur'an and Modern Science," by Dr. Maurice Bucaille
"An Introduction to Understanding the Qur'an," by Syed Abdul A'ala Maudoodi
"The Sources of the Qur'an: A Critical Review of the Authorship Theories," by Hamza Mustafa Njozi
"Muhammad's Prophethood: An Analytical View," by Dr. Jamal Badawi
Water and Life
In the Qur'an we read:
"Do not the disbelievers see that the heavens and the earth were joined together then we split them asunder, and we created from water every living thing, do they not believe?"
The noble Qur'an, Al-Anbia(21):30.
"And Allah has created every trodding creature from water......"
The noble Qur'an, Al-Noor(24):45.
"It is He who created from water a human...."
The noble Qur'an, Al-Furqan(25):54.
Water is the most common substance on Earth, covering more than 70% of the planet's surface. All living things consist mostly of water; for example, the human body is about two-thirds water (when you cremate a human what happens to him? Why?). Scientist tell us that all forms of life known to humanity today require three basic conditions: Temperature, the existence of water, and the existence of an atmosphere.
All metabolisms require water to survive, so animals that exist in arid regions have body mechanisms that protect against water loss and make maximum use of water (camels for example). Dehydration in humans results from lack of food, drink, and from sweating, in addition to other factors. This loss eventually affects the proper functioning of the heart, central nervous system, and organs containing smooth muscle. Finally, intercellular water is lost, which upsets vital chemical processes in the cells. If water is not restored to the body, death will usually occur within a few days.
The blood of all living creatures is composed of 55 percent plasma, which in turn is composed of more than 90 percent water. Jan Baptista van Helmont, the first experimental physiologist, around 1640 AD concluded that water is the only soil component required for plant growth. We could go on and on. Again we find ourselves asking the question: How did Muhammad (pbuh) know that all living creatures are created from water centuries before mankind discovered this fact through scientific experimentation? Did he randomly select an element from the countless billions of possible choices? Why did he not claim that mankind was created from air, or from wood, or from light? Why water?
"Do not the disbelievers see that the heavens and the earth were joined together then we split them asunder, and we created from water every living thing, do they not believe?"
The noble Qur'an, Al-Anbia(21):30.
"And Allah has created every trodding creature from water......"
The noble Qur'an, Al-Noor(24):45.
"It is He who created from water a human...."
The noble Qur'an, Al-Furqan(25):54.
Water is the most common substance on Earth, covering more than 70% of the planet's surface. All living things consist mostly of water; for example, the human body is about two-thirds water (when you cremate a human what happens to him? Why?). Scientist tell us that all forms of life known to humanity today require three basic conditions: Temperature, the existence of water, and the existence of an atmosphere.
All metabolisms require water to survive, so animals that exist in arid regions have body mechanisms that protect against water loss and make maximum use of water (camels for example). Dehydration in humans results from lack of food, drink, and from sweating, in addition to other factors. This loss eventually affects the proper functioning of the heart, central nervous system, and organs containing smooth muscle. Finally, intercellular water is lost, which upsets vital chemical processes in the cells. If water is not restored to the body, death will usually occur within a few days.
The blood of all living creatures is composed of 55 percent plasma, which in turn is composed of more than 90 percent water. Jan Baptista van Helmont, the first experimental physiologist, around 1640 AD concluded that water is the only soil component required for plant growth. We could go on and on. Again we find ourselves asking the question: How did Muhammad (pbuh) know that all living creatures are created from water centuries before mankind discovered this fact through scientific experimentation? Did he randomly select an element from the countless billions of possible choices? Why did he not claim that mankind was created from air, or from wood, or from light? Why water?
The Universe
Another example of such scientifically accurate statements in the Qur'an can be found in the following analysis:
"And the firmament(sky) We constructed with power and skill and verily We are expanding it"
The noble Qur'an, Al-Thariyaat(51):47.
(Remember: "we" is the Arabic plural of respect, not the Christian plural of "Trinity," as seen in chapter 14).
"Do not the disbelievers see that the heavens and the earth were fused then We ripped them asunder, and We created from water every living thing, do they not believe?"
The noble Qur'an, Al-Anbia(21):30.
"Then He settled/equilibrated unto the firmament(sky) when it was smoke and said unto it and to the earth: come willingly or unwillingly. They said: we come willingly"
The noble Qur'an, Fussilat(41):11.
Allah Almighty has in these three concise verses answered questions that it has taken some of the greatest physicists and astronomers of history centuries to answer. It was only in this century that they finally found the truth.
Mankind has studied the heavens and the earth for countless centuries. The Greeks were some of the first people to attempt to describe various cosmological phenomena. They gave us many of the very first theories regarding the universe and it's composition. The major contribution came with the writings of Plato. Plato claimed that the universe was created by what he called "The Demiurge." According to Plato, the universe was the result of reasoning and planning, it was constructed by the Demiurge upon precise mathematical and geometrical principles. Later on, Aristotle, Plato's student, adopted his teacher's basic concept. Aristotelian cosmology was based on the concept of an enclosed cosmos comprising a series of concentric, spheres revolving around a stationary Earth. Motion was provided by the "prime mover" and, once initiated, would remain circular, uniform and eternal.
Both Plato and Aristotle taught that the universe was eternal, with neither beginning nor end. The universe as a whole was considered steady and unmoving, and this was the basis for the later formation of the "steady state theory." In 1915, Albert Einstein had published the famous general theory of relativity. Soon afterward he proposed a static model of the universe, but he would later declare that it was "one of the greatest mistakes of my career." Why?, Because in 1925, Edwin Hubble (after whom the Hubble Space telescope is named) provided the observational evidence for the expansion of the universe, or as Stephen Hawking put it "The universe is not static, as had previously been thought, it was expanding."
Although mankind did not discover these facts till this 20th Century, still, we find that Allah Almighty had provided the answers for mankind 1400 years ago in the Qur'an through the agency of His illiterate Prophet Muhammad (pbuh). During Muhammad's (pbuh) time, the Greeks were claiming that the cosmos was static and not expanding. So how did he know that the universe was expanding 1300 years before the foremost scientist of the West proved this to be a scientific fact?
However, this is not the only claim that the Qur'an makes with regard to the universe. Let us study the next two verses:
At the present time, the Big Bang theory of the origin of the universe is the cosmological model most widely accepted by astronomers. It holds that about 20,000,000,000 years ago the universe began with the explosive expansion of a single, extremely condensed state of matter ("the heavens and the earth were fused then we ripped them asunder"). As mentioned above, a further development of this model, known as "inflationary theory," describes the original condensed matter as arising from virtually empty space. It was only after the development of radio telescopes in 1937 AD that the necessary observational precision was achieved in order for astronomers to arrive at the above conclusion. Out of the observations of such scientists has arisen the so called "Hubble Constant" (Ho) which is quantity currently used to gauge the rate at which the universe is expanding. In other words, the issue is no longer whether the universe is expanding or not, rather, it is only a question of how fast it is expanding.
The second and third verses presented appear to claim that the heavens and the earth were once a single mass then were "ripped asunder," The exact root words used in the Qur'an are the words "ra-ta-qa" and "fa-ta-qa," or "the heavens and the earth were 'ra-ta-qa' then we 'fa-ta-qa' them"
"Ra-ta-qa" is an Arabic word which has the general meaning of "to fuse, to sew, to mend, to patch up, to repair." ("Lisan Al-Arab," by Ibn Mandoor, Vol. 10, Dar Al-Fikr, p. 114, and also "A Dictionary of Modern Written Arabic," Hans Wehr, Librairie du Liban, p. 325)
Similarly, "fa-ta-qa" has the general meaning of "To rip, to undo sewing, to unstitch, to tear apart, to rend, to rip open." ("Lisan Al-Arab," by Ibn Mandoor, Vol. 10, Dar Al-Fikr, p. 296, and also "A Dictionary of Modern Written Arabic," Hans Wehr, Librairie du Liban, p. 695)
The verse then goes on to say that Allah Almighty created the heavens and the earth from a celestial "smoke." Astronomers today have pictures of galaxies being formed by exactly this process, i.e. the condensation of spiraling celestial "mists." Isn't it an incredible coincidence that an illiterate man from the desert, without the aid of observatories or satellite imaging was making these claims over 1400 years ago?. Was he just guessing?
Further, the cosmic phenomenon depicted in the following two figures is commonly referred to by astronomists as a cosmic "mist." However, if we were to read the second verse of the Qur'an presented above we will find that the Qur'an more accurately refers to it as a "smoke." This is because "mist" implies a cool and tranquil spray of water. However, "smoke" implies a hot gas containing airborne particles. This is indeed another example of the literary miracle of the Qur'an in that it manages to convey to us in a very concise language a very accurate and detailed description of the topic at hand.
"And those who have been given knowledge know that that which has been revealed to you from your Lord is the Truth"
The noble Qur'an, Saba(34):6
"Do they not consider the Qur'an (with care) or are there locks upon their hearts?"
The noble Qur'an, Muhammad(47):24
"And the firmament(sky) We constructed with power and skill and verily We are expanding it"
The noble Qur'an, Al-Thariyaat(51):47.
(Remember: "we" is the Arabic plural of respect, not the Christian plural of "Trinity," as seen in chapter 14).
"Do not the disbelievers see that the heavens and the earth were fused then We ripped them asunder, and We created from water every living thing, do they not believe?"
The noble Qur'an, Al-Anbia(21):30.
"Then He settled/equilibrated unto the firmament(sky) when it was smoke and said unto it and to the earth: come willingly or unwillingly. They said: we come willingly"
The noble Qur'an, Fussilat(41):11.
Allah Almighty has in these three concise verses answered questions that it has taken some of the greatest physicists and astronomers of history centuries to answer. It was only in this century that they finally found the truth.
Mankind has studied the heavens and the earth for countless centuries. The Greeks were some of the first people to attempt to describe various cosmological phenomena. They gave us many of the very first theories regarding the universe and it's composition. The major contribution came with the writings of Plato. Plato claimed that the universe was created by what he called "The Demiurge." According to Plato, the universe was the result of reasoning and planning, it was constructed by the Demiurge upon precise mathematical and geometrical principles. Later on, Aristotle, Plato's student, adopted his teacher's basic concept. Aristotelian cosmology was based on the concept of an enclosed cosmos comprising a series of concentric, spheres revolving around a stationary Earth. Motion was provided by the "prime mover" and, once initiated, would remain circular, uniform and eternal.
Both Plato and Aristotle taught that the universe was eternal, with neither beginning nor end. The universe as a whole was considered steady and unmoving, and this was the basis for the later formation of the "steady state theory." In 1915, Albert Einstein had published the famous general theory of relativity. Soon afterward he proposed a static model of the universe, but he would later declare that it was "one of the greatest mistakes of my career." Why?, Because in 1925, Edwin Hubble (after whom the Hubble Space telescope is named) provided the observational evidence for the expansion of the universe, or as Stephen Hawking put it "The universe is not static, as had previously been thought, it was expanding."
Although mankind did not discover these facts till this 20th Century, still, we find that Allah Almighty had provided the answers for mankind 1400 years ago in the Qur'an through the agency of His illiterate Prophet Muhammad (pbuh). During Muhammad's (pbuh) time, the Greeks were claiming that the cosmos was static and not expanding. So how did he know that the universe was expanding 1300 years before the foremost scientist of the West proved this to be a scientific fact?
However, this is not the only claim that the Qur'an makes with regard to the universe. Let us study the next two verses:
At the present time, the Big Bang theory of the origin of the universe is the cosmological model most widely accepted by astronomers. It holds that about 20,000,000,000 years ago the universe began with the explosive expansion of a single, extremely condensed state of matter ("the heavens and the earth were fused then we ripped them asunder"). As mentioned above, a further development of this model, known as "inflationary theory," describes the original condensed matter as arising from virtually empty space. It was only after the development of radio telescopes in 1937 AD that the necessary observational precision was achieved in order for astronomers to arrive at the above conclusion. Out of the observations of such scientists has arisen the so called "Hubble Constant" (Ho) which is quantity currently used to gauge the rate at which the universe is expanding. In other words, the issue is no longer whether the universe is expanding or not, rather, it is only a question of how fast it is expanding.
The second and third verses presented appear to claim that the heavens and the earth were once a single mass then were "ripped asunder," The exact root words used in the Qur'an are the words "ra-ta-qa" and "fa-ta-qa," or "the heavens and the earth were 'ra-ta-qa' then we 'fa-ta-qa' them"
"Ra-ta-qa" is an Arabic word which has the general meaning of "to fuse, to sew, to mend, to patch up, to repair." ("Lisan Al-Arab," by Ibn Mandoor, Vol. 10, Dar Al-Fikr, p. 114, and also "A Dictionary of Modern Written Arabic," Hans Wehr, Librairie du Liban, p. 325)
Similarly, "fa-ta-qa" has the general meaning of "To rip, to undo sewing, to unstitch, to tear apart, to rend, to rip open." ("Lisan Al-Arab," by Ibn Mandoor, Vol. 10, Dar Al-Fikr, p. 296, and also "A Dictionary of Modern Written Arabic," Hans Wehr, Librairie du Liban, p. 695)
The verse then goes on to say that Allah Almighty created the heavens and the earth from a celestial "smoke." Astronomers today have pictures of galaxies being formed by exactly this process, i.e. the condensation of spiraling celestial "mists." Isn't it an incredible coincidence that an illiterate man from the desert, without the aid of observatories or satellite imaging was making these claims over 1400 years ago?. Was he just guessing?
Further, the cosmic phenomenon depicted in the following two figures is commonly referred to by astronomists as a cosmic "mist." However, if we were to read the second verse of the Qur'an presented above we will find that the Qur'an more accurately refers to it as a "smoke." This is because "mist" implies a cool and tranquil spray of water. However, "smoke" implies a hot gas containing airborne particles. This is indeed another example of the literary miracle of the Qur'an in that it manages to convey to us in a very concise language a very accurate and detailed description of the topic at hand.
"And those who have been given knowledge know that that which has been revealed to you from your Lord is the Truth"
The noble Qur'an, Saba(34):6
"Do they not consider the Qur'an (with care) or are there locks upon their hearts?"
The noble Qur'an, Muhammad(47):24
Subscribe to:
Posts (Atom)